Jakarta, NortonNews.com – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq terus mendorong percepatan perubahan sistem pengelolaan sampah nasional dengan memperkuat pendekatan berbasis sumber di daerah.
Ia menilai Kalimantan Selatan menjadi salah satu wilayah prioritas dalam upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terpadu dan berkelanjutan.
Hanif menegaskan bahwa penyelesaian masalah sampah harus dimulai dari hulu dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pemilahan dan pengurangan sampah.
Ia menilai pola lama seperti kumpul-angkut-buang sudah tidak efektif, sehingga pemilahan sejak dari rumah tangga menjadi kunci untuk mengurangi beban pengelolaan sampah secara signifikan.
Ia juga mengungkapkan bahwa di Kota Banjarbaru, timbulan sampah mencapai sekitar 184 ton per hari, namun baru sekitar 12 persen yang dapat terkelola. Kondisi ini menunjukkan perlunya percepatan pengelolaan berbasis sumber agar volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan.
Dilansir dari Liputan6.com – Sebagai langkah nyata, pemerintah mendorong penguatan gerakan berbasis masyarakat melalui program KILAU EMAS (Kelola dan Pilah Sampah untuk Banjarbaru Emas) yang menargetkan peningkatan pemilahan sampah secara masif di tingkat rumah tangga.
Hanif menyampaikan bahwa dengan jumlah lebih dari 90 ribu kepala keluarga, pendekatan berbasis rumah tangga menjadi kunci penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah.
Ia menjelaskan, jika pemilahan sampah dilakukan secara konsisten dari rumah, maka volume sampah yang tidak terkelola dapat ditekan secara signifikan dan berdampak langsung pada kualitas lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Hari Jadi ke-27 Kota Banjarbaru.
Selain penguatan di tingkat masyarakat, pemerintah juga terus meningkatkan kapasitas sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Upaya tersebut mencakup optimalisasi TPS3R dan bank sampah, perluasan layanan pengangkutan, serta penguatan peran sektor usaha seperti hotel, restoran, dan kafe (HOREKA). Sistem pemantauan dan evaluasi berbasis kinerja juga diperkuat untuk memastikan implementasi berjalan efektif di lapangan.
Hanif menilai Kalimantan Selatan memiliki potensi kolaborasi yang kuat dalam mendukung percepatan pengelolaan sampah, dengan melibatkan perangkat daerah, 595 ketua RT, ratusan penyuluh dan pendamping keluarga, serta perguruan tinggi melalui keterlibatan mahasiswa dalam program lingkungan hidup.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi dasar penting dalam membangun perubahan perilaku masyarakat yang lebih luas dan berkelanjutan.
Ia menegaskan perlunya keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga akademisi, untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif.
Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menargetkan peningkatan kinerja pengelolaan sampah melalui pengurangan dari sumber serta penguatan sistem pengolahan terpadu.
Hanif juga meyakini bahwa dengan konsistensi dan kerja sama yang kuat, transformasi pengelolaan sampah di Kalimantan Selatan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Selain itu, ia turut memimpin aksi bersih di Pasar Martapura sebagai bagian dari gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) untuk membangun budaya hidup bersih di masyarakat Kalimantan Selatan.

















































You must be logged in to post a comment Login