JAKARTA, NortonNews.com – Beauty influencer sekaligus pengusaha Tasya Farasya memilih mempertahankan rumah mewahnya meskipun bangunan tersebut mengalami keretakan di sejumlah bagian. Rumah yang pembangunannya berlangsung selama sekitar enam tahun itu kini harus menjalani pemeriksaan dan perbaikan setelah ditemukan sejumlah dugaan masalah pada struktur konstruksinya.
Dilansir dari CNN Indonesia – Tasya mengungkapkan bahwa biaya pembangunan rumah tersebut diperkirakan telah mencapai Rp50 miliar hingga Rp70 miliar. Besarnya dana yang sudah dikeluarkan menjadi salah satu alasan dirinya tidak ingin membongkar seluruh bangunan dan memulai pembangunan dari awal.
Pernyataan tersebut disampaikan Tasya melalui akun media sosial Threads ketika menanggapi saran warganet yang memintanya membangun kembali rumahnya. Ia menegaskan bahwa dirinya masih ingin memperbaiki bangunan yang ada karena menurutnya masih terdapat solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Keputusan Tasya menjadi perhatian publik karena rumah yang belum genap setahun ditempati itu justru mengalami kerusakan di sejumlah titik. Persoalan tersebut juga memunculkan pembahasan mengenai pentingnya pengawasan pembangunan, kesesuaian material, dan pemeriksaan struktur bangunan sebelum sebuah rumah digunakan.
Biaya Pembangunan Menjadi Pertimbangan
Tasya secara terbuka menyampaikan keberatannya terhadap saran untuk membangun rumah dari awal. Menurutnya, biaya yang sudah dikeluarkan untuk menyelesaikan hunian tersebut tidak sedikit dan telah mencapai puluhan miliar rupiah.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menyerah menghadapi persoalan yang sedang terjadi. Tasya masih memilih memperbaiki bagian rumah yang bermasalah dibandingkan mengambil keputusan untuk membongkar seluruh bangunan.
Sikap tersebut disampaikan melalui unggahan media sosial yang kemudian menjadi perhatian warganet. Pernyataan Tasya sekaligus memperlihatkan bahwa masalah yang dihadapinya bukan hanya berkaitan dengan kondisi fisik bangunan, tetapi juga besarnya biaya yang mungkin kembali dibutuhkan untuk menyelesaikan perbaikan.
Sebelumnya, kontraktor yang memeriksa rumah tersebut memperkirakan bahwa biaya perbaikan struktur saja dapat mencapai Rp5 miliar hingga Rp6 miliar. Nilai tersebut belum mencakup seluruh pekerjaan renovasi yang mungkin diperlukan setelah pemeriksaan teknis dilakukan.
Dengan demikian, biaya perbaikan yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah menjadi tantangan tersendiri bagi Tasya. Apalagi, perbaikan struktur tidak bisa dilakukan hanya dengan menutup retakan pada dinding. Kondisi bangunan perlu diperiksa terlebih dahulu untuk mengetahui penyebab kerusakan dan menentukan tindakan yang tepat.
Meski menghadapi persoalan tersebut, Tasya tetap menyatakan keyakinannya bahwa rumahnya masih bisa diperbaiki. Ia berharap penanganan yang dilakukan bersama kontraktor baru dapat memberikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan bangunan.
Keretakan Ditemukan di Sejumlah Bagian Rumah
Permasalahan rumah Tasya mulai menjadi sorotan setelah ia membagikan kondisi bangunannya melalui media sosial. Dalam unggahan tersebut, terlihat aktivitas pekerja yang melakukan pemeriksaan dan perbaikan pada sejumlah bagian rumah.
Tasya mengungkapkan bahwa keretakan muncul di berbagai titik. Kondisi tersebut membuat rumahnya harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pada bagian-bagian yang diduga mengalami masalah konstruksi.
Ia juga memperlihatkan proses pemeriksaan bersama kontraktor baru yang ditunjuk untuk mengevaluasi kondisi bangunan. Pemeriksaan itu dilakukan untuk mengumpulkan data lapangan dan menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi struktur yang sebenarnya.
Salah satu persoalan yang dibahas adalah dugaan ketidaksesuaian antara konstruksi yang terpasang dengan gambar teknis bangunan. Temuan tersebut menjadi perhatian karena perbedaan ukuran maupun pemasangan material dapat memengaruhi kualitas konstruksi.
Selain retakan pada dinding, terdapat pula persoalan di area kolam renang. Permukaan lantai di kawasan tersebut dilaporkan mengalami perubahan posisi sehingga perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.
Kondisi itu membuat proses perbaikan tidak dapat dilakukan secara sederhana. Tim kontraktor perlu menilai bagian-bagian yang terdampak dan memastikan apakah kerusakan hanya terjadi pada permukaan atau berkaitan dengan struktur yang lebih mendasar.
Pemeriksaan menyeluruh diperlukan agar perbaikan tidak hanya menyelesaikan gejala yang terlihat, tetapi juga menangani penyebab kerusakan. Jika penyebab utama tidak diketahui, keretakan berpotensi kembali muncul meskipun bagian yang rusak sudah diperbaiki.
Kontraktor Menemukan Dugaan Ketidaksesuaian Konstruksi
Wiryawan Chandra, Direktur Utama sekaligus pemilik PT Chandra Mitra Strukturindo, menjelaskan bahwa timnya sedang melakukan investigasi struktural terhadap rumah Tasya. Pemeriksaan tersebut mencakup pengumpulan data di lapangan dan kajian teknis yang nantinya digunakan sebagai dasar untuk merencanakan perbaikan.
Berdasarkan penjelasan yang disampaikan kepada detikProperti, tim menemukan sejumlah perbedaan antara kondisi konstruksi di lapangan dan gambar teknis akhir pembangunan. Perbedaan tersebut antara lain berkaitan dengan ukuran elemen tulangan yang diperiksa.
Dalam salah satu pemeriksaan, kontraktor menyebut terdapat perbedaan ukuran pada jarak tulangan dan diameter besi yang terpasang dibandingkan dengan ukuran dalam gambar teknis. Temuan seperti ini perlu dinilai secara profesional untuk mengetahui dampaknya terhadap kekuatan dan kondisi struktur bangunan.
Tim juga menemukan sisa kayu bekisting di beberapa titik. Bekisting merupakan cetakan sementara yang digunakan untuk menahan dan membentuk beton ketika proses pengecoran berlangsung. Setelah beton mengeras dan mampu mempertahankan bentuknya, bekisting umumnya dilepas sesuai metode pelaksanaan konstruksi.
Keberadaan kayu bekisting yang masih tertinggal menjadi salah satu temuan yang perlu ditangani dalam pemeriksaan rumah tersebut. Namun, dampaknya terhadap kondisi bangunan harus ditentukan melalui evaluasi teknis, bukan hanya berdasarkan keberadaan material tersebut.
Temuan lainnya berkaitan dengan mutu beton. Berdasarkan penjelasan kontraktor mengenai hasil pengujian, sejumlah titik menunjukkan nilai yang lebih rendah daripada mutu K-300 yang tercantum dalam dokumen teknis.
Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode pengujian tanpa merusak struktur atau non-destructive testing (NDT). Salah satu metode yang digunakan adalah pengujian pantulan untuk memperkirakan kekerasan permukaan beton. Hasil pengujian tersebut menjadi bagian dari data yang perlu dianalisis lebih lanjut dalam evaluasi struktur.
Perlu diketahui bahwa hasil pengujian lapangan harus ditafsirkan oleh tenaga ahli dengan mempertimbangkan metode pemeriksaan, kondisi beton, serta data teknis lainnya. Kesimpulan mengenai keamanan bangunan tidak dapat ditentukan hanya dari satu hasil pengujian.
Rumah Dibangun Selama Enam Tahun
Rumah mewah Tasya Farasya diketahui mulai dibangun sekitar 2020. Proses pengerjaannya berlangsung selama kurang lebih enam tahun hingga akhirnya dapat ditempati pada 2026.
Hunian tersebut memiliki empat lantai dengan desain interior yang memadukan gaya modern French dan modern. Rumah itu juga dilengkapi berbagai perabot yang dibuat berdasarkan pesanan serta fasilitas untuk menunjang aktivitas Tasya sebagai kreator konten.
Pembangunan rumah tersebut berlangsung ketika Tasya masih bersama mantan suaminya, Ahmad Assegaf. Setelah keduanya berpisah pada akhir 2025, pengerjaan rumah dilanjutkan hingga selesai beberapa bulan kemudian.
Namun, rumah yang baru ditempati selama sekitar tujuh bulan itu kemudian mengalami keretakan di berbagai bagian. Kondisi tersebut membuat Tasya harus menghadapi pekerjaan renovasi ketika hunian yang dibangun dalam waktu panjang itu seharusnya sudah dapat digunakan dengan nyaman.
Meski demikian, penyebab kerusakan dan tanggung jawab masing-masing pihak perlu ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan, dokumen pembangunan, serta proses penyelesaian yang relevan. Dugaan ketidaksesuaian konstruksi yang disampaikan kontraktor masih perlu dipahami sebagai temuan pemeriksaan, bukan kesimpulan hukum mengenai pihak yang bertanggung jawab.
Perbaikan Berpotensi Berlangsung Bertahap
Tasya juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa keretakan dapat kembali muncul di bagian lain setelah perbaikan dilakukan. Kemungkinan tersebut menjadi salah satu alasan pemeriksaan struktur perlu dilaksanakan secara menyeluruh.
Dalam pekerjaan renovasi, memperbaiki retakan yang terlihat belum tentu menyelesaikan persoalan jika penyebab utamanya masih ada. Karena itu, kontraktor perlu menentukan bagian yang harus diperbaiki, metode pengerjaan, dan kebutuhan pengawasan setelah pekerjaan selesai.
Biaya perbaikan struktur yang diperkirakan mencapai Rp5 miliar hingga Rp6 miliar juga menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut bukan renovasi ringan. Nilai itu baru merupakan perkiraan untuk bagian struktur dan belum menggambarkan keseluruhan biaya yang mungkin dibutuhkan.
Wiryawan menyatakan bahwa timnya sedang mengupayakan solusi berdasarkan hasil investigasi teknis. Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk menentukan tindakan yang sesuai dengan kondisi rumah.
Bagi Tasya, mempertahankan rumah yang telah dibangun dengan biaya besar menjadi pilihan yang ingin ia perjuangkan. Ia menyatakan masih memiliki harapan untuk memperbaiki hunian tersebut tanpa harus membongkarnya secara keseluruhan.
Pentingnya Pengawasan dalam Pembangunan Rumah
Kasus yang dialami Tasya Farasya kembali menyoroti pentingnya pengawasan kualitas dalam pembangunan rumah. Proses konstruksi tidak hanya berkaitan dengan desain dan tampilan bangunan, tetapi juga dengan kesesuaian material, pelaksanaan pekerjaan, serta pemeriksaan kualitas struktur.
Gambar teknis, spesifikasi material, dan hasil pengawasan perlu menjadi acuan selama pembangunan berlangsung. Jika ditemukan perbedaan antara perencanaan dan kondisi lapangan, persoalan tersebut harus dievaluasi agar tidak menimbulkan risiko pada masa mendatang.
Selain itu, pemilik bangunan perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai tahapan pekerjaan, penggunaan material, serta hasil pemeriksaan kualitas. Dokumentasi yang lengkap dapat membantu proses evaluasi apabila muncul masalah setelah bangunan selesai digunakan.
Dalam kasus Tasya, pemeriksaan yang dilakukan kontraktor baru diharapkan dapat mengidentifikasi penyebab kerusakan dan menghasilkan rencana perbaikan yang sesuai. Hasil akhir penanganan akan bergantung pada temuan teknis dan pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan.
Untuk saat ini, Tasya memilih tidak membangun ulang rumahnya dari awal. Ia tetap berupaya memperbaiki hunian tersebut meskipun biaya yang diperlukan diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Keputusan itu menjadi perkembangan terbaru dari persoalan rumah mewahnya yang sebelumnya dibangun selama enam tahun dan menelan biaya hingga puluhan miliar rupiah. Publik kini menantikan hasil pemeriksaan lanjutan serta proses perbaikan yang diharapkan dapat mengembalikan kondisi bangunan agar layak dan aman digunakan.























































You must be logged in to post a comment Login