NortonNews – Pihak Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh Besar memberikan penjelasan terkait meninggalnya seorang calon taruna, Muhammad Rasya Fadila (18), setelah mengikuti kegiatan orientasi kampus.
Direktur Poltekpel Malahayati, Andi Friadi, membantah adanya kekerasan dalam kegiatan orientasi yang diikuti Rasya. Ia juga menyatakan bahwa pihak kampus belum menemukan bukti yang menunjukkan bahwa memar atau lebam pada tubuh korban disebabkan oleh tindakan kekerasan.
“Tidak ada yang membuktikan bahwa memar-memar karena tindakan kekerasan. Kami pastikan tidak ada kekerasan di sekolah. Mungkin itu dampak dari adanya penyebab lain dari almarhum, tapi itu nanti Polresta yang bisa menjelaskan,” kata Andi kepada wartawan, Rabu (30/9/2026).
Menurut Andi, catatan dari tim medis Poltekpel Malahayati dan RSUD Zainoel Abidin menunjukkan adanya sejumlah kondisi medis yang masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya Rasya.
Pihak kampus menyatakan siap membantu proses penyelidikan yang dilakukan aparat kepolisian. Poltekpel Malahayati juga telah melakukan penelusuran internal dengan memeriksa dokumen serta rekaman yang berkaitan dengan kegiatan tersebut dan berkoordinasi dengan pihak rumah sakit.
“Kami selalu siap memberikan keterangan maupun data yang diperlukan apabila diminta oleh pihak kepolisian,” ujar Andi.
Dilansir dari cnnindonesia.com – Rasya diketahui merupakan calon taruna Program Studi Sistem Kelistrikan Kapal (SKK) yang diterima melalui jalur seleksi program mandiri tahun 2026. Ia mengikuti kegiatan orientasi pembentukan karakter yang berlangsung pada 4-14 September 2026.
Kegiatan tersebut mencakup pengenalan lingkungan kampus, kuliah umum yang menghadirkan sejumlah instansi pemerintah, serta latihan baris-berbaris. Sebanyak 251 calon taruna mengikuti rangkaian orientasi tersebut.
Andi menegaskan bahwa kegiatan orientasi di Poltekpel Malahayati tidak dirancang dalam bentuk kekerasan. Ia juga mengatakan interaksi antara senior dan junior dalam kegiatan rutin kampus ditiadakan sebagai upaya mencegah potensi perundungan.
Sementara itu, keluarga Rasya sebelumnya mengaku menemukan kondisi yang dianggap tidak biasa pada bagian wajah korban. Mereka menyebut adanya lebam atau bekas benturan yang kemudian menimbulkan dugaan bahwa Rasya mengalami kekerasan selama mengikuti kegiatan orientasi.
Keluarga juga mengaku telah berupaya meminta informasi kepada sejumlah rekan satu angkatan Rasya mengenai kondisi korban selama mengikuti kegiatan. Namun, mereka menyatakan belum memperoleh penjelasan terkait dugaan pemukulan tersebut.
Rasya meninggal dunia pada Minggu (27/9/2026). Hingga kini, Polresta Banda Aceh masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kematian serta memastikan ada atau tidaknya unsur kekerasan dalam kasus tersebut.















































You must be logged in to post a comment Login