JAKARTA, NortonNews.com – Pisang menjadi salah satu makanan yang hampir selalu ditemukan di pos penyegaran atau refreshment station dalam berbagai ajang lari jarak jauh. Buah ini kerap disediakan untuk peserta Half Marathon (HM) maupun Full Marathon (FM) karena mengandung karbohidrat, sejumlah mineral, dan vitamin yang dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi selama berlari.
Di lansir dari CNN Indonesia – Senin (26/10/2026), keberadaan pisang di area penyegaran bukan sekadar kebiasaan penyelenggara lomba. Buah ini memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya praktis dikonsumsi oleh pelari, terutama ketika tubuh membutuhkan tambahan energi setelah menempuh jarak yang cukup panjang.
Dalam perlombaan lari, peserta harus menjaga stamina agar mampu menyelesaikan rute sesuai kemampuan masing-masing. Aktivitas fisik dalam durasi panjang membuat tubuh menggunakan energi secara terus-menerus. Oleh karena itu, pemenuhan asupan karbohidrat dan cairan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh pelari.
Pisang dapat menjadi salah satu pilihan makanan untuk mendukung kebutuhan tersebut. Selain mudah dikonsumsi, buah ini tidak memerlukan proses pengolahan yang rumit sebelum disajikan. Karakteristik tersebut membuat pisang cocok disediakan dalam jumlah besar di sepanjang lintasan maupun di garis finis.
Karbohidrat Pisang Membantu Menjaga Energi Pelari
Salah satu alasan utama pisang sering tersedia di pos penyegaran adalah kandungan karbohidratnya. Zat gizi ini berperan sebagai sumber energi bagi tubuh, khususnya ketika seseorang melakukan aktivitas fisik dengan durasi panjang seperti lari maraton.
Mengacu pada Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) 2017, kandungan karbohidrat dalam pisang berkisar antara 22 hingga 33 gram per 100 gram, bergantung pada jenisnya. Jumlah tersebut menjadikan pisang sebagai salah satu sumber karbohidrat dari makanan utuh yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi.
Ketika berlari, tubuh menggunakan cadangan glikogen yang tersimpan di otot dan hati. Glikogen merupakan bentuk penyimpanan karbohidrat yang dapat digunakan sebagai sumber energi selama tubuh melakukan aktivitas.
Pada perlombaan dengan jarak jauh, cadangan energi dapat berkurang seiring meningkatnya durasi aktivitas. Karena itu, sebagian pelari memerlukan tambahan karbohidrat selama perlombaan agar dapat mempertahankan kemampuan berlari.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Critical Reviews in Food Science and Nutrition pada 2024 juga membahas manfaat konsumsi karbohidrat selama latihan ketahanan terhadap performa fisik. Pisang dapat menjadi salah satu alternatif asupan dalam strategi pemenuhan energi atau fueling yang direncanakan oleh pelari.
Meski demikian, kebutuhan karbohidrat setiap peserta tidak selalu sama. Pelari perlu menyesuaikan asupan dengan jarak tempuh, intensitas aktivitas, kondisi tubuh, serta kebiasaan makan yang sudah dicoba selama latihan.
Mengandung Kalium yang Mendukung Fungsi Otot
Selain karbohidrat, pisang dikenal sebagai buah yang mengandung kalium. Mineral ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh, membantu penghantaran impuls saraf, dan mendukung kontraksi otot.
Berdasarkan data TKPI 2017, kandungan kalium dalam pisang berada di kisaran 300 miligram per 100 gram. Asupan kalium menjadi salah satu bagian dari pemenuhan kebutuhan mineral tubuh, termasuk bagi orang yang aktif melakukan olahraga.
Saat berlari dalam waktu lama, tubuh mengeluarkan keringat. Banyaknya keringat yang keluar dapat berbeda-beda pada setiap orang, bergantung pada intensitas latihan, kondisi cuaca, suhu lingkungan, dan karakteristik tubuh.
Kondisi tersebut membuat pelari perlu memperhatikan asupan cairan dan elektrolit selama perlombaan. Kalium merupakan salah satu elektrolit yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi fisiologis.
Namun, konsumsi pisang saja tidak cukup untuk menggantikan seluruh cairan dan elektrolit yang hilang selama aktivitas fisik. Pelari tetap perlu mengatur asupan air dan, apabila diperlukan, minuman yang mengandung elektrolit sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Pisang juga tidak dapat menjamin seseorang terhindar dari kram otot. Kram saat berlari dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kelelahan otot dan intensitas aktivitas. Karena itu, pengaturan kecepatan, latihan yang memadai, dan strategi hidrasi tetap menjadi bagian penting dalam persiapan lomba.
Vitamin dan Mineral Melengkapi Kandungan Gizinya
Pisang tidak hanya menyediakan karbohidrat dan kalium. Buah ini juga mengandung sejumlah vitamin dan mineral yang membantu mendukung fungsi tubuh.
Menurut TKPI 2017, pisang mengandung vitamin C sekitar 9 miligram per 100 gram. Vitamin tersebut berperan sebagai antioksidan yang membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
Selain vitamin C, pisang mengandung vitamin B1, vitamin B2, serta niasin. Kelompok vitamin B memiliki peran dalam berbagai proses metabolisme zat gizi, termasuk proses yang membantu tubuh memperoleh energi dari makanan.
Pisang juga memiliki kandungan mineral lain, seperti fosfor, kalsium, magnesium, dan zat besi. Masing-masing mineral memiliki fungsi berbeda dalam tubuh. Kalsium dan fosfor, misalnya, berperan dalam menjaga kesehatan tulang, sedangkan magnesium terlibat dalam berbagai proses fisiologis, termasuk fungsi otot.
Kandungan zat gizi tersebut membuat pisang dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung aktivitas fisik. Meski begitu, kebutuhan nutrisi pelari tidak dapat dipenuhi hanya dengan mengandalkan satu jenis buah. Pola makan yang beragam dan seimbang tetap diperlukan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi serta zat gizi sehari-hari.
Praktis Dibagikan di Pos Penyegaran
Alasan lain pisang menjadi pilihan penyelenggara lomba adalah kemudahan dalam penyajian. Buah ini dapat disiapkan dalam jumlah besar, tidak membutuhkan proses memasak, dan bisa dikonsumsi dalam waktu singkat.
Kepraktisan tersebut penting dalam ajang lari yang melibatkan banyak peserta. Pos penyegaran biasanya ditempatkan di sejumlah titik sepanjang lintasan untuk menyediakan air minum, minuman olahraga, dan makanan bagi pelari.
Peserta yang sedang berlari tidak selalu memiliki banyak waktu untuk berhenti. Karena itu, makanan yang mudah diambil dan dikonsumsi dapat membantu mereka mengatur asupan tanpa harus menghabiskan waktu terlalu lama di pos penyegaran.
Kulit pisang juga berfungsi sebagai pelindung alami bagian dalam buah. Pisang dapat dikupas atau dipotong mendekati waktu penyajian sehingga bagian yang dikonsumsi tidak terlalu lama terpapar lingkungan.
Walaupun praktis, kebersihan tetap harus diperhatikan. Penyelenggara perlu memastikan pisang ditangani dengan cara yang higienis, disimpan dengan baik, dan disajikan menggunakan peralatan yang bersih. Hal tersebut penting untuk menjaga kualitas makanan yang dibagikan kepada peserta.
Selain itu, penyelenggara juga perlu menyediakan tempat sampah yang memadai. Kulit pisang yang dibuang sembarangan di lintasan dapat membuat permukaan jalan licin dan membahayakan peserta lain.
Pos Refreshment Membantu Pelari Mengatur Asupan
Dalam ajang lari jarak jauh, pos refreshment berfungsi sebagai tempat peserta memperoleh tambahan cairan dan, pada titik tertentu, makanan untuk mendukung kebutuhan selama perlombaan. Fasilitas tersebut dapat menyediakan air mineral, minuman olahraga, buah, serta sumber karbohidrat lainnya.
Ketersediaan makanan di sepanjang rute membantu pelari menerapkan strategi asupan yang telah direncanakan sebelum perlombaan. Strategi tersebut menjadi penting, terutama bagi peserta yang mengikuti kategori Half Marathon dan Full Marathon karena durasi aktivitasnya lebih panjang dibandingkan lari jarak pendek.
Pisang dapat menjadi salah satu pilihan sumber karbohidrat, tetapi tidak semua pelari harus mengonsumsi makanan yang sama. Sebagian peserta mungkin lebih nyaman dengan pisang, sementara yang lain memilih gel energi, minuman olahraga, atau sumber karbohidrat lain yang sesuai dengan kebutuhan dan toleransi tubuhnya.
Pelari juga disarankan mencoba makanan dan minuman yang akan digunakan saat perlombaan ketika menjalani latihan. Langkah tersebut membantu mereka mengetahui apakah makanan tertentu dapat dikonsumsi dengan nyaman saat berlari atau justru menimbulkan gangguan pencernaan.
Pemilihan makanan yang sesuai dapat membantu pelari menjalankan strategi asupan dengan lebih terencana. Namun, keberhasilan menyelesaikan lomba tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk persiapan latihan, pengaturan kecepatan, istirahat, kondisi kesehatan, serta pemenuhan cairan dan energi.
Konsumsi Pisang Perlu Disesuaikan dengan Kebutuhan
Meskipun mempunyai sejumlah keunggulan, pisang bukan makanan yang wajib dikonsumsi oleh seluruh peserta lomba lari. Setiap orang memiliki kebutuhan energi dan toleransi pencernaan yang berbeda. Karena itu, pilihan makanan selama perlombaan sebaiknya disesuaikan dengan kebiasaan dan kebutuhan masing-masing.
Bagi pelari pemula, penting untuk tidak mencoba strategi makan yang benar-benar baru pada hari perlombaan. Makanan yang terasa cocok ketika dikonsumsi sehari-hari belum tentu memberikan respons yang sama ketika tubuh sedang melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
Peserta juga perlu memahami bahwa makanan dan minuman memiliki fungsi berbeda. Pisang dapat membantu menyediakan karbohidrat, tetapi tidak menggantikan kebutuhan air. Sementara itu, kebutuhan elektrolit tambahan dapat bergantung pada durasi berlari, kondisi cuaca, dan jumlah keringat yang dikeluarkan.
Dengan mempertimbangkan hal tersebut, pisang tetap menjadi pilihan praktis untuk melengkapi makanan yang tersedia di pos penyegaran. Kandungan karbohidrat, kalium, vitamin, dan mineralnya memberikan manfaat sebagai bagian dari pola makan yang mendukung aktivitas fisik.
Kehadiran pisang dalam ajang lari pada akhirnya bukan hanya soal tradisi, melainkan juga berkaitan dengan kemudahan penyajian dan kandungan gizinya. Dengan strategi asupan yang sesuai, pemenuhan cairan yang cukup, serta persiapan latihan yang baik, pelari dapat mengelola kebutuhan tubuhnya selama menempuh jarak perlombaan.



















































You must be logged in to post a comment Login