Norton News, Jakarta — Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bambang Soesatyo menyoroti berbagai tantangan yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), tekanan ekonomi, persoalan pasar modal, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, berbagai persoalan tersebut perlu ditangani secara bertahap agar tidak menjadi beban bagi generasi penerus.
Dalam tulisan opini yang dimuat detikNews pada Minggu (18/10/2026), Bambang Soesatyo atau Bamsoet menilai tantangan bangsa ke depan akan semakin kompleks seiring perkembangan revolusi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Perubahan teknologi tersebut diperkirakan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk perekonomian, pertahanan, dan persatuan bangsa.
Di sektor ketenagakerjaan, Bamsoet mengutip data Kementerian Ketenagakerjaan yang mencatat 63.789 pekerja mengalami PHK sepanjang Januari hingga September 2026. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026 menunjukkan jumlah pengangguran mencapai 7,22 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen.
Tekanan ekonomi juga terlihat dari kondisi fiskal dan nilai tukar rupiah. Dalam tulisannya, Bamsoet menyebut defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga September 2026 mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Pada pekan kedua Oktober, rupiah juga bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Kepercayaan Investor dan Reformasi Pasar Modal
Bamsoet turut menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Ia menilai persoalan transparansi, birokrasi, dan praktik yang merugikan pasar dapat menghambat iklim investasi nasional.
Dalam opininya, ia mengaitkan tekanan di pasar modal dengan evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia. Ia menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat berada di bawah level 6.000 pada pekan kedua Oktober 2026, sementara penjualan bersih investor asing atau net sell mencapai Rp84,99 triliun hingga 9 Oktober 2026.
Bamsoet mendorong penegakan hukum yang transparan terhadap dugaan manipulasi harga saham dan praktik perdagangan terkoordinasi. Ia juga mengusulkan penguatan transparansi kepemilikan saham, pengetatan ketentuan saham beredar di publik (free float), serta pengembangan basis investor domestik.
Menurutnya, langkah-langkah tersebut diperlukan untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal dan mengurangi ketergantungan terhadap aliran dana asing.
Karhutla Jadi Tantangan Lingkungan
Selain persoalan ekonomi, Bamsoet menyoroti kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia sepanjang 2026. Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan ekosistem, tetapi juga gangguan kesehatan masyarakat akibat kabut asap yang disebut menjangkau Malaysia dan Singapura.
Ia menilai penanganan karhutla tidak cukup dilakukan ketika kebakaran telah meluas. Pemerintah perlu memperkuat upaya pencegahan, pengawasan pengelolaan lahan, serta penegakan aturan terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan.
Bamsoet juga menyoroti hubungan antara kondisi cuaca ekstrem, lahan gambut yang mengering, dan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan penanganan lintas sektor agar kebakaran serupa tidak terus berulang.
Pendidikan dan Kesiapan Generasi Penerus
Bamsoet menegaskan bahwa penyelesaian berbagai persoalan saat ini harus disertai persiapan menghadapi perubahan di masa mendatang. Perkembangan teknologi digital dan AI menuntut generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi, keterampilan yang relevan, serta daya saing yang memadai.
Karena itu, pembangunan sumber daya manusia perlu menjadi perhatian penting. Pemerintah dinilai perlu memperkuat pendidikan, pelatihan keterampilan, dan peningkatan kompetensi agar generasi penerus mampu menghadapi perubahan dunia kerja maupun perkembangan teknologi.
Gagasan utama yang disampaikan Bamsoet adalah perlunya menyelesaikan persoalan bangsa secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan mengurangi berbagai hambatan ekonomi, memperbaiki tata kelola, menjaga lingkungan, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.


















































You must be logged in to post a comment Login