Jakarta, NortonNews.com- Seperti remaja pada umumnya, Desty (34), seorang wanita asal Jakarta Selatan, dahulu juga mendambakan wajah yang glowing dan bebas dari jerawat. Saat masih kuliah pada tahun 2011, ia mengaku mengalami jerawat ringan seperti yang biasa dialami remaja dan merasa kurang percaya diri karenanya.
Kondisi tersebut membuatnya memutuskan untuk berkonsultasi ke salah satu klinik kecantikan terkenal di Malang. Namun, ia tidak menyangka bahwa langkah itu justru menjadi awal dari permasalahan yang lebih besar.
Desty menceritakan bahwa dokter saat itu meresepkan obat antibiotik untuknya, dengan dua lembar resep—satu untuk apotek dan satu lagi untuk dirinya.
Setelah kembali ke Bogor dan menyelesaikan kuliah, krim yang diberikan pun habis. Namun, ia justru mengalami munculnya jerawat yang semakin banyak sehingga membuatnya bingung dan khawatir dengan kondisi kulitnya.
Desty mengakui bahwa ia terjebak menggunakan krim berlabel biru tanpa resep dokter dari klinik yang sama tempat ia berkonsultasi di Malang. Meski harganya murah, ia kini menyadari dampak buruknya sangat besar. Krim tersebut hanya dibanderol di bawah Rp50 ribu per wadah, sehingga ia rutin membelinya dan menggunakannya terus-menerus tanpa berhenti.
Dilansir dari Detikcom- Ia baru menyadari belakangan bahwa krim itu mengandung steroid, meskipun sebelumnya sudah diperingatkan oleh apoteker. Namun, karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya sering bertemu banyak orang, ia merasa ragu untuk menghentikannya.
Ia khawatir jika berhenti, kondisi wajahnya akan semakin parah, sementara jika tetap dipakai, risikonya juga makin besar. Akhirnya, ia terus memakai krim tersebut selama sekitar 10 tahun, dari 2013 hingga 2023, sebelum memutuskan kembali menjalani perawatan ke dokter. Ia bahkan mengakui bahwa kondisi wajahnya sempat mengalami kerusakan parah, seperti yang terlihat di unggahannya di media sosial.
Tahun 2023 menjadi awal perubahan bagi Desty. Saat ia menghentikan penggunaan krim tersebut, kondisi wajahnya justru mulai menunjukkan dampak kerusakan seperti skin barrier yang menipis, kemerahan, dan munculnya jerawat. Ia menjelaskan bahwa efek steroid mulai terasa sekitar dua minggu setelah obat antibiotik dan antiradang yang dikonsumsinya habis.
Menurutnya, penggunaan steroid seharusnya dilakukan dengan metode tapering off, yakni menghentikan secara bertahap dengan mengurangi dosis sedikit demi sedikit hingga benar-benar berhenti. Namun, ia mengaku dokter tidak menyarankan cara tersebut dan langsung menghentikannya, kemudian mengganti dengan obat minum resep dokter.
Selama masa perawatan, ia rutin kontrol ke dokter setiap tiga bulan sambil tetap menggunakan obat dan krim resep baru. Dokter juga menyarankan agar ia menurunkan berat badan karena obesitas dapat memicu peradangan. Saat itu berat badannya sekitar 92 kg, sehingga ia diminta untuk menjalani program diet.
Pada tahun 2026, kondisi wajah Desty mulai membaik. Kemerahan dan jerawat berangsur mereda, meskipun kulitnya kini menjadi lebih sensitif dan mudah berjerawat jika terpapar debu, polusi, atau panas. Ia juga berpesan agar masyarakat tidak menggunakan krim berlabel biru dalam jangka panjang tanpa pengawasan dan konsultasi dokter secara rutin, karena kandungannya belum tentu diketahui secara pasti.
















































You must be logged in to post a comment Login