Jakarta,NortonNews – Aksi pembuangan sekitar 11.000 liter susu ke aliran sungai di India mendadak viral dan menuai sorotan tajam dari publik. Peristiwa ini diduga berkaitan dengan praktik persembahan dalam kegiatan keagamaan, namun justru memicu kritik karena dinilai berpotensi merusak lingkungan.
Kejadian tersebut kembali membuka perdebatan klasik antara pelestarian tradisi dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Di tengah meningkatnya kesadaran global akan isu keberlanjutan, praktik seperti ini dianggap perlu ditinjau ulang agar tidak menimbulkan dampak ekologis yang serius.
Sejumlah pemerhati lingkungan pun angkat bicara. Aktivis satwa liar, Ajay Dube, menekankan bahwa ritual keagamaan tetap dapat dilakukan tanpa harus merusak alam, misalnya dengan pendekatan simbolis yang lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, pakar lingkungan Subhash Pandey menjelaskan bahwa susu dalam jumlah besar termasuk polutan organik yang berbahaya bagi ekosistem perairan.
Ia mengungkapkan bahwa proses penguraian susu membutuhkan kadar oksigen tinggi di dalam air. Hal ini dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut secara drastis, yang berdampak pada kematian biota air. Selain itu, kondisi tersebut juga berpotensi memicu eutrofikasi—ledakan pertumbuhan alga yang dapat merusak keseimbangan ekosistem—serta menurunkan kualitas air hingga tidak layak digunakan.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa praktik budaya dan keagamaan perlu diselaraskan dengan kesadaran lingkungan modern. Tanpa penyesuaian, tradisi yang seharusnya bermakna justru bisa menimbulkan dampak jangka panjang bagi alam dan kehidupan manusia.























































You must be logged in to post a comment Login