JAKARTA, NortonNews.com – Sebanyak 20 keluarga masih memilih bertahan di kawasan Kampung Nanggar Al-Hikmah, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, meskipun permukiman tersebut terus menghadapi ancaman banjir. Kawasan yang dikenal masyarakat dengan sebutan Kampung Zombie itu kini semakin sepi setelah sejumlah warga meninggalkan rumah mereka akibat banjir yang berulang kali merendam permukiman.
Kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan terlihat dari banyaknya rumah kosong, bangunan rusak, serta sisa lumpur banjir yang masih tertinggal. Sebagian rumah bahkan mulai ditumbuhi semak liar karena sudah lama tidak ditempati. Meski demikian, masih ada warga yang bertahan karena tidak mempunyai pilihan tempat tinggal lain dan mengalami keterbatasan biaya untuk pindah ke lokasi yang lebih aman.
Di lansir dari pemberitaan Kompas.com – Rabu (4/11/2026), Kampung Nanggar Al-Hikmah berada di kawasan bantaran anak Kali Ciliwung. Letaknya membuat permukiman tersebut rentan terdampak peningkatan debit air, terutama ketika hujan deras terjadi di wilayah hulu. Banjir yang datang berulang kali membuat sebagian penghuni akhirnya memilih meninggalkan rumah mereka daripada terus menghadapi risiko kerusakan bangunan dan kehilangan barang-barang pribadi.
Sebagian Warga Memilih Meninggalkan Permukiman
Ketua RT 6/RW 7 Kampung Nanggar Al-Hikmah, Nurhidayat, menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat sekitar 43 kepala keluarga yang tinggal di lingkungan tersebut. Namun, sekitar 23 keluarga telah meninggalkan kawasan karena tidak lagi sanggup menghadapi banjir yang terus berulang. Dengan demikian, sekitar 20 keluarga masih bertahan di permukiman tersebut.
Keputusan meninggalkan rumah bukan perkara mudah bagi warga. Sebagian dari mereka harus mempertimbangkan kepemilikan rumah, kondisi ekonomi, serta kebutuhan keluarga sebelum memutuskan pindah. Namun, ancaman banjir yang terus datang membuat banyak penghuni merasa tidak memiliki pilihan selain mencari tempat tinggal lain.
Di sisi lain, warga yang masih bertahan menghadapi persoalan berbeda. Mereka sebenarnya ingin tinggal di lingkungan yang lebih aman, tetapi biaya untuk menyewa rumah di kawasan lain menjadi hambatan. Harga kontrakan yang harus dibayarkan secara rutin dinilai tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi sebagian keluarga.
Nurhidayat menyampaikan bahwa sebagian warga memilih tetap tinggal karena biaya tempat tinggal di luar kawasan tersebut cukup tinggi. Kondisi itu membuat mereka harus bertahan meskipun mengetahui lingkungan tempat tinggalnya memiliki risiko banjir.
Selain masalah biaya, sejumlah rumah di kawasan tersebut merupakan aset milik pribadi. Kondisi lingkungan yang rawan banjir juga membuat bangunan sulit dijual maupun disewakan. Akibatnya, pemilik rumah menghadapi dilema karena ingin meninggalkan kawasan tersebut, tetapi tidak mudah mendapatkan pembeli atau penyewa.
Rumah Terendam hingga Bagian Atap
Ancaman banjir di Kampung Nanggar Al-Hikmah bukan persoalan baru. Warga telah mengalami kejadian serupa selama bertahun-tahun. Dalam sejumlah peristiwa, ketinggian air bahkan dapat mencapai bagian atap rumah sehingga bangunan hampir seluruhnya tertutup genangan.
Esin, warga RT 6 berusia 53 tahun, menceritakan bahwa kondisi banjir yang dialami warga sekarang semakin berat dibandingkan masa sebelumnya. Dahulu, air biasanya tidak sampai masuk ke dalam rumah. Namun, dalam beberapa kejadian terakhir, genangan dapat mencapai bagian atas bangunan.
Ia mengingat beberapa kejadian banjir besar yang pernah melanda kawasan tersebut, termasuk pada 2007, 2012, dan 2015. Saat banjir besar terjadi, rumah warga dapat terendam hampir seluruhnya. Kondisi tersebut membuat penghuni harus mencari tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri dan menghindari risiko yang lebih besar.
Ketika air mulai naik, sebagian warga mengungsi ke rumah tetangga yang berada di lokasi lebih tinggi. Pengungsian tersebut tidak selalu berlangsung singkat. Esin mengatakan bahwa warga yang rumahnya terendam terkadang harus tinggal sementara di tempat lain selama satu hingga dua bulan sampai kondisi kembali memungkinkan untuk ditempati.
Setelah banjir surut, warga masih harus membersihkan lumpur dan sampah yang masuk ke dalam rumah. Pekerjaan tersebut membutuhkan waktu dan tenaga, sementara kerusakan pada perabot serta barang-barang rumah tangga menambah beban pengeluaran keluarga.
Banjir juga berdampak terhadap dokumen penting milik warga. Esin mengaku pernah kehilangan sejumlah dokumen, termasuk surat tanah, akibat kejadian banjir yang berulang. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak hanya berupa kerusakan bangunan, tetapi juga kehilangan dokumen yang berkaitan dengan kepemilikan aset dan administrasi keluarga.
Keterbatasan Penghasilan Membuat Warga Sulit Pindah
Persoalan ekonomi turut menjadi alasan utama sebagian warga bertahan di kawasan tersebut. Alit, warga RT 6 berusia 63 tahun yang telah tinggal di lingkungan itu selama kurang lebih 45 tahun, mengaku sebenarnya ingin pindah. Namun, keinginannya belum dapat diwujudkan karena penghasilannya tidak mencukupi untuk membayar biaya kontrakan di tempat lain.
Rumah Alit berada di bagian permukiman yang lebih rendah sehingga kerap terendam banjir. Ia mengatakan bahwa air bahkan dapat menenggelamkan seluruh bangunan. Meski menyadari risiko tersebut, dirinya dan keluarga masih berusaha bertahan karena belum memiliki kemampuan finansial untuk mencari tempat tinggal baru.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Alit mengumpulkan sampah plastik sejak pagi hingga malam. Sampah yang berhasil dikumpulkan kemudian dijual untuk memperoleh uang. Penghasilannya tidak menentu dan berkisar antara Rp30.000 hingga Rp50.000 dalam sehari.
Uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga bersama istri dan empat anaknya yang masih tinggal dalam satu rumah. Alit mengakui pendapatan dari pekerjaan tersebut belum mencukupi seluruh kebutuhan keluarga. Namun, pekerjaan itu tetap dijalani karena menjadi salah satu sumber penghasilan yang bisa diandalkan.
Kondisi tersebut menggambarkan persoalan yang dihadapi keluarga berpenghasilan terbatas ketika tinggal di kawasan rawan bencana. Keinginan untuk pindah ke tempat yang lebih aman tidak selalu dapat diwujudkan apabila tidak tersedia biaya untuk menyewa atau membeli rumah baru.
Saluran Air dan Sampah Kiriman Menjadi Perhatian
Selain persoalan banjir, kondisi saluran air di sekitar Kampung Nanggar Al-Hikmah juga menjadi keluhan warga. Dasta, warga RT 6 berusia 70 tahun yang tinggal di bagian permukiman lebih tinggi, mengatakan bahwa banjir dapat datang meskipun wilayah tersebut tidak sedang diguyur hujan. Air kiriman dari daerah lain di bagian hulu dapat menyebabkan peningkatan ketinggian air di kawasan tempat tinggal mereka.
Menurut Dasta, kondisi saluran yang dipenuhi sampah dan lumpur perlu mendapat perhatian. Tumpukan sampah dapat menghambat aliran air sehingga memperburuk kondisi ketika debit meningkat. Ia berharap pemerintah dapat melakukan pengerukan saluran yang mulai dangkal serta memasang penyaring sampah agar material dari wilayah hulu tidak terus terbawa ke kawasan permukiman.
Penanganan saluran air dinilai menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko banjir. Perbaikan tidak hanya dibutuhkan di sekitar rumah warga, tetapi juga pada jalur aliran air yang terhubung dengan kawasan lain.
Warga berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi lingkungan secara menyeluruh. Menurut mereka, penanganan tidak cukup hanya dilakukan setelah banjir terjadi. Perbaikan saluran, pengelolaan sampah, dan upaya mengurangi risiko luapan air perlu menjadi bagian dari penanganan jangka panjang.
Warga Berharap Ada Kepastian Penataan dan Relokasi
Di tengah kondisi yang semakin sulit, warga berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang lebih jelas mengenai masa depan Kampung Nanggar Al-Hikmah. Salah satu harapan yang disampaikan adalah adanya penataan kawasan, pembebasan lahan, atau program relokasi bagi warga yang tinggal di wilayah rawan banjir.
Nurhidayat menyebutkan bahwa pembebasan lahan dan relokasi menjadi salah satu pilihan yang diharapkan dapat membantu warga memperoleh tempat tinggal lebih aman. Namun, proses tersebut tidak sederhana karena rumah yang ditempati sebagian warga merupakan aset pribadi. Selain itu, terdapat penghuni yang masih memiliki ikatan emosional dengan rumah dan lingkungan tempat mereka tinggal selama bertahun-tahun.
Warga juga membutuhkan kepastian mengenai rencana penanganan kawasan agar dapat menentukan langkah untuk masa depan keluarga. Tanpa kejelasan, mereka harus terus menghadapi ketidakpastian setiap kali debit air meningkat.
Kondisi Kampung Zombie memperlihatkan bahwa persoalan banjir perkotaan tidak hanya berkaitan dengan curah hujan dan kondisi sungai. Faktor ekonomi, kepemilikan rumah, kualitas lingkungan, serta ketersediaan tempat tinggal alternatif turut memengaruhi kemampuan masyarakat untuk menghadapi risiko bencana.
Bagi keluarga yang masih bertahan, meninggalkan rumah bukan keputusan yang dapat diambil begitu saja. Mereka harus memikirkan biaya hidup, pekerjaan, pendidikan anak, dan kemampuan untuk mendapatkan tempat tinggal baru. Karena itu, solusi penanganan kawasan perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi warga, bukan hanya aspek pembangunan fisik.
Hingga Rabu (4/11/2026), sekitar 20 keluarga masih bertahan di Kampung Nanggar Al-Hikmah di tengah ancaman banjir yang berulang. Warga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi permukiman, memperbaiki saluran air, serta menghadirkan kepastian mengenai penataan atau relokasi.
Keberadaan warga yang masih bertahan menjadi gambaran bahwa persoalan banjir dan keterbatasan ekonomi dapat saling berkaitan. Penanganan yang menyeluruh diperlukan agar masyarakat tidak terus berada dalam situasi sulit antara mempertahankan tempat tinggal dan menghadapi ancaman bencana yang dapat datang sewaktu-waktu.





















































You must be logged in to post a comment Login