Connect with us

Hi, what are you looking for?

Nasional

Kericuhan Aksi Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo, 33 Orang Dilaporkan Mengalami Luka

Kericuhan Aksi Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo, 33 Orang Dilaporkan Mengalami Luka

JAKARTA, NortonNews.com – Kericuhan terjadi di kawasan Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Selasa (3/11/2026) malam. Aksi penolakan terhadap konser penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, berujung pada insiden pelemparan batu dan kayu ke arah petugas keamanan. Peristiwa tersebut menyebabkan 33 orang mengalami luka, yang terdiri atas personel TNI, Polri, serta masyarakat umum.

Insiden berlangsung di tengah penyelenggaraan konser Andrea Bocelli bertajuk Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia. Pada waktu yang hampir bersamaan, sejumlah kelompok masyarakat menggelar aksi penyampaian pendapat untuk meminta agar pertunjukan tersebut dibatalkan. Perbedaan kepentingan antara penyelenggara acara dan kelompok penolak konser membuat pengamanan di sekitar lokasi menjadi perhatian utama aparat.

Di lansir dari pemberitaan Kompas.com – Rabu (4/11/2026), Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menjelaskan bahwa terdapat dua kegiatan masyarakat yang berlangsung di kawasan JIExpo pada waktu berdekatan. Kegiatan pertama adalah konser Andrea Bocelli, sedangkan kegiatan lainnya berupa aksi penyampaian aspirasi dari kelompok masyarakat yang menolak penyelenggaraan pertunjukan tersebut.

Menurut keterangan kepolisian, konser berlangsung sekitar pukul 19.00 hingga 23.00 WIB. Sementara itu, aksi penolakan telah dimulai sejak sekitar pukul 15.30 WIB dengan jumlah massa diperkirakan mencapai 300 orang. Untuk mengantisipasi gangguan keamanan, petugas gabungan dari Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Pusat telah disiagakan sejak awal kegiatan.

Aksi Penolakan Berlangsung Sejak Sore Hari

Kelompok masyarakat yang menolak konser mendatangi kawasan JIExpo Kemayoran sejak sore. Mereka menyampaikan keberatan terhadap kehadiran Andrea Bocelli dan meminta agar pertunjukan yang telah dijadwalkan tersebut tidak dilaksanakan.

Penolakan itu berkaitan dengan tudingan terhadap Andrea Bocelli yang disebut pernah terlibat dalam kegiatan penggalangan dana untuk militer Israel pada 2010. Isu tersebut menjadi alasan yang disampaikan oleh kelompok pengunjuk rasa untuk meminta pembatalan konser.

Aksi penolakan dipimpin oleh Bahar bin Smith dan melibatkan massa dari elemen Front Persaudaraan Islam. Mereka berupaya menyampaikan tuntutan kepada pihak penyelenggara agar mempertimbangkan kembali pelaksanaan konser.

Sebelum situasi memanas, perwakilan kelompok massa sempat melakukan komunikasi dengan pihak promotor. Kepolisian turut mendampingi proses pertemuan tersebut untuk menjaga agar penyampaian aspirasi dapat berlangsung melalui dialog dan tidak berkembang menjadi bentrokan.

Dalam proses tersebut, aparat memfasilitasi tiga kali mediasi dan audiensi antara perwakilan massa dengan pihak penyelenggara. Tiga orang perwakilan dari kelompok penolak juga memperoleh kesempatan untuk masuk ke area dalam JIExpo guna menyampaikan aspirasi serta tuntutan mereka secara langsung.

Namun, rangkaian pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang dapat mengakhiri perbedaan pandangan. Pihak penyelenggara tetap melanjutkan persiapan konser sesuai jadwal, sementara kelompok penolak masih menyampaikan keberatan terhadap kegiatan tersebut.

Pelemparan Batu dan Kayu Sebabkan Puluhan Orang Luka

Situasi di sekitar lokasi kemudian berkembang menjadi insiden keamanan. Setelah massa aksi membubarkan diri sekitar pukul 18.00 WIB usai melaksanakan Salat Magrib, terjadi pelemparan batu dan kayu yang diarahkan kepada petugas keamanan.

Insiden tersebut menyebabkan 33 orang mengalami luka. Korban terdiri atas anggota TNI, personel kepolisian, dan masyarakat umum yang berada di sekitar kawasan kejadian. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketegangan dalam kegiatan penyampaian aspirasi dapat menimbulkan risiko bagi banyak pihak, termasuk orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam aksi.

Kepolisian melalui tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Metro Jaya segera memberikan penanganan medis awal kepada para korban. Petugas kesehatan dikerahkan untuk memeriksa kondisi orang-orang yang mengalami luka akibat insiden tersebut.

Dari total 33 korban, tiga orang dilaporkan masih menjalani perawatan inap di rumah sakit. Mereka membutuhkan penanganan lebih lanjut setelah mengalami luka akibat benda tumpul dan gangguan pernapasan atau sesak napas.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyampaikan bahwa situasi di lokasi pada akhirnya dapat dikendalikan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sempat terjadi insiden, aparat berhasil menjaga keadaan agar tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih luas.

Pernyataan tersebut juga menunjukkan bahwa penanganan terhadap korban menjadi salah satu prioritas setelah kericuhan berlangsung. Tim medis melakukan pertolongan sesuai kondisi masing-masing korban, sementara petugas keamanan berupaya memastikan kawasan konser kembali terkendali.

Tidak Ada Massa yang Ditahan

Dalam keterangannya, Budi Hermanto menyebutkan bahwa tidak ada peserta aksi yang ditahan dalam peristiwa tersebut. Setelah kondisi dinyatakan terkendali, aparat melanjutkan pengamanan dan membantu proses pemulangan orang-orang yang berada di kawasan JIExpo.

Petugas juga memastikan para pengisi acara dapat dievakuasi dengan aman. Penonton dan tamu undangan diarahkan untuk meninggalkan lokasi melalui pengaturan yang dilakukan panitia bersama petugas keamanan.

Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari penumpukan orang serta mengurangi kemungkinan terjadinya insiden lanjutan. Mengingat jumlah pengunjung konser cukup besar, pengaturan arus keluar menjadi bagian penting dalam proses pengamanan setelah acara selesai.

Pihak kepolisian menilai bahwa koordinasi antara aparat, penyelenggara, dan pihak terkait diperlukan agar kegiatan masyarakat yang berlangsung bersamaan dapat tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan publik.

Konser Tetap Berlangsung di Tengah Aksi Penolakan

Meskipun terdapat aksi penolakan di luar area penyelenggaraan, konser Andrea Bocelli tetap berlangsung sesuai jadwal. Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari rangkaian tur dunia dalam rangka peringatan 30 tahun album Romanza.

Kehadiran Andrea Bocelli di Jakarta menjadi salah satu agenda pertunjukan musik internasional yang menarik perhatian penonton. Namun, pelaksanaannya juga memunculkan perdebatan karena adanya penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat yang mengaitkan sosok penyanyi tersebut dengan isu konflik Israel-Palestina.

Sebelum acara berlangsung, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengikuti keputusan pemerintah pusat terkait penyelenggaraan konser. Ia juga menyebut bahwa pihak promotor telah mengantongi perizinan dari sejumlah instansi terkait, termasuk Kementerian Pariwisata, Kepolisian Republik Indonesia, Imigrasi, dan pengelola tempat acara.

Di sisi lain, penyelenggara tetap mempertahankan pelaksanaan konser setelah mempertimbangkan berbagai masukan dan komunikasi dengan pihak-pihak terkait. Acara tersebut akhirnya berjalan di tengah pengamanan yang diperketat di kawasan JIExpo.

Pentingnya Menjaga Keamanan dalam Penyampaian Aspirasi

Peristiwa di JIExpo Kemayoran menjadi pengingat bahwa penyampaian pendapat di muka umum perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan ketertiban dan keselamatan. Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pandangan, termasuk menyatakan penolakan terhadap suatu kegiatan. Namun, pelaksanaan hak tersebut harus tetap mengikuti ketentuan hukum dan tidak membahayakan orang lain.

Pelemparan batu, kayu, maupun tindakan yang berpotensi melukai orang lain dapat memperbesar risiko terjadinya korban. Dalam kejadian ini, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petugas keamanan, tetapi juga masyarakat umum yang berada di sekitar lokasi.

Pengamanan kegiatan berskala besar juga membutuhkan koordinasi yang matang. Aparat kepolisian perlu memastikan bahwa kelompok yang menyampaikan aspirasi mendapatkan ruang untuk berbicara, sementara penyelenggara acara dan pengunjung tetap memperoleh perlindungan selama kegiatan berlangsung.

Selain itu, proses mediasi perlu terus diutamakan untuk mencegah perbedaan pendapat berkembang menjadi bentrokan fisik. Dialog antara kelompok masyarakat, penyelenggara, dan pemerintah dapat menjadi jalan untuk mencari penyelesaian tanpa mengabaikan aturan yang berlaku.

Hingga Rabu (4/11/2026), berdasarkan keterangan kepolisian yang diberitakan, tercatat sebanyak 33 orang mengalami luka akibat insiden di sekitar JIExpo Kemayoran. Tiga korban masih menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan kondisi keamanan di lokasi telah berhasil dikendalikan. Kepolisian juga menyatakan tidak ada peserta aksi yang ditahan dalam peristiwa tersebut.

Kejadian ini menjadi perhatian publik karena memperlihatkan dampak yang dapat muncul ketika perbedaan pandangan tidak terselesaikan melalui dialog. Ke depan, pengelolaan kegiatan publik dan penyampaian aspirasi diharapkan dapat mengutamakan komunikasi, ketertiban, serta perlindungan terhadap keselamatan seluruh pihak.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

You May Also Like

Nasional

Jakarta,Norton News- Dwi (40), seorang pengemudi ojek online, tampak pasrah saat mengungkapkan keluhannya soal potongan aplikasi yang kian mencekik. Dengan program baru berbayar per...

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...