NORTON NEWS, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (26/10/2026). Mata uang Indonesia tersebut tercatat berada di level Rp18.135 per dolar AS, seiring meningkatnya tekanan dari pasar global dan keluarnya modal asing.
Mengacu pada data Bloomberg yang dikutip Suara.com, rupiah terkoreksi 55 poin atau 0,30 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.080 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik internasional. Kondisi tersebut menambah tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Harga Minyak Dunia Ikut Menekan Rupiah
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Ketidakpastian geopolitik, termasuk antisipasi pasar terhadap kemungkinan aksi militer Amerika Serikat dan Israel, mendorong kekhawatiran terhadap perkembangan harga energi global.
Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi bagi negara yang bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut berpotensi menambah kebutuhan dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Dalam situasi pasar yang tidak menentu, perubahan sentimen investor terhadap risiko global juga dapat memengaruhi pergerakan mata uang di kawasan Asia.
Arus Modal Asing Menambah Tekanan
Selain faktor eksternal, kondisi pasar keuangan domestik turut menjadi perhatian. Tekanan di pasar saham dan berlanjutnya arus keluar modal asing atau capital outflow membuat rupiah semakin rentan terhadap perubahan sentimen investor.
Ketika investor mengurangi kepemilikan aset di pasar negara berkembang, tekanan terhadap mata uang domestik dapat meningkat. Situasi tersebut juga mencerminkan kecenderungan investor untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut sepanjang pekan ini. Pelaku pasar akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting yang dapat memengaruhi arah pergerakan dolar AS.
Keputusan The Fed dan Data Ekonomi AS Jadi Sorotan
Dilansir dari detikNews, Perhatian investor pada pekan ini tertuju pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve melalui Federal Open Market Committee (FOMC), serta rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi Amerika Serikat.
Hasil dari agenda tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS dan pergerakan dolar terhadap mata uang lainnya.
Jika dolar AS menguat di tengah ketidakpastian global, mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, perubahan sentimen pasar dapat memengaruhi arah pergerakan nilai tukar berikutnya.
Pada perdagangan Senin, tekanan tidak hanya dialami rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS.
Peso Filipina mencatat penurunan sebesar 0,54 persen, sementara rupee India dan yen Jepang masing-masing terkoreksi 0,16 persen. Dolar Singapura melemah 0,09 persen dan dolar Hong Kong turun 0,03 persen.
Di sisi lain, dolar Taiwan menguat 0,04 persen dan yuan China naik 0,02 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan geopolitik, harga energi, arus modal, serta kebijakan moneter Amerika Serikat masih menjadi faktor penting yang perlu dicermati dalam menentukan arah nilai tukar rupiah.
Meski tekanan terhadap rupiah masih membayangi pasar, perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada perubahan kondisi ekonomi global dan respons investor terhadap berbagai agenda ekonomi yang berlangsung sepanjang pekan ini.



















































You must be logged in to post a comment Login