Connect with us

Hi, what are you looking for?

Health

BPOM Tanggapi Video Viral Ikan Asin Diduga Disemprot Pestisida, Keamanan Pangan Jadi Sorotan

BPOM Tanggapi Video Viral Ikan Asin Diduga Disemprot Pestisida, Keamanan Pangan Jadi Sorotan

JAKARTA, NortonNews.com – Sebuah video yang memperlihatkan dugaan penyemprotan pestisida pada ikan asin yang sedang dijemur menjadi perhatian masyarakat setelah beredar di media sosial. Rekaman tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan bahan pangan yang dikonsumsi sehari-hari, khususnya produk ikan asin yang banyak dijual di pasar tradisional.

Di lansir dari CNNIndonesia.com –  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan tanggapan terkait video yang ramai dibicarakan tersebut. Isu ini kembali mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap proses pengolahan dan peredaran pangan agar produk yang sampai kepada konsumen tidak tercemar bahan kimia berbahaya.

Meski demikian, kebenaran mengenai lokasi kejadian, jenis bahan yang digunakan, serta kondisi ikan asin dalam video perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Penilaian terhadap keamanan produk pangan tidak dapat hanya mengandalkan rekaman yang beredar di media sosial. Pemeriksaan sampel dan penelusuran oleh pihak berwenang dibutuhkan untuk mengetahui apakah terdapat cemaran yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Video Viral Memunculkan Kekhawatiran Konsumen

Peredaran video tersebut membuat masyarakat mempertanyakan cara sebagian produsen mengolah ikan asin, terutama ketika proses pengeringan dilakukan di ruang terbuka. Penjemuran di luar ruangan dapat membuat ikan terpapar lalat, debu, dan berbagai gangguan lingkungan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pengolah untuk menjaga kebersihan produk selama proses pengeringan.

Dalam kegiatan produksi pangan, pengendalian serangga perlu dilakukan dengan cara yang tidak menimbulkan pencemaran. Penggunaan bahan kimia yang tidak diperuntukkan bagi makanan dapat menimbulkan persoalan apabila residunya menempel pada produk dan kemudian tertelan oleh konsumen.

Pestisida dan insektisida memiliki fungsi serta ketentuan penggunaan yang berbeda-beda. Produk yang digunakan untuk mengendalikan serangga di lingkungan rumah tangga tidak boleh dianggap otomatis aman untuk disemprotkan langsung pada bahan makanan. Penggunaan bahan tersebut harus mengikuti petunjuk pada label dan ketentuan yang berlaku.

Karena itu, apabila suatu produk ikan asin diduga terkena semprotan bahan kimia, diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui jenis senyawa yang digunakan dan kemungkinan adanya residu. Tanpa hasil pengujian, tingkat paparan maupun dampaknya terhadap konsumen tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan tampilan video.

Keamanan Pangan Tidak Cukup Dinilai dari Penampilan

Ikan asin merupakan salah satu produk olahan perikanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Proses penggaraman dan pengeringan dilakukan untuk membantu mengawetkan ikan serta memperpanjang masa simpannya. Namun, proses tersebut tetap harus memperhatikan kebersihan, mutu bahan baku, penyimpanan, dan keamanan pangan.

Produk yang terlihat kering atau memiliki warna menarik belum tentu bebas dari cemaran kimia. Sebaliknya, kondisi fisik tertentu juga tidak cukup untuk memastikan bahwa suatu produk berbahaya. Sejumlah cemaran hanya dapat diketahui melalui pengujian yang sesuai di laboratorium.

BPOM dan lembaga pemerintah lain memiliki peran dalam pengawasan pangan sesuai dengan kewenangannya. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui pengambilan sampel, pengujian laboratorium, penelusuran sumber produk, serta tindak lanjut apabila ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan keamanan pangan.

Badan Pangan Nasional sebelumnya juga menyampaikan pentingnya pengawasan produk ikan asin untuk mencegah cemaran berbahaya. Dalam kegiatan pengawasan yang diberitakan pada Mei 2025, sampel ikan asin dan ikan teri di Kabupaten Tuban menjalani uji cepat, dengan indikasi dugaan cemaran formalin yang memerlukan pengujian lanjutan. Temuan tersebut merupakan persoalan berbeda dan tidak membuktikan bahwa ikan dalam video yang viral mengandung formalin atau pestisida.

Risiko Penggunaan Bahan Kimia pada Makanan

Penggunaan bahan kimia yang tidak sesuai peruntukannya pada pangan perlu menjadi perhatian karena risiko kesehatan dipengaruhi oleh jenis senyawa, jumlah yang tertinggal, serta tingkat paparan. Beberapa insektisida dapat menimbulkan efek kesehatan apabila seseorang terpapar dalam jumlah tertentu. Namun, dampak pada suatu kasus tidak dapat ditentukan tanpa informasi mengenai bahan dan dosis yang terlibat.

Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap orang yang pernah mengonsumsi ikan asin dari sumber tertentu pasti mengalami keracunan. Pada saat yang sama, dugaan penyemprotan bahan kimia pada makanan tidak boleh dianggap sebagai praktik yang wajar.

Jika konsumen menemukan produk yang diduga terkontaminasi, langkah yang lebih tepat adalah menghentikan konsumsi produk tersebut dan melaporkannya kepada instansi pengawas pangan. Apabila seseorang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan yang dicurigai tercemar, ia perlu mencari pertolongan medis, terutama jika gejalanya berat atau terus memburuk.

Pengolah Ikan Diminta Mengutamakan Cara yang Aman

Pengendalian lalat selama proses penjemuran dapat dilakukan melalui upaya pencegahan yang tidak melibatkan penyemprotan bahan kimia langsung pada ikan. Pengolah dapat menggunakan rak jemur yang bersih, memasang jaring pelindung, menjaga area produksi tetap higienis, serta menyingkirkan sampah dan sisa ikan yang dapat mengundang serangga.

Penggunaan fasilitas pengeringan tertutup juga dapat membantu mengurangi paparan produk terhadap lingkungan. Meski membutuhkan penyesuaian biaya dan sarana, perbaikan proses pengolahan menjadi bagian penting dalam menjaga mutu produk sekaligus melindungi kesehatan konsumen.

Pembinaan terhadap pelaku usaha kecil juga diperlukan agar mereka memahami cara pengendalian hama yang aman. Pendekatan ini dapat didukung melalui penyuluhan dari pemerintah daerah, dinas yang menangani perikanan, dan instansi pengawas pangan.

Langkah pencegahan akan lebih efektif jika disertai alternatif yang dapat diterapkan oleh pengolah. Dengan demikian, pelaku usaha tetap dapat melindungi produk dari serangga tanpa mengambil tindakan yang berpotensi menimbulkan cemaran kimia.

Masyarakat Perlu Lebih Cermat Memilih Produk

Konsumen disarankan membeli ikan asin dari penjual yang menjaga kebersihan tempat penyimpanan dan dapat menjelaskan asal produknya. Hindari produk yang menunjukkan tanda kerusakan, memiliki bau kimia yang tidak biasa, atau disimpan dalam kondisi yang tidak higienis.

Namun, pemeriksaan berdasarkan bau, warna, dan penampilan hanya merupakan langkah awal, bukan jaminan bahwa produk bebas dari seluruh bahan berbahaya. Jika ada dugaan kuat mengenai kontaminasi, pengujian oleh pihak yang berwenang tetap diperlukan.

Masyarakat juga sebaiknya tidak menyebarkan tuduhan terhadap pedagang atau produsen tertentu sebelum informasi mengenai kejadian tersebut terverifikasi. Video yang beredar dapat menjadi petunjuk awal untuk pemeriksaan, tetapi kesimpulan mengenai pelanggaran dan keamanan produk perlu didasarkan pada bukti.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan membutuhkan kerja sama antara produsen, pedagang, pemerintah, dan konsumen. Pengawasan yang konsisten, proses produksi yang higienis, serta pelaporan yang tepat dapat membantu mencegah peredaran produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

You May Also Like

Nasional

Jakarta,Norton News- Dwi (40), seorang pengemudi ojek online, tampak pasrah saat mengungkapkan keluhannya soal potongan aplikasi yang kian mencekik. Dengan program baru berbayar per...

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...