Jakarta, Norton News – dikutip dari detik.com, Pacu jalur merupakan tradisi kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, yang telah berlangsung sejak awal 1900-an. Lomba mendayung perahu panjang ini bukan sekadar ajang olahraga, tapi juga simbol solidaritas warga. Setiap jalur—perahu sepanjang 25–27 meter yang dikayuh 40–50 orang—mewakili kecamatan dan dibentuk melalui kerja kolektif, dari penebangan kayu hingga pelatihan tim.

Pelaksanaan Pacu Jalur
Awalnya digelar untuk memperingati hari besar Islam, pacu jalur berkembang menjadi acara tahunan penting, terutama setelah Belanda menjadikannya bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Wihelmina. Tradisi ini sempat terhenti saat penjajahan Jepang, namun bangkit lagi usai kemerdekaan dan menjadi agenda tetap peringatan 17 Agustus.
Tiap tahun, puncak perlombaan digelar di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, dan menyedot perhatian ribuan warga serta wisatawan. Tahun 2025, pacu jalur viral secara internasional berkat gaya atraktif penari perahu, menjadikan event ini sorotan global dan mendorong peningkatan kunjungan wisata ke Riau. Pacu jalur kini bukan hanya warisan budaya, tapi juga penggerak solidaritas dan ekonomi daerah.
















































You must be logged in to post a comment Login