NortonNews.com – Sesosok jasad manusia ditemukan di kapal kargo Thailand, MV Mayuree Naree, yang terdampak serangan di Selat Hormuz pada Maret 2026, di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Perusahaan pelayaran asal Bangkok, Precious Shipping, pada Jumat (3/4/2026) membenarkan penemuan tersebut. Namun hingga saat ini, jumlah serta identitas korban belum dapat dipastikan.
Sebelumnya, otoritas Thailand mengungkapkan bahwa 20 awak kapal berhasil dievakuasi oleh angkatan laut Oman. Sementara itu, tiga awak lainnya masih hilang setelah ledakan di bagian belakang kapal memicu kebakaran besar di ruang mesin.Identitas korban masih belum terungkap.

Mengutip Bangkok Post, Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan jasad tersebut ditemukan saat tim melakukan pemeriksaan lanjutan di kapal dalam kondisi yang sangat menantang. Kerusakan parah akibat kebakaran serta genangan air di ruang mesin menghambat proses pencarian dan identifikasi.
Dilansir dari KOMPAS.com – Pihak Precious Shipping memastikan bahwa jasad yang ditemukan berasal dari bagian kapal yang terdampak langsung oleh serangan.
Namun, perusahaan masih belum dapat memastikan jumlah korban maupun identitasnya. Keluarga dari tiga awak kapal yang masih hilang telah diinformasikan terkait perkembangan ini.
Sementara itu, 20 awak yang selamat sebelumnya sudah dipulangkan ke Thailand pada pertengahan Maret usai dievakuasi oleh angkatan laut Oman. Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan akan berkoordinasi dengan otoritas Iran, kedutaan Thailand, serta tim forensik guna mengidentifikasi korban.Serangan terjadi saat kapal melintas tanpa membawa kargo.
Dilansir dari Nation Thailand, MV Mayuree Naree dihantam proyektil pada 11 Maret 2026 saat melintasi Selat Hormuz dalam kondisi tanpa muatan.
Dampaknya, bagian buritan mengalami kerusakan serius, disertai kebakaran hebat dan banjir di ruang mesin.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku telah menargetkan kapal itu bersama satu kapal berbendera Liberia karena dianggap tidak mengindahkan peringatan.
Beberapa bulan terakhir, ketegangan di Selat Hormuz sebagai jalur penting perdagangan global terus meningkat, ditandai dengan serangan drone dan bentrokan militer.
Situasi ini meningkatkan risiko bagi kapal niaga dan awak sipil yang melintasi kawasan tersebut.
Di sisi lain, Dewan Keamanan PBB dilaporkan menunda voting terkait rencana izin penggunaan kekuatan pertahanan untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Kendati insiden ini tergolong serius, Precious Shipping memastikan kapal telah dilindungi asuransi risiko perang dan dampaknya terhadap keuangan serta operasional perusahaan masih minim.


















































You must be logged in to post a comment Login