Jakarta, Norton News – Dilansir dari The New York Times, Gaza Humanitarian Foundation, lembaga yang didukung pemerintahan Trump, mengumumkan kesiapan memulai distribusi bantuan di Jalur Gaza sebelum akhir Mei. Mereka mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan Israel untuk membuka jalur pengiriman makanan dan bahan bakar ke wilayah yang telah diblokade selama dua bulan.
Langkah ini bertujuan menciptakan sistem distribusi alternatif yang tidak melibatkan Hamas, namun menuai kritik dari sejumlah lembaga bantuan dan PBB. Para kritikus khawatir skema distribusi yang terbatas akan menyulitkan warga paling rentan untuk mengakses bantuan.
Menurut dua pejabat Israel dan seorang diplomat PBB, rencana utama yayasan adalah membangun beberapa zona distribusi yang masing-masing melayani ratusan ribu warga Palestina. Namun, hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa warga rentan harus menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan bantuan, sehingga akses menjadi lebih sulit.

Dapur Amal di Jalur Gaza
PBB juga menyuarakan kekhawatiran soal kemungkinan pengungsian paksa ke Gaza selatan dan risiko penjarahan di sekitar titik distribusi. Meski demikian, yayasan tersebut mengklaim siap mendistribusikan hingga 300 juta porsi makanan dalam 90 hari pertama.
Meskipun rencana ini disebut sebagai distribusi darurat terbesar dalam sejarah wilayah tersebut, waktu pasti dimulainya pengiriman bantuan masih belum jelas. Beberapa pejabat Israel menyatakan bantuan mungkin akan diizinkan masuk mengingat memburuknya situasi pangan di Gaza.


















































You must be logged in to post a comment Login