Bali, NORTON NEWS – Rainforest Alliance Mengungkapkan Pada Sidang Umum 2017 di Vancouver, Kanada, Keanggotaan FSC menyetujui Motion 46 dengan fokus mengeksplorasi cara-cara tambahan untuk membuat kebijakan dan standar FSC lebih relevan bagi pemilik hutan kecil, termasuk mengeksplorasi fleksibilitas sistem FSC yang ada.
Untuk membantu menjawab panggilan ini, pada tahun 2022 FSC menyetujui Regional Forest Stewardship Standard (RFSS) untuk Asia Pasifik untuk diikuti oleh Petani Kecil di Indonesia, India dan Vietnam. Standar baru yang disederhanakan menetapkan tingkat upaya, waktu, dan sumber daya keuangan yang lebih dapat dicapai untuk hutan-hutan ini. Selain itu, reformasi dalam standar manajemen grup FSC yang baru memberikan efisiensi dan penghematan biaya lebih lanjut untuk mencapai tujuan ini. Selain itu, adaptasi nasional untuk Indonesia telah dikembangkan dan diterbitkan sebagai percontohan untuk menguji indikator yang dikembangkan untuk keadaan tertentu di Indonesia.
Setelah peluncuran percontohan Regional Forest Stewardship Standard (RFSS) baru FSC, Rainforest Alliance melanjutkan inisiatif untuk menghubungkan produk dari masyarakat hutan di lanskap prioritas dengan pasar potensial di Jawa, Indonesia dengan bekerja sama dengan petani kecil untuk mensertifikasi hutan tanaman mereka dengan membentuk sebuah grup di bawah RFSS baru FSC yang disederhanakan.
Melalui proyek yang didanai oleh program Forest Allies RA, yang disebut “Menghubungkan Masyarakat Hutan Kayu dengan Potensi Pasar di Indonesia” kami mendukung 12 kelompok tani dari 500 rumah tangga dan 10 desa untuk mendapatkan keterampilan teknis guna meningkatkan hasil panen, meningkatkan kinerja lingkungan dan, mencapai sertifikasi FSC menggunakan standar percontohan RFSS baru di 500 hektar hutan tanaman dan pada akhirnya mendapatkan akses pasar kayu baru yang lebih menguntungkan.
Melalui proses pemetaan potensi masyarakat hutan di Jawa dan pembeli potensial kayu bersertifikat FSC, kami optimis dapat menghubungkan masyarakat hutan ini dengan pembeli dan pasar regional baru. Sebagai bagian dari pekerjaan ini, Rainforest Alliance juga telah melakukan analisis biaya/manfaat dari standar baru untuk membantu menimbang peluang yang diberikan oleh RFSS untuk kelompok tani potensial tambahan di wilayah tersebut.
Kembali pada tahun 2017 sebuah laporan Rainforest Alliance mengidentifikasi Jawa sebagai komponen penting dari total sumber daya kayu Indonesia dengan total perkiraan volume kayu 2,9 juta m3, dengan perkebunan tersebar di Jawa Barat, Tengah dan Timur, Banten dan Yogyakarta. Saat ini, data FSC menunjukkan hanya 12 hutan rakyat bersertifikat FSC dengan luas total 27.000 hektar. Tentu ada banyak ruang untuk pertumbuhan kayu bersertifikat FSC dengan perkebunan rakyat khususnya untuk mengimbangi penurunan pasokan kayu dari hutan produksi alam di luar Jawa dan Perhutani dan kami senang dapat bermitra dengan Java Learning Center (JavLec) yang telah berhasil mengelola FSC kelompok bersertifikat sebagai mitra pelaksana pada pekerjaan ini.















































You must be logged in to post a comment Login