Jakarta, NortonNews.com – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai fenomena tenaga kesehatan (nakes) yang dianggap kurang berempati hingga menghina pasien di media sosial perlu disikapi secara objektif. Organisasi tersebut menyebut kelelahan emosional atau burnout menjadi salah satu faktor yang dapat memicu perilaku tersebut.
Wakil Ketua Majelis Pengembangan Profesi Kedokteran IDI, Mahesa Paranadipa, mengatakan tekanan kerja, tingginya beban tugas, serta berbagai persoalan sistemik di lapangan dapat memengaruhi kondisi psikologis tenaga kesehatan.
Menurut Mahesa, selain burnout, minimnya pemahaman mengenai profesionalisme digital juga dapat menjadi penyebab munculnya unggahan yang tidak mencerminkan etika profesi.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan yang tidak berempati terhadap pasien.
Dilansir dari Lambeturah.co.id – Tenaga kesehatan, kata dia, tetap berkewajiban menjaga etika dan profesionalisme, termasuk saat menggunakan media sosial.
IDI juga meminta agar setiap dugaan pelanggaran etik yang melibatkan tenaga kesehatan terlebih dahulu diverifikasi secara objektif untuk memastikan identitas pelaku sebelum sanksi dijatuhkan.
Mahesa menjelaskan, apabila akun yang diduga melakukan pelanggaran ternyata bukan milik tenaga kesehatan atau menggunakan identitas palsu, maka kasus tersebut tidak lagi masuk dalam ranah etik profesi, melainkan dapat dikategorikan sebagai penipuan publik dan dugaan pelanggaran Undang-Undang ITE terkait pemalsuan identitas.
IDI pun mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan setiap unggahan yang mengatasnamakan tenaga kesehatan, serta mengedepankan verifikasi identitas sebelum mengambil langkah hukum maupun etik.























































You must be logged in to post a comment Login