BEOGRAD, NortonNews– Gerakan mahasiswa Serbia mencatat kemenangan politik bersejarah setelah kubu yang mereka dukung berhasil mengalahkan partai pimpinan Aleksandar Vučić dalam pemilihan parlemen pada Minggu (25/10/2026). Kemenangan tersebut mengakhiri dominasi politik Vučić yang telah berlangsung selama 14 tahun.
Keberhasilan ini menjadi puncak perjuangan mahasiswa yang selama hampir dua tahun menggelar demonstrasi untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah, pemberantasan korupsi, dan perbaikan tata kelola negara.
Perjalanan gerakan tersebut bermula dari tragedi runtuhnya kanopi beton di stasiun kereta api Novi Sad pada 1 November 2024. Insiden itu menewaskan 16 orang dan memicu kemarahan masyarakat terhadap dugaan kelalaian serta persoalan korupsi yang dianggap berkaitan dengan pembangunan infrastruktur tersebut.
Berawal dari Tragedi Stasiun Kereta Novi Sad
Pada awalnya, aksi mahasiswa muncul sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban tragedi Novi Sad. Mereka menggelar aksi diam dan memblokade jalan sebagai bentuk tuntutan agar pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut diusut.
Aksi yang awalnya terbatas kemudian berkembang menjadi gerakan nasional. Mahasiswa dari berbagai universitas menggelar demonstrasi dan blokade kampus, sementara masyarakat turut memberikan dukungan dengan menyediakan makanan, perlengkapan, dan kebutuhan bagi para demonstran.
Tuntutan mereka tidak berhenti pada pengungkapan penyebab tragedi. Mahasiswa juga mendesak pemerintah mengatasi korupsi, memperkuat penegakan hukum, serta memastikan institusi negara bertanggung jawab kepada masyarakat.
Pada Januari 2025, tekanan demonstrasi turut diikuti pengunduran diri Perdana Menteri Milos Vucevic. Sebulan kemudian, aksi mahasiswa semakin membesar dan mencapai salah satu puncaknya melalui demonstrasi massal di Beograd pada Maret 2025.
Gerakan Tanpa Satu Pemimpin Utama
Salah satu karakteristik gerakan mahasiswa Serbia adalah tidak adanya satu tokoh yang menjadi pemimpin utama secara dominan. Mahasiswa mengorganisasi gerakan melalui forum bersama, kelompok kerja, dan pembagian tanggung jawab.
Pola tersebut membantu gerakan mempertahankan koordinasi sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu figur. Mereka membangun jaringan di berbagai wilayah, mengatur aksi demonstrasi, dan menggunakan media untuk menyebarkan informasi mengenai tuntutan mereka.
Gerakan ini juga berhasil menarik dukungan dari kelompok masyarakat di luar lingkungan kampus. Warga yang kecewa terhadap kondisi politik dan pemerintahan ikut bergabung, menjadikan tuntutan mahasiswa sebagai isu yang lebih luas daripada sekadar persoalan pendidikan.
Strategi tersebut memperlihatkan bagaimana gerakan sosial dapat berkembang ketika isu yang diperjuangkan mendapat dukungan masyarakat dan diorganisasi secara konsisten.
Mahasiswa Bentuk Kekuatan Politik melalui Pemilu
Setelah berbulan-bulan menggelar demonstrasi, gerakan mahasiswa kemudian mengarahkan perjuangan ke jalur politik melalui daftar kandidat yang dikenal sebagai Student List atau Students Win.
Daftar tersebut mengusung 250 kandidat untuk memperebutkan seluruh kursi parlemen Serbia. Menariknya, para kandidatnya bukan mahasiswa yang sedang berkuliah, melainkan orang-orang dari beragam latar belakang, termasuk akademisi, tenaga profesional, petani, dan seniman.
Strategi ini memungkinkan gerakan mahasiswa memperluas dukungan sekaligus membawa tuntutan perubahan ke dalam lembaga pemerintahan.
Pada pemilu 25 Oktober 2026, Vučić akhirnya mengakui kekalahan kubunya. Berdasarkan hasil awal yang disampaikannya, daftar kandidat yang didukung mahasiswa diperkirakan memperoleh 135–140 kursi dari total 250 kursi parlemen. Sementara itu, Partai Progresif Serbia atau SNS yang dipimpinnya diperkirakan meraih sekitar 105 kursi.
Tantangan Setelah Kemenangan
Dilansir dari detikNews – Meski berhasil mengakhiri dominasi politik Vučić, kemenangan tersebut belum otomatis menyelesaikan persoalan yang dihadapi Serbia.
Gerakan yang terbentuk dari berbagai kelompok masyarakat itu harus membuktikan bahwa mereka mampu menjalankan pemerintahan, menjaga kesatuan politik, dan mewujudkan tuntutan yang selama ini disuarakan melalui demonstrasi.
Pemberantasan korupsi, reformasi institusi publik, penguatan supremasi hukum, dan perbaikan layanan masyarakat menjadi sejumlah agenda yang perlu diperhatikan.
Selain itu, para kandidat yang didukung gerakan mahasiswa harus menghadapi tantangan dalam mengelola pemerintahan dan bernegosiasi dengan institusi yang sebelumnya berada di bawah pengaruh kubu politik lama.
Kemenangan tersebut sekaligus menjadi contoh bagaimana gerakan mahasiswa dapat berkembang dari aksi protes menjadi kekuatan politik nasional. Namun, keberhasilan jangka panjangnya akan ditentukan oleh kemampuan mereka menerjemahkan tuntutan perubahan menjadi kebijakan nyata bagi masyarakat Serbia.

























































You must be logged in to post a comment Login