
Pendiri Koin Jagat, Barry Beagen. (Instagram/jagatapp_id)
Jakarta, Norton News – Dilansir dari CNNIndonesia, Co-Founder Jagat, Barry Beagen, mengeluarkan permintaan maaf resmi kepada Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) terkait kontroversi fitur berburu ‘Koin Jagat’ di aplikasi miliknya. Hal ini disampaikan dalam pertemuan pada Kamis (16/1). Barry juga mengumumkan perubahan format fitur tersebut menjadi ‘Misi Jagat’.
Perubahan Fitur dan Komitmen Baru
Barry menjelaskan, perubahan ini dilakukan untuk mendorong pengguna berkontribusi positif terhadap ruang publik dan fasilitas umum.
“Berdasarkan diskusi konstruktif dengan Komdigi, kami akan mengubah format Coin Hunt menjadi ‘Misi Jagat’ untuk mendorong kontribusi positif generasi muda terhadap ruang publik,” ungkap Barry.
Beberapa langkah konkret yang akan diambil:
- Penghapusan Koin di Daerah Rawan: Koin yang ditempatkan di lokasi rawan akan dihapus dari aplikasi.
- Pembuatan Kanal Pelaporan: Kanal resmi akan dibuat untuk memonitor dan melaporkan kerusakan fasilitas publik akibat aplikasi tersebut.
- Penyesuaian Aplikasi: Selama masa transisi, pengguna tidak akan dapat berburu koin di aplikasi hingga sistem ‘Misi Jagat’ diterapkan.
Barry optimis bahwa fitur baru ini dapat menjadi wadah positif untuk lebih dari 1 juta pengguna aktif di Indonesia.
Dukungan dan Peringatan Komdigi
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Angga Raka Prabowo, mengapresiasi langkah Jagat, namun juga menegaskan pentingnya mematuhi norma dan hukum yang berlaku.
“Sesuai PP No. 71 Tahun 2019, pemerintah berkewajiban melindungi kepentingan umum dari gangguan akibat penyalahgunaan informasi digital. Pelanggaran oleh pengembang platform dapat dikenai tindakan tegas,” ujar Angga.
Ia juga menyatakan dukungan terhadap inovasi digital selama tetap berorientasi pada manfaat dan produktivitas masyarakat.
“Kami mendukung Jagat untuk terus berkembang asalkan beroperasi sesuai peraturan. Kami berharap ‘Misi Jagat’ dapat menjadi langkah awal untuk kontribusi nyata terhadap ruang publik,” tambah Angga.
Tanggapan Publik
Jagat, yang memiliki 30 juta pelanggan di seluruh dunia dengan mayoritas pengguna di Jepang, Taiwan, Vietnam, dan Spanyol, meluncurkan aplikasi ini pertama kali di Indonesia. Kontroversi ini menjadi pengingat penting bagi pengembang aplikasi digital untuk memerhatikan dampak platform mereka terhadap masyarakat dan lingkungan.
Perubahan menjadi ‘Misi Jagat’ diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat sekaligus membawa manfaat nyata bagi fasilitas umum di Indonesia.

















































You must be logged in to post a comment Login