
Isra Ruddin (Member FSC & CEO IRCOMM ArchieSpace) bersama Thomas Hidayat Kurniawan (CEO MK Academy) menyaksikan diskusi antara Robertus Agung Prasetya (CEO Karya Wahana Sentosa) dengan Ramadhona (Principal Architect StudioRK) dan Kusneri Prasetiani Ekawaty usai sesi talkshow dalam rangkaian ARCH:ID 2026 di ICE BSD City, Tangerang Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi Ikatan Arsitek Indonesia dan para pelaku FSC dalam mendorong implementasi material berkelanjutan di sektor arsitektur.
Tangerang Selatan, 24 April 2026-Kolaborasi strategis antara Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Nasional, Al Jakarta, dan IAI Banten bersama para pelaku dalam ekosistem FSC menghadirkan sesi talkshow bertajuk “Understanding FSC for Architects: From Certification to Construction” dalam rangkaian ARCHID yang merupakan forum dan pameran arsitektur tahunan yang diselenggarakan oleh Al dan bertempat di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Tangerang Selatan. Kegiatan ini mempertemukan berbagai elemen penting dalam rantai nilai material berkelanjutan, yang terdiri dari: Member FSC, FSC Promotional License Holder (IRCOMM ArchieSpace & MK Academy), dan FSC Certificate Holder (Karya Wahana Sentosa /KWaS)
Talkshow ini dirancang sebagai forum edukatif sekaligus praktis bagi arsitek untuk memahami secara menyeluruh penggunaan material kayu bersertifikat FSC, mulai dari aspek sertifikasi, rantai pasok, hingga implementasi dalam desain dan konstruksi. Dengan dukungan IAl sebagai organisasi profesi arsitek, sesi ini menjadi ruang strategis untuk menjembatani kebutuhan antara industri material dan praktisi desain.
Para pembicara yang hadir dalam sesi ini meliputi: Thomas Hidayat Kurniawan (CEO MK Academy), Robertus Agung Prasetya (CEO Karya Wahana Sentosa / KWaS), Kusneri Prasetiani Ekawaty (Prinsipal Arsitek StudioRK), Ramadhona (Prinsipal Arsitek StudioRK), Dengan moderator Isra Ruddin (Member FSC & CEO IRCOMM ArchieSpace)
yang Teguh Aryanto Ketua IAI Jakarta menekankan bahwa peran arsitek semakin krusial dalam menentukan arah pembangunan yang bertanggung jawab. “Arsitek memiliki peran strategis dalam menentukan spesifikasi material yang digunakan dalam setiap proyek. Melalui kolaborasi seperti ini, kami mendorong anggota IAl untuk semakin memahami dan dan mengadopsi prinsip keberlanjutan, termasuk penggunaan material bersertifikat FSC sebagai bagian dari praktik profesional yang bertanggung jawab.

Kolaborasi strategis antara Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Nasional, IAI Jakarta, dan IAI Banten bersama para pelaku dalam ekosistem FSC menghadirkan sesi talkshow “Understanding FSC for Architects: From Certification to Construction” dalam rangkaian ARCH:ID 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan. Usai sesi berlangsung, para narasumber dan mitra melakukan foto bersama, di antaranya Isra Ruddin (Member FSC & CEO IRCOMM ArchieSpace), Thomas Hidayat Kurniawan (CEO MK Academy), Robertus Agung Prasetya (CEO Karya Wahana Sentosa), Ramadhona (Principal Architect StudioRK), serta Kusneri Prasetiani Ekawaty.
Sementara itu, Shri Chandra Satryotomo Ketua IAI Banten melihat kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam memperkuat kapasitas arsitek. “Inisiatif ini sangat relevan untuk memperkaya wawasan arsitek, khususnya dalam menjawab tuntutan global terhadap pembangunan berkelanjutan. Kami melihat kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi kunci dalam mempercepat adopsi material ramah lingkungan di berbagai proyek arsitektur.”
Menurut Isra Ruddin Member FSC & CEO IRCOMM ArchieSpace, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi membangun ekosistem kolaboratif yang berorientasi pada keberlanjutan. “Talkshow ini bukan hanya forum diskusi, tetapi langkah konkret untuk mempertemukan arsitek dengan pelaku industri dalam satu ekosistem yang terintegrasi. IRCOMM ArchieSpace kami hadirkan sebagai perusahaan baru di bawah IRCOMM Group yang berfokus sebagai Sustainable Service Provider. Kami secara aktif membangun kolaborasi dengan para FSC Certificate Holder untuk mengembangkan peluang berbagai proyek berkelanjutan yang dapat langsung diimplementasikan di sektor arsitektur dan konstruksi.
Thomas Hidayat Kurniawan CEO MK Academy menegaskan bahwa kesiapan industri terhadap sertifikasi FSC harus diimbangi dengan pendampingan yang tepat. “Saat ini semakin banyak perusahaan yang dituntut untuk menggunakan material berkelanjutan/Sustainable Product, namun belum memahami sistem sustainability FSC dan proses sertifikasinya. MK Academy hadir sebagai
mitra strategis yang membantu Perusahaan, baik yang baru memulai maupun yang ingin meningkatkan sistem keberlanjutannya untuk mendapatkan dan mengoptimalkan sertifikasi FSC. Ini bukan hanya tentang kepatuhan, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas, meningkatkan daya saing bisnis, dan sebagai Trademark Green Product FSC.”
Dari sisi industri, Robertus Agung Prasetya CEO Karya Wahana Sentosa (KWaS) menekankan
kesiapan KWAS dalam mendukung kebutuhan proyek berbasis FSC “Kami di KWaS telah membangun sistem produksi berbasis FSC secara menyeluruh, mulai dari sourcing bahan baku, desain, produksi hingga distribusi. Dengan meningkatnya kebutuhan pasar terhadap material bersertifikat, kami siap menjadi mitra bagi arsitek dan developer dalam menyediakan solusi interior, furniture, maupun material kayu penunjang konstruksi yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga memenuhi standar kualitas dan kebutuhan desain proyek.”
Melengkapi perspektif tersebut, arsitek dari (Al akan membahas bagaimana material FSC dapat diintegrasikan ke dalam proses desain dan konstruksi, termasuk pertimbangan estetika, fungsi, efisiensi biaya, serta tantangan implementasi di lapangan. Pendekatan diskusi yang disusun secara terstruktur dari sertifikasi, industri, hingga implementasi desain memberikan pemahaman yang aplikatif bagi para arsitek dalam mengambil keputusan material secara strategis.

















































You must be logged in to post a comment Login