
MOSKWA,NortonNews – Rusia akhirnya memberikan klarifikasi terkait isu dukungan militer ke Iran, menyusul serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Kremlin menegaskan bahwa Iran belum meminta bantuan militer dari Moskwa, seperti dikutip dari AFP. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam konferensi pers harian pada Kamis (5/3/2026).
“Dalam hal ini, tidak ada permintaan resmi dari pihak Iran,” ujar Peskov.
Serangan yang menghantam Teheran menimbulkan sorotan tajam terhadap hubungan diplomatik Rusia-Iran. Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut. Meski dikenal sebagai sekutu dekat, Moskwa tidak mengirim bantuan militer, dan dukungan Rusia hanya bersifat simbolis dan verbal.
Ketika serangan terjadi, diplomat tinggi Iran sempat menghubungi Moskwa. Namun menurut laporan resmi, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov hanya menawarkan sikap simpati dan janji dukungan verbal, tanpa intervensi militer.
Secara formal, Rusia memang tidak memiliki kewajiban pertahanan langsung terhadap Iran, meski kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis pada April 2025. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, menegaskan bahwa perjanjian tersebut tidak menciptakan aliansi militer atau kewajiban bantuan timbal balik.
Kontras dengan ini, Iran selama ini telah membantu Rusia dengan drone dan rudal untuk perang di Ukraina. Namun Presiden Rusia, Vladimir Putin, menilai faktor Israel menjadi alasan utama Rusia menahan diri untuk terlibat langsung di Teheran. Dalam Forum Ekonomi St. Petersburg 2025, Putin menyebut Israel memiliki sekitar dua juta warga berbahasa Rusia, sehingga keterlibatan militer di Iran akan berdampak pada hubungan dengan negara tersebut.
Dilansir dari KOMPAS- Meski kegagalan intervensi militer ini menjadi pukulan bagi reputasi global Rusia, Kremlin mencoba memutar situasi untuk kepentingan domestik dan diplomasi. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, melalui media sosial X menyindir peran Trump dan menilai diplomasi Barat terhadap Iran hanya kedok politik. Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Fyodr Lukyanov, juga menyebut diplomasi dengan Trump kini dianggap tidak efektif.
Pengamat politik dari University College London, Vladimir Pastukhov, menilai serangan di Teheran akan memperkuat posisi Putin terkait perang di Ukraina, karena menjadi alat untuk menekankan “bahaya Barat” kepada rakyat dan sekutu Rusia. Kremlin kini berharap sekutu-sekutu yang tersisa lebih fokus pada pesan ancaman Barat daripada mempertanyakan ketidakhadiran militer Rusia di Iran.






















































You must be logged in to post a comment Login