Connect with us

Hi, what are you looking for?

Otomotif

Pengeluaran Armada Logistik Terus Meningkat, Perusahaan Perlu Kenali Empat Penyebab Pemborosan

Pengeluaran Armada Logistik Terus Meningkat, Perusahaan Perlu Kenali Empat Penyebab Pemborosan

JAKARTA, NortonNews.com – Meningkatnya biaya operasional kendaraan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan transportasi dan logistik. Pengeluaran untuk bahan bakar, perawatan kendaraan, keselamatan perjalanan, hingga produktivitas pengemudi dapat membebani anggaran apabila tidak dikelola secara efektif.

Pengelolaan armada tidak cukup hanya memastikan kendaraan berangkat dan tiba sesuai jadwal. Perusahaan juga perlu memperhatikan efisiensi penggunaan kendaraan agar setiap perjalanan memberikan hasil maksimal tanpa menimbulkan pengeluaran yang tidak diperlukan.

Di lansir dari Kompas.com – Rabu (28/10/2026), terdapat sejumlah faktor yang dapat menyebabkan biaya operasional armada membengkak. Beberapa di antaranya adalah penggunaan bahan bakar yang tidak efisien, perawatan kendaraan yang tidak terencana, risiko kecelakaan, serta pengaturan produktivitas pengemudi yang belum optimal.

Setiap kendaraan memiliki karakteristik biaya operasional yang berbeda. Karena itu, perusahaan tidak bisa menggunakan perhitungan pengeluaran yang sama untuk seluruh jenis armada. Kapasitas kendaraan, jarak perjalanan, kondisi jalan, dan pola penggunaan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

Penelitian Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) terhadap tiga jenis truk pada jalur Yogyakarta-Jakarta memperlihatkan adanya perbedaan biaya operasional kendaraan berdasarkan kapasitas angkutnya.

Truk dengan kapasitas 2,5 ton memiliki biaya operasional sekitar Rp2.798 per kilometer. Sementara itu, truk berkapasitas 8,25 ton membutuhkan biaya sekitar Rp3.283 per kilometer, sedangkan truk dengan kapasitas 16 ton mencapai Rp4.861 per kilometer.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pengeluaran operasional dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing kendaraan. Perusahaan perlu melakukan evaluasi berdasarkan kondisi armada agar peluang penghematan dapat dihitung secara lebih tepat.

Empat Faktor yang Menyebabkan Biaya Armada Membengkak

1. Penggunaan bahan bakar yang tidak efisien

Bahan bakar menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar dalam kegiatan operasional transportasi. Pemborosan dapat terjadi ketika kendaraan menempuh perjalanan di luar rute yang telah direncanakan atau pengemudi memiliki kebiasaan berkendara yang kurang efisien.

Salah satu contoh ditemukan dalam penelitian mengenai konsumsi bahan bakar kendaraan operasional pada proyek minyak dan gas di wilayah terpencil. Penelitian yang diterbitkan dalam Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi pada 2024 tersebut mengamati penggunaan bahan bakar delapan kendaraan operasional.

Selama kurang lebih 70 hari, kendaraan dalam penelitian itu mencatat total perjalanan mencapai 70.405 kilometer. Angka tersebut lebih tinggi sekitar 13.688,6 kilometer dibandingkan rute awal yang direncanakan sepanjang 56.716,4 kilometer.

Perbedaan jarak tempuh tersebut menyebabkan tambahan anggaran bahan bakar sekitar Rp9,02 juta. Setelah memperhitungkan perjalanan untuk kebutuhan operasional di luar jam kerja, seperti servis kendaraan dan pengantaran orang sakit, perkiraan biaya dari penyimpangan rute yang tidak terdokumentasi masih mencapai Rp6,6 juta.

Selain penyimpangan rute, perilaku mengemudi juga dapat memengaruhi konsumsi bahan bakar. Kebiasaan mengemudi secara agresif, seperti mengebut, melakukan akselerasi secara mendadak, dan mengerem terlalu keras, dapat membuat kendaraan menggunakan bahan bakar lebih banyak.

Departemen Energi Amerika Serikat menyebutkan bahwa perilaku berkendara agresif dapat menurunkan efisiensi bahan bakar sekitar 15 hingga 30 persen ketika kendaraan melaju di jalan raya. Dalam kondisi lalu lintas yang sering berhenti dan berjalan kembali, penurunan efisiensi bahkan dapat mencapai 10 hingga 40 persen.

Kondisi mesin yang tetap menyala ketika kendaraan berhenti atau dikenal dengan istilah idling juga menjadi sumber pemborosan. Analisis Geotab terhadap lebih dari 2,6 juta kendaraan komersial di Amerika Serikat dan Kanada menemukan bahwa kendaraan rata-rata menghabiskan waktu sekitar satu jam 25 menit untuk idling setiap hari operasional.

Aktivitas tersebut menggunakan sekitar 3,6 liter bahan bakar per hari. Jika dihitung menggunakan ilustrasi harga Dexlite sebesar Rp23.700 per liter di DKI Jakarta pada 1 Oktober 2026, pengeluaran untuk idling dapat mencapai sekitar Rp85.320 setiap hari.

Dalam simulasi selama 30 hari operasional, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp2,56 juta untuk satu kendaraan. Apabila perusahaan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar akibat idling hingga 50 persen, potensi penghematan dapat mencapai Rp1,28 juta per kendaraan dalam periode yang sama.

Meski demikian, angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan data kendaraan komersial di Amerika Serikat dan Kanada. Penghematan sebenarnya tetap bergantung pada jenis kendaraan, pola perjalanan, harga bahan bakar, serta durasi mesin menyala ketika kendaraan berhenti.

2. Perawatan kendaraan yang tidak terjadwal

Faktor berikutnya adalah biaya perawatan kendaraan yang muncul di luar jadwal pemeliharaan rutin. Perusahaan pada umumnya sudah memiliki jadwal servis untuk memastikan kendaraan tetap berada dalam kondisi baik.

Namun, penggunaan kendaraan yang tidak sesuai prosedur dan kebiasaan mengemudi yang berisiko dapat mempercepat kerusakan sejumlah komponen. Akibatnya, perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan perbaikan mendadak.

Permasalahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan biaya penggantian suku cadang atau jasa perbaikan. Kendaraan yang mengalami kerusakan juga berpotensi tidak dapat digunakan untuk sementara waktu.

Kondisi tersebut dikenal sebagai downtime. Apabila kendaraan harus berhenti beroperasi, perusahaan berisiko mengalami keterlambatan pengiriman barang maupun terganggunya pelayanan kepada pelanggan.

Senior Vice President Business Development Geotab North America, Jean Pilon-Bignell, menjelaskan bahwa perawatan kendaraan yang tidak terencana dapat mengganggu kegiatan operasional. Gangguan tersebut berpotensi menimbulkan kehilangan pendapatan sekitar 400 hingga 700 dollar AS per hari.

Karena itu, perusahaan perlu memperhatikan kondisi kendaraan secara berkala dan tidak hanya melakukan pemeriksaan ketika kerusakan sudah terjadi.

3. Keselamatan pengemudi dan kendaraan

Keselamatan perjalanan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan armada. Kecelakaan dapat menimbulkan pengeluaran tidak terduga, mulai dari biaya perbaikan kendaraan hingga terganggunya kegiatan operasional.

Perusahaan perlu melakukan pengawasan terhadap perilaku pengemudi selama perjalanan. Kebiasaan seperti pengereman mendadak, akselerasi agresif, dan berkendara melebihi batas kecepatan perlu menjadi perhatian.

Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah memberikan pelatihan berkendara secara berkala. Melalui pelatihan tersebut, pengemudi dapat memahami cara mengoperasikan kendaraan dengan lebih aman dan efisien.

Selain itu, perusahaan dapat memanfaatkan data perjalanan untuk mengevaluasi kebiasaan pengemudi. Dengan begitu, pembinaan dapat dilakukan berdasarkan perilaku yang benar-benar terjadi selama kendaraan beroperasi.

4. Produktivitas pengemudi belum optimal

Pengeluaran untuk tenaga pengemudi juga menjadi bagian penting dalam biaya operasional perusahaan. Oleh karena itu, pengaturan jadwal kerja dan rute perjalanan perlu dilakukan secara efektif.

Pengelolaan perjalanan yang kurang tepat dapat menyebabkan waktu operasional terbuang. Kendaraan mungkin harus menempuh jarak lebih jauh, mengalami waktu tunggu yang panjang, atau tidak dapat menyelesaikan beberapa tugas sesuai jadwal.

Perusahaan dapat meningkatkan produktivitas melalui pengaturan rute dan jadwal perjalanan yang lebih terencana. Langkah tersebut perlu tetap mempertimbangkan waktu istirahat, keselamatan pengemudi, serta ketentuan jam kerja yang berlaku.

Teknologi Telematika Membantu Mengendalikan Pengeluaran

Untuk mengetahui sumber pemborosan secara lebih terperinci, perusahaan membutuhkan sistem pemantauan yang mampu memberikan informasi mengenai aktivitas kendaraan.

Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah telematika. Teknologi ini menggabungkan sistem komunikasi, informasi kendaraan, dan pengolahan data untuk membantu perusahaan memantau kegiatan operasional armada.

Melalui sistem telematika, perusahaan dapat memperoleh informasi mengenai posisi kendaraan, jarak perjalanan, konsumsi bahan bakar, durasi idling, kecepatan, hingga perilaku pengemudi ketika berkendara.

Teknologi tersebut juga dapat membantu mendeteksi kebiasaan yang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan, seperti pengereman mendadak dan akselerasi yang terlalu agresif.

Geotab, perusahaan penyedia solusi telematika, menawarkan sistem pemantauan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai aspek pengelolaan armada. Salah satu fitur yang disediakan adalah Fleet Savings Summary.

Fitur tersebut memberikan gambaran mengenai peluang penghematan berdasarkan empat komponen utama, yaitu bahan bakar, keselamatan, perawatan kendaraan, dan produktivitas pengemudi.

Dengan memanfaatkan informasi tersebut, perusahaan dapat mengetahui bagian operasional yang membutuhkan perbaikan. Misalnya, apabila data menunjukkan tingginya penggunaan bahan bakar ketika kendaraan berhenti, perusahaan dapat membuat kebijakan untuk mengurangi durasi idling.

Pendekatan berbasis data juga membantu perusahaan melakukan evaluasi secara lebih terukur. Keputusan tidak hanya didasarkan pada perkiraan, tetapi dapat mempertimbangkan informasi yang dikumpulkan dari aktivitas kendaraan sehari-hari.

Aerotrans Manfaatkan Geotab untuk Meningkatkan Efisiensi

Penerapan teknologi telematika dalam pengelolaan kendaraan juga dilakukan oleh Aerotrans, perusahaan penyedia layanan transportasi darat untuk Garuda Indonesia Group.

Aerotrans diketahui mengoperasikan lebih dari 700 kendaraan untuk mendukung mobilitas awak penerbangan dan kebutuhan operasional lainnya. Berdasarkan studi kasus Geotab yang dipublikasikan pada April 2026, lebih dari 250 kendaraan Aerotrans telah terhubung dengan platform Geotab sejak 2024.

Pemanfaatan teknologi tersebut membantu perusahaan memperoleh informasi mengenai kondisi dan aktivitas kendaraan. Data yang tersedia dapat digunakan untuk meningkatkan pengawasan armada sekaligus mengevaluasi perilaku pengemudi.

Hasil penerapan sistem tersebut memperlihatkan sejumlah perkembangan positif. Aerotrans mencatat penurunan durasi idling sebesar 22 persen. Frekuensi pengereman mendadak juga mengalami penurunan hingga 57 persen, sedangkan akselerasi agresif berkurang sebesar 66 persen.

Dari sisi keselamatan, skor keselamatan armada Aerotrans mencapai 89 persen. Prediksi tingkat tabrakan per kilometer juga menunjukkan perbaikan sebesar 61 persen.

Selain itu, perusahaan mencatat ketepatan waktu layanan mencapai 99,5 persen. Jumlah insiden operasional juga dilaporkan mengalami penurunan sebesar 78 persen.

Direktur Aerotrans, Kadek Bayu Temaja, menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi Geotab membantu perusahaan meningkatkan ketepatan pengelolaan dan keselamatan operasional melalui informasi kendaraan secara langsung.

Ia menilai teknologi tersebut bukan hanya menjadi alat pemantauan, tetapi juga mitra strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan transportasi.

Digitalisasi Menjadi Langkah untuk Mengoptimalkan Biaya Operasional

Meningkatnya kebutuhan efisiensi membuat perusahaan transportasi perlu mempertimbangkan pemanfaatan teknologi dalam mengelola kendaraan. Pengawasan secara manual terkadang belum cukup untuk mengetahui seluruh aktivitas armada, terutama ketika jumlah kendaraan yang dioperasikan mencapai ratusan unit.

Melalui sistem digital, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai penggunaan kendaraan secara lebih menyeluruh. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan kebijakan penghematan, memperbaiki jadwal perawatan, meningkatkan keselamatan, serta mengoptimalkan produktivitas pengemudi.

Perusahaan juga dapat menghitung manfaat investasi teknologi melalui pendekatan Return on Investment (ROI). Salah satu fasilitas yang dapat digunakan adalah Fleet Management ROI Calculator dari Geotab untuk memperkirakan potensi penghematan berdasarkan kondisi operasional armada.

Pada akhirnya, pengendalian biaya operasional tidak hanya bergantung pada pengurangan penggunaan bahan bakar. Perusahaan perlu memperhatikan seluruh aspek yang berkaitan dengan kendaraan dan sumber daya manusia agar pengeluaran dapat dikendalikan tanpa mengurangi kualitas pelayanan.

Pemanfaatan telematika, evaluasi perilaku pengemudi, perawatan berkala, serta pengaturan rute yang tepat dapat menjadi langkah untuk membangun sistem transportasi yang lebih efisien dan aman. Dengan pengelolaan yang terencana, perusahaan diharapkan mampu menekan pemborosan sekaligus meningkatkan produktivitas armada dalam jangka panjang.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

You May Also Like

Nasional

Jakarta,Norton News- Dwi (40), seorang pengemudi ojek online, tampak pasrah saat mengungkapkan keluhannya soal potongan aplikasi yang kian mencekik. Dengan program baru berbayar per...

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...