AMERIKA SERIKAT, NortonNews.com – Nama Daniel Nadler semakin dikenal dalam industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) setelah perusahaan yang didirikannya, OpenEvidence, berkembang menjadi salah satu platform AI yang banyak digunakan oleh tenaga medis di Amerika Serikat. Kesuksesan bisnis tersebut turut mengantarkan Nadler menjadi miliarder dengan kekayaan yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah.
Dilansir dari CNN Indonesia – Minggu, 25 Oktober 2026, Daniel Nadler merupakan pengusaha teknologi yang mengembangkan layanan AI untuk membantu dokter mencari dan memahami informasi medis. Produk yang dibangunnya kerap disebut sebagai “ChatGPT untuk dokter” karena memungkinkan tenaga medis mengajukan pertanyaan dan memperoleh informasi yang berkaitan dengan penelitian, diagnosis, serta penanganan pasien.
Meski kerap dikaitkan dengan ChatGPT, Nadler bukan pencipta ChatGPT yang dikembangkan oleh OpenAI. Ia merupakan salah satu pendiri OpenEvidence, sebuah perusahaan teknologi yang secara khusus mengembangkan mesin pencarian dan asisten AI untuk kebutuhan klinis. Selain itu, Nadler dikenal sebagai pengusaha yang sebelumnya membangun perusahaan analisis data berbasis AI untuk industri keuangan.
Kekayaan Nadler meningkat seiring dengan pertumbuhan nilai perusahaan yang didirikannya. Forbes memperkirakan kekayaan bersihnya mencapai sekitar US$7,6 miliar atau setara kurang lebih Rp137,5 triliun, bergantung pada nilai tukar yang digunakan. Angka tersebut merupakan estimasi nilai kekayaan, bukan berarti seluruhnya berupa uang tunai yang tersimpan di rekening pribadi.
Membangun AI untuk Membantu Pekerjaan Dokter
OpenEvidence dikembangkan untuk menjawab tantangan yang dihadapi tenaga medis dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Dunia kedokteran terus menghasilkan penelitian baru, temuan klinis, dan pilihan pengobatan yang perlu dipelajari oleh dokter agar keputusan yang diambil sesuai dengan bukti ilmiah terbaru.
Banyaknya publikasi medis membuat proses mencari informasi yang relevan membutuhkan waktu. Dokter harus menangani pasien sekaligus mengikuti perkembangan penelitian yang terus bertambah. Dalam situasi tersebut, teknologi AI dapat membantu mempercepat pencarian informasi dan menyusun jawaban berdasarkan sumber ilmiah yang tersedia.
OpenEvidence dirancang untuk membantu tenaga medis menelusuri penelitian yang telah melalui proses penelaahan ilmiah atau peer review. Platform ini memanfaatkan teknologi AI untuk menemukan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan klinis, kemudian menyajikan rangkuman yang dapat digunakan dokter sebagai bahan pertimbangan.
Keberadaan rujukan menjadi bagian penting dalam layanan tersebut. Informasi yang diberikan perlu dapat ditelusuri kembali ke penelitian atau publikasi medis yang menjadi dasarnya, sehingga dokter memiliki kesempatan untuk memeriksa sumber secara langsung.
Pendekatan tersebut membedakan OpenEvidence dari chatbot umum yang dirancang untuk berbagai kebutuhan pengguna. Platform ini berfokus pada informasi medis dan kebutuhan tenaga kesehatan, bukan sekadar menjawab pertanyaan sehari-hari.
Namun, penggunaan AI dalam dunia medis tetap memerlukan kehati-hatian. Informasi yang dihasilkan teknologi tidak boleh menggantikan pemeriksaan klinis, pengalaman profesional, maupun penilaian dokter terhadap kondisi masing-masing pasien. Keputusan medis tetap harus mempertimbangkan keadaan pasien dan bukti yang relevan.
Kekayaan Nadler Meningkat Seiring Valuasi Perusahaan
Pertumbuhan OpenEvidence menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan kekayaan Nadler. Berdasarkan laporan Forbes pada Januari 2026, perusahaan tersebut berhasil memperoleh pendanaan baru sebesar US$250 juta dengan valuasi sekitar US$12 miliar. Setelah perkembangan tersebut, Forbes memperkirakan kekayaan Nadler mencapai US$7,6 miliar.
Pada September 2026, laporan Becker’s Hospital Review menyebut OpenEvidence kembali mendapatkan pendanaan US$250 juta dengan valuasi perusahaan sekitar US$15 miliar. Putaran pendanaan tersebut menunjukkan tingginya minat investor terhadap teknologi AI yang berfokus pada layanan kesehatan.
Meski demikian, nilai perusahaan tidak sama dengan jumlah kekayaan pribadi pendirinya. Valuasi merupakan perkiraan nilai perusahaan berdasarkan transaksi investasi dan sejumlah pertimbangan bisnis. Sementara itu, kekayaan bersih seseorang dihitung dari nilai aset yang dimiliki setelah memperhitungkan kewajiban, termasuk nilai kepemilikan saham pada perusahaan.
Forbes sebelumnya melaporkan bahwa Nadler memiliki hampir 60 persen saham OpenEvidence ketika perusahaan tersebut mencapai valuasi US$12 miliar. Besarnya kepemilikan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kenaikan nilai perusahaan dapat memberikan dampak besar terhadap estimasi kekayaannya.
Kepemilikan saham juga berarti nilai kekayaan Nadler dapat berubah mengikuti perkembangan bisnis dan penilaian investor. Jika valuasi perusahaan naik, nilai saham yang dimilikinya berpotensi meningkat. Sebaliknya, perubahan kondisi pasar atau penurunan nilai perusahaan dapat memengaruhi perkiraan kekayaannya.
Karena sebagian besar kekayaan pengusaha teknologi berasal dari kepemilikan bisnis, nilai tersebut tidak selalu bisa langsung dicairkan menjadi uang tunai tanpa proses penjualan saham atau transaksi lainnya.
Berawal dari Kensho Technologies
Sebelum membangun OpenEvidence, Nadler lebih dahulu mendirikan Kensho Technologies, perusahaan yang mengembangkan teknologi AI untuk membantu analisis data keuangan. Perusahaan tersebut dirancang untuk membantu pengguna memahami hubungan antara berbagai peristiwa ekonomi, data pasar, dan perkembangan keuangan.
Kensho memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin atau machine learning untuk mengolah data dan membantu pengguna mendapatkan jawaban atas pertanyaan analitis. Pendekatan tersebut memungkinkan proses pencarian informasi keuangan dilakukan dengan lebih cepat dibandingkan jika seluruh data harus diperiksa secara manual.
Pada 2018, Kensho diakuisisi oleh S&P Global. Nilai transaksi tersebut dilaporkan mencapai ratusan juta dolar AS, dengan sejumlah laporan menyebut nilai sekitar US$550 juta hingga US$700 juta, bergantung pada pelaporan transaksi yang digunakan.
Penjualan perusahaan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan bisnis Nadler. Pengalaman membangun teknologi analisis data untuk sektor keuangan memberinya bekal dalam mengembangkan produk berbasis AI untuk bidang lain.
Setelah Kensho, Nadler kemudian mengarahkan perhatiannya pada sektor kesehatan. Ia melihat bahwa tenaga medis menghadapi tantangan serupa dalam mengolah informasi yang sangat besar jumlahnya. Bedanya, informasi yang dicari dokter berhubungan langsung dengan keputusan klinis dan perawatan pasien.
Dari kebutuhan tersebut, OpenEvidence dikembangkan dengan fokus pada penelitian dan informasi medis. Perusahaan ini mulai dibangun pada 2022 dan kemudian menarik perhatian investor yang melihat peluang besar dalam pemanfaatan AI di bidang kesehatan.
OpenEvidence Menarik Perhatian Dokter di Amerika Serikat
OpenEvidence berkembang dengan menawarkan akses ke informasi medis yang dirancang untuk membantu pekerjaan dokter. Platform ini memungkinkan tenaga medis mencari penelitian dari berbagai publikasi ilmiah dan memperoleh rangkuman yang relevan dengan pertanyaan klinis.
Dalam laporan Forbes pada Januari 2026, OpenEvidence disebut telah digunakan sekitar 740.000 dokter, atau sekitar 45 persen dari dokter di Amerika Serikat pada saat laporan tersebut diterbitkan. Angka tersebut menunjukkan luasnya penggunaan platform tersebut di kalangan tenaga medis negara itu.
Penggunaan yang semakin luas membuat OpenEvidence memiliki posisi penting dalam persaingan teknologi kesehatan berbasis AI. Perusahaan teknologi lain juga mulai mengembangkan layanan serupa, termasuk produk AI yang diarahkan untuk membantu tenaga kesehatan dalam melakukan penelitian, menyusun dokumentasi, dan mencari informasi klinis.
Meski demikian, popularitas tidak otomatis membuktikan bahwa setiap jawaban AI selalu benar atau lebih baik daripada metode lain. Kinerja platform medis perlu dinilai melalui kualitas sumber, ketepatan informasi, kemampuan memberikan rujukan, serta manfaatnya dalam praktik klinis.
Dalam konteks kesehatan, kesalahan informasi dapat menimbulkan konsekuensi serius. Karena itu, penggunaan AI harus disertai pemeriksaan sumber dan penilaian profesional. Teknologi tersebut lebih tepat diposisikan sebagai alat pendukung yang membantu dokter mengakses pengetahuan, bukan sebagai pengganti dokter dalam menentukan diagnosis dan perawatan.
Model Bisnis Mengandalkan Iklan dan Investasi
Selain mengembangkan teknologi, OpenEvidence juga membangun model bisnis untuk mendukung operasional perusahaan. Berdasarkan laporan Forbes pada Januari 2026, salah satu sumber pendapatan OpenEvidence berasal dari iklan yang ditampilkan kepada pengguna profesional.
Perusahaan farmasi dan produsen perangkat medis dapat memanfaatkan ruang iklan pada platform tersebut. Pendekatan ini memiliki kemiripan dengan model bisnis mesin pencarian digital yang menyediakan layanan bagi pengguna sekaligus memperoleh pendapatan dari pengiklan.
Namun, penerapan iklan dalam layanan informasi medis membutuhkan perhatian khusus. Informasi promosi perlu dibedakan secara jelas dari hasil pencarian ilmiah agar dokter dapat menilai informasi secara objektif. Transparansi dan pengelolaan konflik kepentingan menjadi aspek penting, terutama ketika platform digunakan untuk mendukung keputusan klinis.
OpenEvidence juga memperoleh dukungan pendanaan dari investor. Pendanaan dapat digunakan untuk mengembangkan teknologi, memperluas kemampuan sistem, memperkuat infrastruktur, serta meningkatkan kualitas layanan.
Di sisi lain, investasi dalam perusahaan AI biasanya disertai ekspektasi pertumbuhan yang tinggi. Perusahaan perlu menunjukkan bahwa teknologinya benar-benar dibutuhkan pengguna, mampu menghasilkan pendapatan, dan dapat mempertahankan keunggulan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Bagi OpenEvidence, tantangan berikutnya bukan hanya memperluas jumlah pengguna, tetapi juga mempertahankan kepercayaan tenaga medis. Kepercayaan tersebut bergantung pada kualitas informasi, kemudahan penggunaan, transparansi sumber, dan kemampuan perusahaan menjaga layanan tetap relevan bagi kebutuhan klinis.
Tantangan AI dalam Dunia Kesehatan
Perkembangan OpenEvidence memperlihatkan besarnya peluang penerapan AI untuk membantu tenaga medis mengakses informasi. Namun, teknologi ini juga menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari ketepatan jawaban hingga risiko ketergantungan berlebihan pada sistem otomatis.
Dokter tetap perlu memeriksa apakah penelitian yang dirujuk sesuai dengan kondisi pasien, apakah bukti ilmiahnya masih relevan, dan apakah terdapat informasi lain yang perlu dipertimbangkan. Rangkuman AI dapat membantu mempercepat pencarian, tetapi tidak selalu menggantikan kebutuhan membaca dan menilai sumber asli.
Selain itu, pengembang perlu memastikan bahwa sistem mampu menyampaikan keterbatasannya ketika bukti yang tersedia belum cukup kuat. Dalam praktik medis, ketidakpastian merupakan bagian penting yang tidak boleh dihilangkan hanya demi menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan.
Persaingan di sektor AI kesehatan juga semakin berkembang. Perusahaan perlu terus memperbarui sistem, membangun kemitraan, dan memastikan bahwa penggunaan teknologi sesuai dengan aturan yang berlaku. Keamanan data serta perlindungan informasi pasien menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan layanan medis berbasis AI.
Keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh nilai perusahaan atau jumlah pengguna. Dampak terhadap kualitas pengambilan keputusan klinis, keselamatan pasien, dan efisiensi kerja tenaga medis juga perlu diperhatikan.
Perjalanan Pengusaha Teknologi yang Mengembangkan AI Khusus Medis
Perjalanan Daniel Nadler menunjukkan bagaimana pengalaman membangun perusahaan teknologi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan di sektor berbeda. Setelah mengembangkan Kensho untuk analisis keuangan, ia membangun OpenEvidence dengan fokus pada pencarian informasi medis berbasis AI.
Perkembangan perusahaan tersebut ikut mendorong peningkatan nilai kepemilikan saham Nadler hingga kekayaannya diperkirakan mencapai sekitar Rp137,5 triliun. Meski begitu, angka tersebut merupakan estimasi yang dapat berubah mengikuti valuasi perusahaan dan kondisi pasar.
Nadler bukan pencipta ChatGPT, melainkan pengusaha di balik platform AI medis yang sering dijuluki sebagai ChatGPT untuk dokter. Perbedaan tersebut penting karena OpenEvidence dan ChatGPT merupakan produk yang dikembangkan oleh perusahaan berbeda dengan fokus penggunaan yang juga tidak sepenuhnya sama.
Ke depan, perkembangan OpenEvidence akan bergantung pada kemampuannya menyediakan informasi medis yang dapat dipercaya, mempertahankan kepercayaan tenaga kesehatan, dan menghadapi persaingan industri AI. Jika teknologi tersebut mampu memberikan manfaat nyata dengan tetap menjaga keselamatan pasien, OpenEvidence berpotensi terus memainkan peran dalam perubahan cara tenaga medis mengakses pengetahuan ilmiah.


















































You must be logged in to post a comment Login