Norton News – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Rupiah turun 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.913 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.899 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
“Pernyataan terbaru dari pejabat The Fed juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Menurut Ibrahim, Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan perlunya pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut untuk mengembalikan inflasi ke sasaran bank sentral sebesar 2 persen.
Sementara itu, Gubernur The Fed Christopher Waller juga mengisyaratkan kemungkinan penambahan suku bunga apabila data ekonomi menunjukkan kondisi yang sesuai dengan perkiraan. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menekan inflasi secara lebih cepat.
Pasar Menantikan Data Ekonomi Amerika Serikat
Pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh perhatian pelaku pasar terhadap sejumlah indikator ekonomi AS yang akan dirilis dalam pekan ini.
Data inflasi konsumen dan produsen menjadi perhatian utama karena dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter The Fed. Selain itu, data penjualan ritel dan pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS juga diperkirakan memengaruhi sentimen pasar keuangan global.
Ibrahim mengatakan, “Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed.”
Perkembangan tersebut menjadi penting bagi pasar karena potensi kenaikan suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar dan arus modal internasional. Ketika investor memperkirakan suku bunga AS akan meningkat, aset berbasis dolar berpotensi menjadi lebih menarik bagi pelaku pasar.
Perkembangan Geopolitik Turut Menjadi Perhatian
Dilansir dari ANTARA News – Selain kebijakan moneter, sentimen geopolitik juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa Ukraina dan Rusia telah menyepakati penghentian serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Pernyataan tersebut muncul setelah adanya kesepakatan terkait pasokan diesel AS dengan Moskow.
Trump juga mengumumkan kesepakatan gencatan senjata terkait energi antara kedua negara. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan masih menunggu rincian kesepakatan tersebut, sementara pihak Rusia belum memberikan komentar.
Perkembangan geopolitik tersebut menjadi bagian dari dinamika global yang dapat memengaruhi sentimen investor dan pergerakan pasar keuangan.
Kurs JISDOR Bank Indonesia Ikut Melemah
Pelemahan juga tercatat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia.
Pada Senin, kurs JISDOR berada di level Rp17.899 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.884 per dolar AS.
Pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta sentimen geopolitik. Pelaku pasar akan mencermati berbagai data ekonomi yang dirilis untuk memperkirakan arah pergerakan nilai tukar.











































You must be logged in to post a comment Login