Jakarta,Norton News –Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) optimistis penundaan kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) oleh Uni Eropa serta penerapan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat akan menjadi pendorong peningkatan ekspor kakao nasional.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyampaikan dalam diskusi di Jakarta bahwa dinamika kebijakan global tersebut menghadirkan peluang ekspansi pasar yang lebih luas bagi industri kakao Tanah Air. Menurutnya, momentum ini harus dimanfaatkan melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan agar kinerja industri semakin optimal.
Dialansir Dari Antara News – Uni Eropa telah menyetujui penundaan implementasi EUDR, sementara Amerika Serikat menetapkan tarif 0 persen untuk produk kakao dan cokelat asal Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai semakin memperbesar peluang peningkatan ekspor produk kakao olahan nasional.
Putu juga menekankan bahwa Amerika Serikat merupakan salah satu pasar utama ekspor kakao Indonesia. Pemerintah berharap pangsa pasar (market share) produk kakao olahan Indonesia di negeri tersebut dapat mencapai sekitar 11 persen. Ia menilai hasil negosiasi yang dicapai memberikan prospek positif bagi peningkatan penetrasi pasar.
Dari sisi kinerja, sekitar 35 persen total produksi kakao olahan nasional diserap oleh pasar ekspor. Dengan kebijakan tarif yang lebih kompetitif, peluang untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat pasokan bahan baku dalam negeri menjadi semakin terbuka.
Sepanjang 2024, industri pengolahan kakao nasional mencatat volume penggilingan (grinding) sebesar 422.176 ton atau tumbuh 4,43 persen, dengan kontribusi devisa mencapai 3,42 miliar dolar AS. Meski demikian, tantangan utama masih terletak pada ketersediaan bahan baku. Saat ini, tingkat utilisasi kapasitas produksi baru berada di kisaran 50–60 persen, sehingga masih tersedia ruang besar untuk peningkatan output apabila pasokan biji kakao domestik dapat ditingkatkan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Kemenperin mendorong penguatan ekosistem kakao dari hulu hingga hilir. Upaya yang ditempuh antara lain integrasi komoditas kakao ke dalam Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), program revitalisasi kebun, serta penguatan riset dan inovasi.
Selain itu, peran artisan kakao dinilai semakin penting dalam meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Jumlah pelaku artisan kakao yang pada akhir 2023 tercatat 31 perusahaan kini telah bertambah menjadi lebih dari 50 unit usaha, yang berkontribusi dalam proses grading dan pengembangan kakao premium.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO), Jeffrey Haribowo, menyampaikan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) pada 22–24 Juli 2026 di Yogyakarta. Konferensi bertema “The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World” tersebut diharapkan menjadi wadah strategis bagi pelaku industri, pemangku kepentingan, dan mitra internasional untuk memperkuat kolaborasi serta mendorong transformasi industri kakao nasional.
Dengan dukungan kebijakan global yang lebih kondusif, penguatan pasokan bahan baku, serta modernisasi industri, ekspor kakao olahan Indonesia diyakini akan semakin kompetitif dan memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri kakao dunia.
















































You must be logged in to post a comment Login