photo by Amel Emric
Jakarta, Norton News- Hujan deras yang disertai mencairnya salju kembali memicu krisis lingkungan di kawasan Eropa Tenggara. Sungai Drina, yang mengalir melintasi Bosnia, Serbia, dan Montenegro, dipenuhi tumpukan sampah berupa botol plastik, kaleng, tong bekas, hingga peralatan rumah tangga. Fenomena ini terjadi hampir setiap tahun ketika debit air sungai meningkat dan menyeret limbah dari berbagai titik pembuangan ilegal, dilansir dari CNBC Indonesia.
Kondisi tersebut bukanlah peristiwa baru. Aktivis lingkungan setempat, Dejan Furtula, menyebut persoalan sampah di Sungai Drina telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia menilai situasi ini sebagai masalah berulang yang telah menimbulkan dampak ekologis serius, khususnya di wilayah Visegrad, Bosnia timur.
Saat musim dingin tiba, tumpukan limbah di balik penghalang sampah Sungai Drina kerap meluap. Sampah yang tidak dikelola dengan baik, bahkan dibuang langsung ke aliran air, kemudian terbawa melintasi tiga negara Balkan. Kondisi ini diperparah oleh hujan lebat dan cuaca hangat yang tidak biasa dalam sepekan terakhir, yang menyebabkan sejumlah sungai dan anak sungai meluap hingga memaksa warga meninggalkan rumah mereka, dilansir dari Republika.
Beragam jenis limbah terlihat mengapung dan menumpuk, mulai dari botol plastik, tong berkarat, ban bekas, hingga potongan kayu. Akumulasi tersebut sebagian besar berasal dari anak-anak sungai yang bermuara ke Sungai Drina dan terus menambah volume sampah di sepanjang alirannya.
Keberadaan pagar sungai yang dipasang oleh pembangkit listrik tenaga air di hulu bendungan dekat Visegrad justru membuat kawasan tersebut menjadi titik penumpukan limbah regional. Menurut Furtula, meski aliran air dari Montenegro mulai surut, arus sampah yang terbawa sungai hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.
Sungai Drina sendiri membentang sepanjang 346 kilometer dari pegunungan barat laut Montenegro, melewati Serbia hingga Bosnia. Di luar musim banjir sampah, wilayah ini dikenal akan keindahan alamnya, bahkan menjadi destinasi populer untuk arung jeram di perbatasan Bosnia dan Serbia.
Dalam beberapa hari terakhir, diperkirakan sekitar 10.000 meter kubik sampah telah menumpuk di balik penghalang Sungai Drina. Jumlah serupa juga tercatat pada tahun-tahun sebelumnya. Ironisnya, tempat pembuangan akhir di kota Visegrad dinilai tidak memiliki kapasitas memadai untuk menampung seluruh limbah tersebut, sehingga menimbulkan risiko lingkungan dan kesehatan yang serius.
Masalah ini mencerminkan tantangan besar pengelolaan sampah di kawasan Balkan. Meski telah berlalu puluhan tahun sejak konflik Yugoslavia pada 1990-an, banyak negara di wilayah ini masih tertinggal dalam sistem perlindungan lingkungan. Tempat pembuangan ilegal masih tersebar luas, sementara pencemaran sungai dan polusi udara tinggi terus menjadi ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat.






















































You must be logged in to post a comment Login