Connect with us

Hi, what are you looking for?

Nasional

Apa penyebab banyaknya pengemis musiman yang muncul di Bogor ketika Ramadan tiba

BOGOR, NortonNews.com — Menjelang siang di kawasan Jembatan Layang Pakuan, Kota Bogor, terlihat lima perempuan paruh baya duduk berbaris di pinggir jalan. Mereka duduk di atas spanduk bekas berwarna hijau tua bertuliskan “Berbagi Kebaikan” yang dijadikan alas.

Spanduk tersebut digelar di trotoar beton yang sedikit miring dan dimanfaatkan sebagai tempat berteduh. Para perempuan itu duduk bersila, sebagian dengan kaki dilipat ke samping, sambil bersandar pada dinding pembatas yang bagian atasnya dicat hijau.

Sebagai sandaran, dinding itu memberi mereka sedikit kenyamanan sambil menunggu waktu berlalu hingga sore.Kelima perempuan itu terlihat memakai kerudung dengan warna yang beragam, dan salah satunya masih mengenakan masker kain bermotif yang menutupi sebagian wajahnya.

Dilansir dari Kompas.com Sesekali mereka menoleh ke jalan, mengamati kendaraan yang melintas di depan mereka. Di sisi trotoar, terlihat karung plastik besar berwarna hijau yang diletakkan di sudut, serta sandal-sandal sederhana yang tergeletak di sekitar alas spanduk tempat mereka duduk. Sambil berbincang ringan, kelima perempuan itu tetap mengarahkan pandangan ke jalan, menunggu kemungkinan ada pengendara yang memberi perhatian, bantuan, atau sedekah.

Salah satu dari mereka adalah Emi (70), warga Ciheleut, yang mengaku tidak datang ke lokasi tersebut sepanjang tahun. Ia bersama teman-temannya biasanya hanya hadir saat bulan Ramadan. “Kalau bulan Ramadan saja, hari biasa tidak,” ujar Emi saat ditemui di lokasi, Rabu (4/3/2026).

Menurut Emi, kehadirannya di jembatan layang bukan semata untuk mengharapkan bantuan, tetapi juga karena ingin berkumpul dengan teman-temannya. Ia merasa suasana di rumah lebih sepi dan waktu terasa lebih lambat jika hanya beraktivitas sendiri. Baginya, berkumpul dan berbincang dengan teman di luar rumah membuat hari terasa lebih ringan.

“Kadang kalau di rumah jam segini biasanya tidur. Daripada di rumah sendirian, lebih baik di sini kumpul. Kalau di rumah cuma duduk saja, kalau di sini bisa ngobrol,” katanya.

Ia biasanya datang menjelang siang dan bertahan hingga waktu berbuka. Selama berada di lokasi, mereka hanya duduk, berbincang, dan menunggu jika ada orang yang memberi makanan atau uang. “Saya datang sekitar jam 10.00 dan bertahan sampai sore, sampai habis Maghrib,” tambahnya.

Sedekah Tidak Selalu Datang

Meski Ramadan identik dengan semangat berbagi, Emi mengaku bantuan atau sedekah tidak selalu mereka terima setiap hari. Ada kalanya mereka pulang hanya membawa sedikit makanan, bahkan tidak mendapatkan apa pun. Tidak jarang juga ada orang yang memberi, tetapi jumlahnya terbatas sehingga tidak cukup untuk dibagikan kepada semua orang yang berkumpul di lokasi tersebut.

“Kadang ada, kadang kosong. Paling kalau ada yang kasih, cuma satu makanan saja,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembagian sedekah di jalan kerap menimbulkan perebutan di antara orang-orang yang berada di sekitar lokasi. Akibatnya, tidak semua orang kebagian.

“Kadang kalau yang di bawah itu suka rebutan, jadi tidak kebagian semuanya,” kata Emi.

Bantuan yang diberikan biasanya berupa makanan, takjil, atau sesekali uang yang diselipkan dalam amplop. Ia mengaku pernah menerima amplop berisi uang dengan jumlah yang menurutnya cukup besar.

“Kadang ada yang kasih amplop, isinya Rp100.000,” ungkapnya.Ia mengaku tetap menikmati waktu di lokasi itu, karena suasana di jalan lebih membuatnya betah dibandingkan berdiam diri di rumah.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

You May Also Like

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...

Nasional

Berasal dari bahasa sunda nama Curug berasal dari dua suku kata yaitu "Cur" yang berarti cai atau air, dan kata "Rugu" yang artinya ngocor...