MALANG, NortonNews.com – Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Malang, Jawa Timur, menjadi perhatian masyarakat setelah pengendara harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis Pertalite. Menanggapi peningkatan permintaan tersebut, Pertamina menambah pasokan BBM harian di wilayah Kota Malang hingga 67 kiloliter (KL) untuk menjaga ketersediaan bahan bakar dan membantu mengurai antrean.
Penambahan pasokan dilakukan ketika sejumlah SPBU mengalami peningkatan jumlah pembeli Pertalite. Kondisi ini membuat antrean kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat di beberapa lokasi pengisian BBM. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama bagi pengendara yang membutuhkan bahan bakar untuk bekerja, menjalankan usaha, maupun melakukan aktivitas sehari-hari.
Meski antrean meningkat, pihak Pertamina menyampaikan bahwa tambahan distribusi merupakan langkah antisipasi untuk menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan masyarakat. Perusahaan juga terus memantau ketersediaan BBM agar pengisian ulang di SPBU dapat dilakukan ketika persediaan mulai menipis.
Dilansir dari Kompas.com – Pertamina menambah pasokan Pertalite di tengah antrean yang terjadi di sejumlah SPBU Malang. Berdasarkan keterangan yang juga disampaikan dalam pemberitaan media lain pada Jumat, 16 Oktober 2026, pasokan BBM di Kota Malang ditingkatkan dari rata-rata sekitar 300 hingga 340 KL menjadi kurang lebih 407 KL per hari. Artinya, terdapat tambahan pasokan hingga 67 KL dibandingkan angka awal 340 KL per hari.
Langkah tersebut diharapkan membantu memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus menjaga agar pelayanan pengisian BBM tetap berjalan. Peningkatan pasokan juga menjadi bagian dari upaya mengantisipasi kenaikan konsumsi yang terpantau dalam beberapa waktu terakhir.
Permintaan Pertalite Meningkat
Sales Area Manager Retail Pertamina Malang, Angga Yudi Winata Putra, menjelaskan bahwa penambahan pasokan dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan BBM di wilayah Kota Malang. Berdasarkan pemantauan Pertamina, permintaan BBM mengalami kenaikan sekitar 7 hingga 8 persen.
Peningkatan tersebut membuat perusahaan menyesuaikan jumlah pasokan yang disalurkan ke SPBU. Jika sebelumnya volume penyaluran harian berada pada kisaran 300 hingga 340 KL, jumlah tersebut ditingkatkan menjadi sekitar 400 KL atau lebih per hari.
Penyesuaian pasokan dinilai penting agar kebutuhan konsumen dapat terpenuhi, terutama ketika terjadi peningkatan pembelian pada jenis BBM tertentu. Pertamina juga menyatakan akan terus memantau kondisi di lapangan untuk mengetahui perkembangan permintaan dan ketersediaan stok.
Angga menjelaskan bahwa penambahan pasokan bukan berarti persediaan BBM sebelumnya benar-benar habis di seluruh wilayah. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya konsumsi masyarakat. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa antrean panjang merupakan tanda bahwa stok BBM di Kota Malang telah mengalami kelangkaan.
Di sejumlah SPBU, pengendara memang sempat mengeluhkan sulitnya memperoleh Pertalite. Beberapa konsumen bahkan harus mendatangi lebih dari satu lokasi pengisian untuk mencari bahan bakar yang dibutuhkan. Kondisi tersebut menjadi perhatian Pertamina karena dapat mengganggu kenyamanan masyarakat apabila tidak segera ditangani.
Pertamina menyatakan akan berupaya memenuhi kebutuhan setiap SPBU dan memastikan pasokan tambahan disalurkan sesuai kebutuhan. Apabila persediaan di salah satu lokasi habis, pengisian kembali diupayakan secepatnya setelah pasokan tiba.
Peralihan Konsumen Diduga Menjadi Pemicu Antrean
Selain meningkatkan pasokan, Pertamina turut menyoroti perubahan pola pembelian BBM di tengah masyarakat. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap panjangnya antrean adalah peralihan sebagian konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi, khususnya Pertalite.
Perbedaan harga antara Pertalite dan Pertamax menjadi salah satu pertimbangan bagi pengendara ketika memilih bahan bakar. Ketika selisih harga dirasakan cukup besar, sebagian konsumen cenderung memilih BBM dengan harga lebih terjangkau. Akibatnya, jumlah pembeli Pertalite meningkat, sementara jalur pengisian BBM nonsubsidi di beberapa SPBU terlihat lebih lengang.
Kondisi tersebut menyebabkan permintaan tidak terbagi secara merata di antara jenis BBM yang tersedia. Meskipun beberapa produk BBM tetap dapat dibeli tanpa antrean panjang, jalur Pertalite justru dipadati kendaraan yang datang hampir bersamaan.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, sebelumnya turut meninjau kondisi ketersediaan BBM bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di SPBU Mergan pada Jumat, 16 Oktober 2026. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk melihat langsung situasi di lapangan sekaligus memastikan ketersediaan bahan bakar bagi masyarakat.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan pemerintah kota, konsumsi Pertalite mengalami peningkatan sekitar 11 persen, sedangkan konsumsi Pertamax dilaporkan mengalami penurunan sekitar 50 persen. Perubahan pola konsumsi tersebut memperkuat dugaan bahwa antrean berkaitan dengan meningkatnya permintaan terhadap BBM bersubsidi.
Pemerintah Kota Malang menyampaikan bahwa stok BBM masih tersedia dan distribusi tetap berjalan. Namun, peningkatan jumlah konsumen pada jenis bahan bakar tertentu membuat pelayanan di sejumlah SPBU menjadi lebih padat dibandingkan biasanya.
Masyarakat Diminta Tidak Melakukan Pembelian Berlebihan
Di tengah antrean yang terjadi, Pertamina mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Pembelian dalam jumlah yang tidak sesuai kebutuhan berpotensi menambah tekanan terhadap pasokan di SPBU serta memperpanjang antrean bagi pengendara lainnya.
Masyarakat diharapkan membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi mengenai kelangkaan. Pembelian secara berlebihan justru dapat membuat permintaan meningkat dalam waktu singkat, sehingga petugas membutuhkan waktu lebih lama untuk melayani konsumen.
Pertamina juga menegaskan pentingnya pemantauan distribusi secara berkala. Dengan mengetahui kondisi persediaan di setiap SPBU, penyaluran tambahan dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Upaya tersebut diharapkan membuat pengisian kembali berjalan lebih efektif dan mencegah kekosongan stok berlangsung terlalu lama.
Selain itu, pengaturan kendaraan di area SPBU diperlukan agar antrean tidak mengganggu arus lalu lintas di jalan sekitar. Kendaraan yang menunggu pengisian diharapkan tetap mengikuti arahan petugas dan tidak mengambil jalur yang dapat menghambat pengguna jalan lainnya.
Koordinasi antara Pertamina, pemerintah daerah, dan pihak terkait juga menjadi bagian penting dalam menangani situasi tersebut. Pemeriksaan langsung dapat membantu mengetahui penyebab antrean sekaligus memastikan langkah penanganan yang dilakukan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Bagi masyarakat yang menemukan antrean panjang, informasi mengenai kondisi SPBU sebaiknya diperoleh dari sumber resmi. Dengan demikian, warga dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang jelas dan tidak ikut memperburuk situasi akibat kepanikan.
Pertamina Terus Memantau Ketersediaan BBM
Penambahan pasokan hingga 67 KL per hari menjadi langkah yang diharapkan dapat membantu menyesuaikan ketersediaan BBM dengan meningkatnya permintaan di Kota Malang. Meski demikian, dampak penambahan pasokan terhadap panjang antrean tetap bergantung pada perkembangan konsumsi dan kelancaran penyaluran di masing-masing SPBU.
Pertamina perlu memastikan pasokan tambahan benar-benar menjangkau lokasi yang membutuhkan, terutama SPBU dengan tingkat pembelian tinggi. Pemantauan secara berkelanjutan juga dibutuhkan untuk menentukan apakah jumlah distribusi yang telah ditingkatkan masih mencukupi atau perlu disesuaikan kembali.
Sementara itu, masyarakat diharapkan mendukung upaya penanganan dengan menggunakan BBM secara bijak, membeli sesuai kebutuhan, serta mengikuti aturan ketika mengantre. Kesadaran konsumen dapat membantu menjaga pelayanan tetap tertib selama permintaan meningkat.
Antrean Pertalite di Kota Malang menjadi pengingat bahwa ketersediaan bahan bakar tidak hanya berkaitan dengan jumlah stok, tetapi juga dengan pola konsumsi dan pemerataan distribusi. Ketika permintaan meningkat pada satu jenis BBM, penyesuaian pasokan dan pengelolaan pelayanan menjadi penting agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Pertamina bersama pemerintah daerah diharapkan terus memantau kondisi di lapangan hingga antrean berangsur terkendali. Dengan penyaluran yang sesuai kebutuhan, koordinasi yang baik, dan perilaku pembelian yang wajar, pelayanan BBM di Kota Malang diharapkan dapat kembali berlangsung lebih lancar.


















































You must be logged in to post a comment Login