Jakarta,Norton News- Dwi (40), seorang pengemudi ojek online, tampak pasrah saat mengungkapkan keluhannya soal potongan aplikasi yang kian mencekik. Dengan program baru berbayar per perjalanan, penghasilan harian pengemudi terus tergerus. Sayangnya, Dwi menilai suara pengemudi tak pernah benar-benar memengaruhi kebijakan.
“Sekarang sudah capek, demo apapun rasanya percuma. Mereka buat aturan seenaknya, jadi demo tidak terlalu berpengaruh,” ujar Dwi saat ditemui di Cawang, Jakarta Timur, Selasa (3/2/2026).“Pemerintah juga sama saja. Aspirasi kami cuma ditampung terus, habis itu dibuang begitu saja. Tak ada tindak lanjut, baik dari pemerintah maupun DPR,” keluh Dwi.
Dilansir Dari Kompas- Dwi mengaku sudah tak menaruh harapan lagi pada pemerintah. Berbagai upaya telah ditempuh, mulai melapor ke DPR hingga ke Presiden Prabowo, namun hasilnya nihil. “Enggak ada harapan. Biarin saja, suka-suka mereka. Mau berharap sama siapa lagi?” keluhnya. Berbeda dengan Dwi, pengemudi ojol lain, Dicky (23), masih menyimpan harapan agar potongan aplikasi diterapkan lebih adil. “Harapannya sih lebih fair, kayak awal-awal dulu, potongannya cuma sedikit, 5–10 persen, enggak kayak sekarang yang 20 persen,” ujarnya saat ditemui terpisah di Cawang, Selasa.
Dwi menilai potongan yang besar membuat penghasilan pengemudi ojol kini tak lagi sepadan dengan waktu dan tenaga yang mereka habiskan di jalan.“Memang potongannya besar dari tahun ke tahun. Mau ke manapun, percuma juga, enggak bakal direspons,” keluh Dicky. Kini, penghasilannya hanya sekitar Rp 2 juta per bulan, jauh menurun dibanding beberapa tahun lalu. “Dulu dari pagi sampai sore bisa pegang Rp 200.000, sekarang paling mentok Rp 100.000. Rata-rata sebulan kerja di ojol cuma Rp 2 juta,” ujarnya.














































You must be logged in to post a comment Login