Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan jatuh setelah menghantam lereng Gunung Bulusaraung di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat tersebut lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar pada pukul 08.08 WIB.Pesawat ATR 42-500 itu disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menjalankan misi surveilans di perairan Indonesia. Pemerintah menegaskan bahwa saat kecelakaan terjadi, pesawat tersebut berada dalam kondisi layak terbang.
Namun, setelah insiden jatuhnya pesawat tersebut, sejumlah fakta baru mulai terungkap, termasuk adanya laporan keluhan pada mesin.Selain itu, tragedi ini juga meninggalkan duka mendalam bagi Basarnas, mengingat pesawat ATR 42-500 tersebut sebelumnya sempat membantu operasi pencarian kapal yang terbakar di Lampung pada bulan lalu.
Dilansir Dari KOMPAS com-Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M. Syafi’i menyampaikan bahwa pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan itu sebelumnya pernah membantu tim SAR dalam operasi pencarian korban kapal terbakar di perairan Lampung. Ia mengatakan, situasi tersebut kini berbalik, karena Basarnas harus melakukan pencarian terhadap pesawat yang sama, hal yang menimbulkan kesedihan mendalam bagi jajarannya.
Kapal yang dimaksud adalah KM Maulana-30 yang mengalami kebakaran di perairan Belimbing, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, pada Sabtu (20/12/2025). Dalam peristiwa tersebut, 25 orang berhasil diselamatkan, sementara delapan korban lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.
Operasi yang menjadi perhatian kami selama periode Nataru salah satunya adalah kebakaran KM Maulana-30 di perairan Belimbing, Lampung,” kata Syafi’i dalam rapat bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Ia menambahkan bahwa operasi tersebut meninggalkan kesan mendalam, karena saat itu Basarnas mendapat dukungan dari pesawat yang kini justru tengah mereka cari. Syafi’i juga menyampaikan bahwa tiga penumpang yang menjadi korban dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 merupakan bagian dari tim yang ikut membantu pencarian korban KM Maulana-30. Menurutnya, Basarnas mengenal dengan baik ketiga personel tersebut karena keterlibatan mereka dalam misi tersebut.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyatakan bahwa pesawat ATR 42-500 tersebut memang sempat mengalami gangguan pada mesin tiga hari sebelum mengalami kecelakaan di Sulawesi Selatan.Namun, pada hari pelaksanaan penerbangan, yakni Sabtu (17/1/2026), tidak terdapat laporan keluhan apa pun dari awak pesawat ATR 42-500.
Soerjanto menjelaskan bahwa informasi tersebut berasal dari wawancara dengan rekan-rekan di Indonesia Air Transport (IAT), pemilik ATR 42-500. “Pada 17 Januari 2026, pesawat ATR dengan registrasi PK-THT lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 08.08 WIB,” ujar Soerjanto.
Perlu saya jelaskan bahwa untuk penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta, kami telah mewawancarai pihak IAT dan mendapatkan konfirmasi bahwa pesawat dalam kondisi baik dan tidak ada keluhan. Masalah mesin yang pernah muncul tiga hari sebelumnya tidak dilaporkan saat penerbangan terakhir,” tambahnya.Selain itu, Kepala Basarnas Syafi’i juga membeberkan hasil investigasi terkait data 13.000 langkah kaki yang tercatat di smartwatch milik Co-Pilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan.
Syafi’i menjelaskan bahwa setelah diperiksa, langkah kaki yang terekam di smartwatch Farhan sebenarnya terjadi beberapa bulan lalu, bukan setelah pesawat ATR 42-500 jatuh. “Mengenai data pergerakan dari smartphone, kami telah dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan, dan yang bersangkutan sudah dimintai keterangannya,” ujarnya.
Setelah diperiksa, ternyata rekaman itu berasal dari beberapa bulan lalu saat korban masih berada di Yogyakarta, dan informasi ini sudah diklarifikasi pagi tadi,” tambahnya. Syafi’i menyatakan bahwa keluarga Farhan telah memahami penjelasan dari Basarnas dan polisi. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tetap menghargai perasaan keluarga yang masih berharap Farhan selamat. “Keluarga sudah memahami situasinya, dan kami juga memahami perasaan mereka. Oleh karena itu informasi ini kami sampaikan secara terbuka. Mohon doanya, karena kami telah menurunkan banyak pesawat, termasuk pesawat Boeing dan tiga helikopter, serta melakukan modifikasi cuaca dengan harapan kondisi segera membaik,” ujar Syafi’i.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menjelaskan kondisi cuaca di Maros, Sulawesi Selatan, saat pesawat ATR 42-500 jatuh. Ia menyebutkan bahwa di area Bandara Sultan Hasanuddin, tujuan pendaratan pesawat, terdapat awan cumulonimbus (Cb). “Pada saat kejadian, 17 Januari 2026 pukul 12.30 WITA, METAR menunjukkan angin bertiup dengan kecepatan 13 knot dan jarak pandang sekitar 9 km di sekitar bandara. Suhu tercatat 31°C dan tekanan udara 1.007 mb, keduanya dalam kondisi normal,” jelas Teuku.
Cuaca di sekitar bandara berupa hujan ringan di beberapa bagian dengan awan cumulonimbus setebal 1-2 oktas pada ketinggian 1.700 kaki, serta awan lebih tebal 3-4 oktas pada ketinggian sekitar 1.800 kaki. Memang terdapat pengaruh awan Cb yang cukup padat di area bandara,” tambahnya. Menurut Teuku, kondisi cuaca tersebut masih tergolong relatif stabil untuk penerbangan pesawat.
Namun, menurut Teuku, keberadaan awan cumulonimbus di jalur pendekatan saat pendaratan tetap perlu diwaspadai. “Berdasarkan citra satelit Himawari IR Enhanced pada 17 Januari 2026 pukul 11.00–13.30 WITA, suhu puncak di lokasi kejadian berkisar antara -48°C hingga 21°C, menandakan adanya awan tinggi dan awan tebal di sekitar wilayah tersebut,” jelas Teuku.
Sementara itu, Basarnas masih berharap dapat menemukan korban pesawat ATR 42-500 dalam keadaan selamat. Hingga saat ini, tim SAR baru berhasil menemukan dua dari sepuluh penumpang pesawat tersebut.Kedua korban yang ditemukan dilaporkan meninggal dunia. “Pada hari ketiga, sekitar pukul 14.00 WITA, korban kedua berhasil ditemukan. Korban pertama adalah laki-laki, sedangkan korban kedua adalah perempuan,” ujar Syafi’i.
Dari dua korban yang berhasil kami temukan, kami tetap berharap bisa segera menemukan penumpang lainnya, dan semoga masih ada yang selamat selama golden time,” tambah Syafi’i. Ia menjelaskan, saat tim SAR menemukan reruntuhan pesawat dengan jarak antar serpihan mencapai 700 meter, sempat muncul rasa pesimis. Namun, saat melihat korban dalam kondisi utuh, tim langsung menaruh harapan bisa menemukan korban yang masih hidup. “Memang ketika melihat puing-puing pesawat, beberapa serpihan berjarak hingga 700 meter. Awalnya kami agak pesimis, tapi begitu melihat korban dalam kondisi utuh, harapan untuk menemukan yang selamat langsung muncul,” kata Syafi’i.














































You must be logged in to post a comment Login