Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta
Editor: Rudi, NORTON News
Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart Hall atau Hall adalah seorang teoris yang lahir pada 3 Februari 1932 dan meninggal pada 10 Februari 2014 di usia 82 tahun, hidup dan bekerja di Inggris Raya sejak tahun 1951. Ia merupakan seorang Akademisi Jamaika-Inggris. Stuart merupakan teoris dalam aktivis politik, kebudayaan, dan sosiolog Marxis. Stuart Hall merupakan lulusan Rhodes di Merton College, Oxford, Direktur Pusat Studi Budaya Kontemporer Birmingham dan Profesor Sosiologi di Universitas Terbuka. Dia telah membawakan sejumlah program televisi termasuk serial BBC Redemption Songs dan berbagai program untuk Universitas Terbuka. Stuart Hall, bersama dengan kedua temannya yaitu Raymond Williams dan Richard Hoggart, adalah sekelompok orang yang mendirikan aliran pemikiran yang dikenal sebagai Kajian Budaya Birmingham atau Aliran Kajian Budaya Inggris.
Hall juga adalah seorang Presiden Asosiasi Sosiologi Inggris dan anggota Komisi Runnymede untuk Masa Depan Multi-Etnis Inggris. Ia juga mengetuai organisasi seni Iniva dan Autograph ABP. Stuart Hall adalah editor pertama New Left Review, editor pendiri jurnal Soundings dan penulis banyak artikel dan buku tentang politik dan budaya termasuk Pemolisian Krisis dan ‘The Great Moving Right Show’ (untuk Marxisme Hari Ini), di mana dia terkenal menciptakan istilah ‘That cherisme’.
Sebagai seorang Teoris, Hall banyak membahas tentang hegemoni dan kajian budaya. Hall meyakini penggunaan fungsi bahasa sebagai sarana kekuasaan, institusi dan ekonomi politik. Dari perspektif ini, Hall mengatakan bahwa manusia adalah pencipta dan konsumen budaya. Pada teori Gramsian, hegemoni mengacu pada “memaksa” dan “memungkinkan” produksi sosiokultural. Bagi Hall, budaya bukan sesuatu yang hanya dapat diapresiasi atau dipelajari, tetapi juga sebagai tempat aksi dan intervensi sosial kritis.
Hall juga adalah salah seorang tokoh teori resepsi dan pengembang model yang membahas tentang enkoding dan dekoding. Pendekatan analisis tekstual yang dilakukan Hall ini berfokus pada negosiasi dan oposisi para audiens. Dalam hal ini, Hall bermaksud bahwa audiens tidak menerima begitu saja kendali mengenai teks-sosial. Selain itu, Hall juga menjabarkan mengenai statistika kejahatan. Menurut Hall, sering terjadi manipulasi untuk keperluan politik dan ekonomi. Kepanikan moral seperti perampokan, dapat diciptakan untuk dukungan moral, salah satunya penertiban krisis. Media memiliki peran yang cukup penting dalam produksi sosial berita, hal ini dikarenakan agar laporan kejahatan dapat terlihat dengan jelas.
Teori resepsi yang diperkenalkan oleh Hall ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari secara implisit. Dimana masyarakat dapat melihat simbol, teks, tanda, dan gambar yang ada pada konten media. Dalam hal ini, masyarakat tidak menerima beberapa aspek tersebut secara pasif, namun masyarakat memiliki posisi dan otoritas dalam menafsirkan dan memaknai tayangan berdasarkan pengalaman yang pernah dialami serta konteks sosial yang terjadi pada masyarakat.
Salah satu karya dari Hall adalah studi yang menunjukkan keterkaitan antara media massa dan prasangka rasial, memiliki reputasi yang sangat baik dan berpengaruh. Karya Hall ini dianggap sebagai teks dasar yang penting bagi kajian budaya kontemporer. Dalam karya ini, Hall juga membahas konsep-konsep identitas ras, kebudayaan, dan etnisitas, terutama dalam pembentukan identitas politik diasporik untuk orang-orang kulit hitam. Hall percaya akan identitas merupakan hasil yang terus berjalan dari budaya dan sejarah, serta bukan merupakan hasil yang sudah selesai.
Dalam esai yang ditulis oleh Hall dengan judul “Reconstruction Work: Images of Postwar Black Settlement“, ditekankan pertanyaan mengenai memori dan visualisasi sejarah dalam kaitannya dengan fotografi sebagai teknologi kolonial. Untuk dapat mengerti dan menulis mengenai sejarah migrasi kulit hitam di Inggris pada masa pasca-perang, seseorang membutuhkan pandangan yang luas untuk dapat memeriksa arsip sejarah yang terbatas dengan kritis. Dalam hal ini, bukti fotografis menjadi amat penting dan berharga. Namun, gambar fotografis tidak jarang dianggap sebagai sebuah media yang lebih objektif jika dibandingkan dengan representasi lainnya, hal ini dapat berbahaya karena seseorang harus memeriksa siapa yang menciptakan gambar tersebut, apa tujuannya, sampai bagaimana cara mereka memajukan agendanya. Sebagai salah satu contoh, dalam konteks di Inggris pasca-perang, hasil foto seperti yang ditampilkan dalam artikel dengan judul “Thirty Thousand Colour Problems” mengkonstruksikan perpindahan kulit hitam di Inggris sebagai “masalah”. Dokumentasi foto tersebut mengkonstruksikan pernikahan antar ras sebagai pusat dan inti dari masalah.
Terdapat pengaruh politik yang diciptakan Hall yang melebar sampai Partai Buruh, ini mungkin adanya keterkaitan antara artikel-artikel berpengaruh yang Hall tulis untuk beberapa jurnal teoretis Partai Komunis Inggris yang berjudul Marxism Today yang menantang pandangan orang-orang yang mendukung konservatisme politik, pasar, dan organisasional secara umum. Hall menyampaikan pemikirannya tentang enkoding dan dekoding dalam berbagai publikasi dan diskusi. Hall pertama kali menyampaikan pemikiran ini dalam “Encoding and Decoding in the Television Discourse” pada tahun 1973, sebuah paper yang ditulis untuk Majelis Eropa tentang pelatihan dalam pembacaan kritis bahasa Televisi Pada tahun 1974, esai ini dipresentasikan pada sebuah pertemuan dengan topik “Broadcasters and the Audience” di Wina.
Hall memiliki pengaruh yang besar untuk bidang dan kajian budaya. Sampai saat ini, banyak istilah yang Hall gunakan dalam teks yang ditulisnya, masih digunakan dalam bidang ini. Tulisannya pada tahun 1973 dilihat sebagai sebuah titik perpindahan riset menuju strukturalisme, serta memberikan pandangan yang mendalam mengenai beberapa perkembangan teoritis utama yang ditelitinya dalam Pusat Kajian Budaya Kontemporer.
Hall menggunakan pendekatan Semiotika, serta melengkapi karya Roland Barthes dan Umberto Eco. Tulisannya menantang asumsi-asumsi yang sudah lama dipegang orang mengenai cara membuat, pertukaran, dan penerimaan pesan media. Terdapat empat komponen yang ditentang oleh Hall dalam model komunikasi massa. Hall berargumen bahwa makna tidak dapat ditentukan oleh pengirim pesan, pesan selalu punya maksud dan tidak transparan, dan audiens bukan penerima makna yang pasif. Sebagai contoh, sebuah film dokumenter mengenai kehidupan seorang pencari barang rongsok yang berupaya untuk menggambarkan produsennya secara simpatik, tidak bisa menjamin bahwa para penontonnya akan merasakan hal yang sama simpatik. Meskipun film yang diproduksi sangat realistis dan menyampaikan fakta yang terjadi di lapangan, dokumenter harus tetap memiliki two ways communication melalui sistem tanda yang mendistorsi niat dari produsen dan memberikan perasaan berlawanan dengan audiens pada waktu yang sama. Distorsi yang dikemukakan disini mengartikan sebagai suatu perubahan. Perubahan dalam film tersebut sudah ada di dalam sistem dan bukan bagian dari kegagalan produsen maupun penonton. Hall mengatakan bahwa ada ketidak-serasian antara dua sisi dalam pertukaran komunikatif, yaitu antara encoding dan decoding.
Encoding mengacu pada bahwa penyebar informasi mentransformasikan pesan, makna, maksud atau sudut pandang yang disampaikan, melalui bentuk verbal atau non-verbal, menjadi kode simbolik atau bentuk informasi yang memiliki aturan tertentu dan mudah dipahami serta diterjemahkan. Seperti bentuk komunikasi atau bahasa lainnya, proses pengkodean diatur melalui pengoperasian kode-kode dalam rantai semantik suatu wacana. Decoding berarti proses penerima informasi menginterpretasikan kode, dan/atau menciptakan kembali ideologi yang disampaikan. Kegiatan decoding atau interpretasi decoder mencerminkan kompleksitas proses komunikasi dan keragaman masyarakat.
Encoding adalah bagian dari komunikasi massa, efek yang diharapkan dalam praktik sosial juga bergantung pada aktivitas decoding penerima. Menurut teori Hall, penerima berperan aktif dalam kajian media dan budaya. Dalam domain komunikasi media, khalayak dapat dilihat sebagai penerima pesan televisi (atau media lainnya) dan sumber informasi. Penerimaan informasi media merupakan mata rantai dalam proses produksi yang merupakan titik tolak informasi.

Figure 1: Encoding and Decoding Model (Hall 1973)
Figure 1 dirancang oleh Hall sebagai bagan model encoding dan decoding yang dapat membantu orang untuk memahami proses komunikasi dan isinya yang lebih dalam dengan jelas. Model ini memperbaiki model komunikasi massa tradisional yang mengkonseptualisasikan proses penyebaran informasi sebagai model linier satu arah dari “pengirim → informasi → penerima” daripada struktur hubungan yang kompleks. Dalam model Hall, ada serangkaian “variabel” yang ada di sisi encoder dan decoder, seperti yang ditunjukkan Figure 1, yang melibatkan “kerangka kerja pengetahuan (frameworks of knowledge)“, “hubungan produksi (relations of production)“, dan “infrastruktur teknis (technical infrastructure)“. Produser media menyandikan makna melalui berbagai teks dari sudut pandang tertentu, dan dalam berbagai struktur ekonomi dan teknis (misalnya studio TV atau syuting film independen). Proses penyandian mencakup “apa yang secara sadar ingin dikatakan oleh produsen di dalam teks mereka”, namun juga “mempertimbangkan faktor-faktor produksi yang kompleks yang melampaui maksud penulis”. Model ini menyampaikan bahwa ada semacam ideologi di balik konstruksi wacana yang dibawa oleh teknologi. Sementara itu, decoder juga mengandung semacam ideologi di balik konstruksi wacana, serta potensi pengaruh produksi dan teknologi. Ini juga menunjukkan dan menghasilkan keragaman decoding pada penerima pesan.










































You must be logged in to post a comment Login