MALANG, NortonNews.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Malang dan Kota Batu, Jawa Timur. Dalam kurun waktu satu hari, tiga titik api terpantau muncul di wilayah kerja Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang. Petugas gabungan dikerahkan untuk memadamkan api agar tidak meluas ke kawasan hutan maupun lingkungan di sekitarnya.
Ketiga lokasi kebakaran tersebut berada di kawasan Keraton Gunung Kawi, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang; kawasan di atas Gua Jepang, Desa Tlekung, Kota Batu; serta hutan di atas kawasan wisata Coban Rondo, Desa Pandesari, Kabupaten Malang. Masing-masing lokasi memiliki kondisi medan yang berbeda sehingga proses penanganannya membutuhkan strategi dan upaya yang disesuaikan dengan situasi lapangan.
Kebakaran tersebut menjadi perhatian karena sebagian titik api berada di kawasan hutan yang sulit dijangkau. Jarak menuju lokasi, kondisi medan yang terjal, serta angin kencang menjadi sejumlah kendala dalam proses pemadaman. Petugas harus berupaya membatasi pergerakan api agar tidak menjalar ke area hutan lainnya.
Dilansir dari detikJatim – Administratur Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko, menyampaikan bahwa upaya pemadaman dilakukan pada Jumat, 16 Oktober 2026. Perhutani bekerja sama dengan masyarakat sekitar, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta unsur relawan untuk menangani kebakaran di tiga lokasi tersebut.
Dari ketiga titik yang dilaporkan, satu titik di kawasan Gua Jepang, Kota Batu, telah dinyatakan padam. Sementara itu, dua lokasi lainnya masih dalam proses pemadaman hingga Jumat sore. Petugas terus berupaya mengendalikan api agar tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap kawasan hutan.
Kebakaran Terjadi di Tiga Lokasi Berbeda
Kelik menjelaskan bahwa kebakaran hutan di wilayah Pandesari, Kabupaten Malang, pertama kali dilaporkan pada Kamis, 15 Oktober 2026, sekitar pukul 11.20 WIB. Informasi tersebut menjadi awal bagi petugas untuk melakukan penanganan terhadap api yang membakar kawasan hutan di atas objek wisata Coban Rondo.
Proses pemadaman di lokasi tersebut menghadapi sejumlah tantangan. Jarak menuju titik kebakaran dan kondisi angin yang kencang menyulitkan petugas dalam mengendalikan api. Situasi tersebut membuat penanganan berlangsung lebih lama, bahkan masih dilakukan hingga Jumat sore.
Angin yang bertiup kencang menjadi faktor yang perlu diwaspadai ketika kebakaran terjadi di kawasan dengan vegetasi kering. Dalam kondisi seperti itu, api berpotensi bergerak ke area lain apabila tidak segera dibatasi. Petugas harus memperhatikan arah angin dan kondisi lingkungan saat menentukan langkah pemadaman.
Selain di Pandesari, titik api juga terpantau di kawasan Keraton Gunung Kawi, Kecamatan Ngajum. Kebakaran di lokasi ini diketahui pada Jumat sekitar pukul 08.30 WIB. Setelah menerima informasi tersebut, petugas melakukan koordinasi untuk menjangkau area yang terbakar.
Titik kebakaran ketiga berada di kawasan atas Gua Jepang, Desa Tlekung, Kota Batu. Api di lokasi tersebut terpantau sekitar pukul 14.00 WIB pada hari yang sama. Dengan munculnya titik api di tiga tempat, personel gabungan harus membagi upaya penanganan sesuai kebutuhan masing-masing lokasi.
Perbedaan waktu ditemukannya api menunjukkan pentingnya pemantauan kawasan hutan secara berkelanjutan. Deteksi sedini mungkin dapat membantu petugas mengambil tindakan lebih cepat sebelum kebakaran meluas. Informasi dari masyarakat yang berada di sekitar hutan juga berperan dalam mempercepat penyampaian laporan kepada pihak berwenang.
Medan Keraton Gunung Kawi Sulit Dijangkau
Kebakaran di kawasan Keraton Gunung Kawi menjadi salah satu titik yang membutuhkan upaya ekstra. Lokasi api berada cukup jauh dari akses yang dapat dilalui kendaraan, sedangkan kondisi medan di sekitarnya terjal dan relatif terisolasi.
Kelik mengatakan bahwa petugas harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki untuk mencapai lokasi kebakaran. Waktu perjalanan diperkirakan membutuhkan sekitar dua hingga tiga jam, sehingga proses penanganan tidak dapat dilakukan dengan mudah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi personel yang bertugas. Selain harus membawa perlengkapan yang diperlukan, petugas juga perlu memperhitungkan keselamatan selama perjalanan menuju lokasi. Medan yang sulit membuat koordinasi dan perencanaan penanganan menjadi sangat penting.
Pemadaman di kawasan hutan berbeda dengan penanganan kebakaran di permukiman yang umumnya memiliki akses jalan lebih mudah. Di kawasan hutan, petugas perlu menyesuaikan metode pemadaman dengan kondisi vegetasi, kontur tanah, arah angin, dan ketersediaan jalur menuju titik api.
Apabila akses kendaraan terbatas, penanganan dapat membutuhkan tenaga lebih besar dan waktu lebih panjang. Karena itu, dukungan berbagai unsur menjadi penting agar proses pemadaman dapat berjalan secara efektif.
Petugas juga perlu memastikan bahwa api yang terlihat telah padam tidak menyisakan bara tersembunyi. Bara yang masih berada di antara daun kering, ranting, atau material vegetasi berpotensi menyala kembali ketika terkena angin. Pemeriksaan lanjutan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran susulan.
Perhutani Dibantu BPBD, TNI-Polri, dan Warga
Dalam menangani tiga titik kebakaran tersebut, Perhutani tidak bekerja sendiri. Sejumlah unsur dilibatkan untuk memperkuat penanganan di lapangan, mulai dari BPBD, kepolisian melalui Polsek Ngajum, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), relawan, hingga masyarakat setempat.
Kelik menegaskan bahwa dukungan warga menjadi bagian penting dalam upaya pemadaman. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dapat membantu menyampaikan informasi mengenai kondisi lokasi, akses menuju titik api, serta perkembangan situasi yang diketahui di lapangan.
Keterlibatan berbagai pihak juga membantu memperkuat koordinasi selama penanganan. Setiap unsur memiliki peran sesuai kapasitasnya, baik dalam mendukung pemadaman, membantu mobilisasi petugas, maupun memantau kondisi di sekitar kawasan yang terbakar.
Kerja sama seperti ini diperlukan karena kebakaran hutan berpotensi berkembang dengan cepat, terutama ketika cuaca dan kondisi vegetasi mendukung penyebaran api. Penanganan yang terlambat dapat meningkatkan risiko meluasnya area terdampak serta menambah kesulitan petugas untuk mengendalikan kobaran api.
Selain pemadaman, upaya penanganan perlu disertai pemantauan terhadap titik-titik yang telah berhasil dikendalikan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bagian yang masih menyimpan panas atau bara yang dapat memicu kebakaran kembali.
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah munculnya kebakaran baru. Informasi mengenai asap atau titik api yang terlihat dari permukiman maupun jalur perjalanan perlu segera disampaikan kepada petugas. Pelaporan dini dapat membantu tim menentukan langkah penanganan sebelum api menyebar lebih jauh.
Satu Titik Padam, Dua Lokasi Masih Ditangani
Hingga Jumat sore, Perhutani melaporkan bahwa kebakaran di kawasan Gua Jepang, Kota Batu, telah berhasil dipadamkan. Sementara itu, dua titik lainnya, yakni di Keraton Gunung Kawi dan kawasan hutan di atas Coban Rondo, masih dalam proses penanganan.
Perbedaan kondisi di setiap lokasi membuat waktu pemadaman tidak dapat disamakan. Area yang mudah dijangkau memungkinkan petugas melakukan penanganan lebih cepat, sedangkan lokasi yang jauh dan terisolasi memerlukan waktu tambahan untuk mobilisasi serta pengendalian api.
Meski satu titik telah dinyatakan padam, pemantauan tetap diperlukan untuk memastikan api tidak kembali menyala. Petugas perlu memeriksa area terdampak dan memperhatikan kondisi lingkungan di sekitarnya, terutama jika masih terdapat vegetasi kering dan angin kencang.
Untuk dua lokasi yang masih terbakar, prioritas penanganan adalah mengendalikan api agar tidak meluas. Petugas perlu memperhatikan batas kawasan terdampak dan mengambil langkah yang sesuai dengan perkembangan kondisi di lapangan.
Informasi mengenai jumlah luas hutan yang terbakar, penyebab pasti kebakaran, maupun dampak keseluruhan perlu mengacu pada hasil pendataan dan keterangan resmi dari pihak terkait. Tidak semua kebakaran dapat langsung dipastikan penyebabnya hanya berdasarkan lokasi munculnya api atau kondisi cuaca.
Karena itu, penyelidikan dan pemeriksaan lapangan dibutuhkan apabila terdapat indikasi penyebab tertentu. Hasil pemeriksaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak berulang.
Masyarakat Diminta Waspada terhadap Risiko Karhutla
Kejadian kebakaran di Malang dan Kota Batu menjadi pengingat bahwa kawasan hutan membutuhkan perhatian bersama, terutama ketika kondisi lingkungan berpotensi mempermudah penyebaran api. Angin kencang, vegetasi kering, dan akses yang sulit dapat membuat kebakaran berkembang menjadi persoalan yang lebih besar apabila tidak segera ditangani.
Masyarakat di sekitar kawasan hutan diharapkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Pembakaran sampah atau sisa vegetasi di dekat area berhutan perlu dihindari, terlebih apabila api tidak dapat diawasi secara terus-menerus hingga benar-benar padam.
Warga juga diimbau untuk tidak menganggap remeh titik api kecil. Dalam kondisi tertentu, api yang awalnya terbatas dapat menjalar ke daun kering dan ranting di sekitarnya. Jika tertiup angin, penyebarannya dapat berlangsung lebih cepat dan menyulitkan proses pemadaman.
Apabila menemukan asap atau api di kawasan hutan, masyarakat sebaiknya segera melaporkan kejadian tersebut kepada petugas terkait. Warga juga perlu menghindari tindakan pemadaman mandiri apabila lokasi berbahaya, medan terlalu sulit, atau api telah membesar. Keselamatan harus menjadi prioritas agar tidak muncul korban baru ketika upaya penanganan dilakukan.
Perhutani bersama unsur terkait diharapkan terus memantau perkembangan di ketiga lokasi tersebut sampai seluruh titik api berhasil dikendalikan. Penanganan yang cepat, koordinasi yang kuat, serta kepedulian masyarakat menjadi bagian penting untuk melindungi kawasan hutan di Kabupaten Malang dan Kota Batu.


















































You must be logged in to post a comment Login