RIYADH, NortonNews.com – Konflik antara kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan Arab Saudi kembali memanas setelah serangkaian serangan menyasar sejumlah bandara di wilayah kerajaan tersebut. Serangan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga mengganggu aktivitas penerbangan serta menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas sejumlah serangan tersebut. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, yang menjadi salah satu pusat penerbangan penting Arab Saudi, dilaporkan mengalami serangan berulang dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai alasan Houthi memilih bandara sebagai sasaran dan tujuan strategis yang ingin mereka capai melalui eskalasi tersebut.
Dilansir dari detikNews.com – serangan terhadap bandara-bandara Saudi berlangsung ketika pertempuran antara Houthi yang bersekutu dengan Iran dan pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi kembali meningkat. Konflik yang sebelumnya mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2022 kini kembali memburuk.
Sejumlah Bandara Arab Saudi Menjadi Sasaran
Salah satu lokasi yang paling terdampak adalah Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Bandara tersebut dilaporkan mengalami serangan sebanyak empat kali dalam kurun waktu lima hari. Rentetan insiden ini menimbulkan korban dan membuat aktivitas penerbangan di ibu kota Arab Saudi menghadapi gangguan serius.
Pada 7 Oktober 2026, otoritas Saudi melaporkan satu orang meninggal dunia dan delapan orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan di area bandara. Sehari kemudian, serangan kembali menelan korban, termasuk seorang pilot maskapai penerbangan dan dua warga negara Saudi. Sejumlah orang lainnya juga dilaporkan terluka.
Serangan berikutnya terjadi pada 10 Oktober. Insiden tersebut dilaporkan menewaskan belasan orang dan menyebabkan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Pada 11 Oktober, serangan kembali dilaporkan terjadi dan mengakibatkan satu orang meninggal dunia serta puluhan lainnya terluka. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan kepanikan di area terminal, termasuk di antara calon penumpang dan jemaah umrah yang tengah bersiap melakukan perjalanan.
Selain Riyadh, Bandara Internasional King Fahd di Dammam juga disebut menjadi sasaran. Houthi mengklaim melakukan serangan terhadap bandara yang berada di kota pelabuhan industri di pesisir Teluk tersebut pada 11 Oktober.
Bandara Internasional Abha turut terdampak. Pada 7 Oktober, serangan terhadap fasilitas bandara itu dilaporkan menyebabkan dua orang meninggal dunia dan 28 orang lainnya terluka. Sementara itu, Bandara Internasional King Abdullah bin Abdulaziz di Jazan dilaporkan mengalami serangan pada 6 Oktober yang mengakibatkan tiga orang terluka.
Bandara Najran, yang juga berada di wilayah selatan Arab Saudi, dilaporkan terkena serangan pada tanggal yang sama. Otoritas setempat menyampaikan adanya korban dengan luka ringan.
Serangan terhadap sejumlah lokasi tersebut menunjukkan bahwa gangguan keamanan tidak hanya terpusat di Riyadh. Infrastruktur penerbangan di beberapa wilayah Arab Saudi turut menghadapi risiko di tengah konflik yang terus berkembang.
Mengapa Houthi Menargetkan Bandara?
Analis konflik sekaligus penasihat di European Institute of Peace, Hisham al-Omeisy, menilai serangan terhadap bandara merupakan bagian dari pendekatan Houthi untuk meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi. Menurut analisisnya, kelompok tersebut cenderung mengambil langkah eskalasi untuk mendorong pihak Saudi memberikan konsesi yang mereka inginkan.
Al-Omeisy juga memperkirakan bahwa sasaran serangan Houthi berpotensi meluas ke infrastruktur strategis lain, termasuk jaringan pipa minyak dan fasilitas energi. Prediksi ini muncul karena serangan terhadap fasilitas penting dapat menimbulkan dampak yang lebih luas, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.
Dalam pandangan Al-Omeisy, Houthi menerapkan pendekatan maksimalis, yakni berusaha mencapai tujuan mereka melalui tekanan yang terus ditingkatkan. Karena itu, serangan terhadap bandara sipil dinilai tidak selalu menjadi batas akhir dari tindakan kelompok tersebut.
Bandara memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat, kegiatan ekonomi, hubungan internasional, serta penyelenggaraan berbagai agenda berskala global. Gangguan terhadap fasilitas ini dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap kemampuan suatu negara menjaga keamanan wilayahnya.
Serangan terhadap bandara juga berpotensi menciptakan tekanan politik bagi pemerintah Saudi. Apabila penerbangan terus terganggu, dampaknya dapat meluas ke sektor pariwisata, investasi, bisnis, dan perjalanan internasional.
Dengan demikian, sasaran terhadap bandara tidak hanya dapat dilihat sebagai serangan terhadap fasilitas fisik, tetapi juga sebagai upaya memberikan tekanan terhadap kepentingan strategis Arab Saudi.
Konflik Balasan Memperburuk Situasi
Eskalasi serangan juga berlangsung di tengah saling serang antara kedua pihak. Media yang dikelola Houthi melaporkan adanya serangan udara yang mereka tuduhkan dilakukan oleh pihak Saudi terhadap sejumlah wilayah di Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai kelompok tersebut.
Laporan itu menyebut kawasan Airport Road di Distrik Al-Thawra dan Distrik Hamdan sebagai wilayah yang terdampak. Namun, informasi mengenai kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan tersebut belum dijelaskan secara terperinci dalam laporan yang dirujuk.
Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi juga dilaporkan pernah menyerang Bandara Sanaa pada 13 Juli 2026. Serangan tersebut disebut melibatkan sedikitnya lima proyektil dalam rangkaian serangan udara. Tiga di antaranya dilaporkan menghantam landasan pacu yang masih dapat digunakan.
Pemerintah Yaman menyatakan serangan terhadap fasilitas penerbangan yang dikuasai Houthi dilakukan untuk mencegah pesawat Iran yang tidak memiliki izin mendarat. Sementara itu, pihak Houthi memandang serangan dan pembatasan terhadap fasilitas di wilayah mereka sebagai bagian dari tekanan yang dilakukan Arab Saudi.
Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa kedua pihak memiliki narasi masing-masing dalam membenarkan tindakan militernya. Kondisi ini turut mempersulit upaya meredakan konflik, terutama ketika serangan balasan terus berlangsung dan fasilitas sipil ikut terdampak.
Houthi telah menguasai Sanaa dan sebagian wilayah barat laut Yaman sejak 2014. Pertempuran juga dilaporkan berlangsung di sekitar Mocha dan Dhubab, kawasan di pesisir Laut Merah yang memiliki posisi strategis di dekat Selat Bab al-Mandab.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran penting dunia. Gangguan keamanan di kawasan ini berpotensi memengaruhi pergerakan kapal komersial dan pengangkutan energi internasional.
Penerbangan dan Agenda Internasional Terancam
Dampak serangan mulai terlihat pada aktivitas penerbangan di Riyadh. Otoritas Saudi memperpanjang penangguhan operasional bandara internasional di ibu kota tersebut setelah serangkaian insiden terjadi. Sejumlah maskapai internasional juga membatalkan atau menangguhkan penerbangan menuju Riyadh.
Inggris, Prancis, dan Jerman dilaporkan mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya agar menghindari perjalanan ke Riyadh menyusul memburuknya situasi keamanan.
Gangguan tersebut terjadi ketika Arab Saudi menjadi tuan rumah sejumlah agenda internasional yang berkaitan dengan energi dan investasi. Keadaan ini menjadi tantangan bagi upaya kerajaan mempromosikan diri sebagai tujuan yang aman bagi pelaku usaha, wisatawan, serta penyelenggara acara berskala besar.
Arab Saudi selama ini berusaha memperkuat citranya sebagai pusat kegiatan bisnis dan pariwisata internasional. Negara tersebut juga memiliki ambisi besar dalam mengembangkan sektor nonminyak serta menarik lebih banyak investasi dari luar negeri.
Namun, serangan terhadap fasilitas penerbangan dapat menimbulkan kekhawatiran bagi perusahaan dan investor yang mempertimbangkan keamanan sebagai salah satu faktor penting sebelum menjalankan kegiatan di suatu negara.
Meski demikian, pihak penyelenggara sejumlah agenda internasional menyatakan kegiatan yang telah direncanakan tetap berjalan sesuai jadwal. Pemerintah Saudi juga berupaya meyakinkan para peserta bahwa berbagai kegiatan internasional masih dapat dilaksanakan.
Risiko Konflik Meluas Masih Membayangi
Meningkatnya serangan terhadap bandara memperlihatkan bahwa konflik Yaman kini memiliki dampak yang melampaui wilayah pertempuran langsung. Infrastruktur transportasi, fasilitas energi, dan jalur pelayaran internasional berpotensi ikut terdampak apabila eskalasi terus berlanjut.
Posisi Iran dalam konflik ini juga menjadi perhatian karena Houthi memiliki hubungan dan dukungan dari Teheran. Di sisi lain, Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Persaingan kepentingan tersebut membuat konflik lokal semakin berkaitan dengan ketegangan regional yang lebih luas.
Apabila serangan terhadap fasilitas strategis berlanjut, dampaknya dapat menjalar ke sektor penerbangan, perdagangan, dan pengiriman energi. Gangguan terhadap jalur pelayaran di Laut Merah maupun kawasan Teluk juga berpotensi meningkatkan risiko operasional dan biaya bagi perusahaan pelayaran.
Meski analisis pakar memperkirakan adanya kemungkinan perluasan sasaran, perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada keputusan para pihak yang terlibat serta respons militer dan diplomatik yang diambil.
Untuk saat ini, rangkaian serangan terhadap bandara Saudi menjadi tanda bahwa situasi keamanan di kawasan tersebut masih rentan. Upaya mengurangi eskalasi dan melindungi warga sipil menjadi hal penting agar konflik tidak berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.












































You must be logged in to post a comment Login