Connect with us

Hi, what are you looking for?

Nasional

Riset Segara Research Institute: 73,8 Persen Pengemudi Ojol Beralih ke Pekerjaan Gig Akibat Sulit Tembus Sektor Formal

NortonNews.com  – Temuan terbaru dari survei yang diselenggarakan oleh Segara Research Institute mengungkapkan bahwa mayoritas pengemudi ojek online (ojol) atau taksi daring—yaitu sebesar 73,8 persen—memilih bergabung dalam ekosistem gig economy akibat keterbatasan akses dan kegagalan mendapatkan pekerjaan di sektor formal.
Riset ini menegaskan bahwa platform digital kini menjadi salah satu katup penyelamat utama bagi masyarakat yang membutuhkan mata pencaharian, baik sebagai sumber pendapatan utama maupun penghasilan tambahan di tengah ketatnya persaingan pasar kerja formal.
Secara keseluruhan, temuan riset mencatat 40,3 persen responden dari berbagai sektor pekerja gig memilih jenis pekerjaan ini karena hambatan masuk ke pasar kerja formal. Bahkan, sebanyak 57,3 persen responden mengaku sama sekali belum pernah mencicipi pengalaman bekerja di sektor formal. Di kelompok mitra ojol sendiri, tercatat ada 22,1 persen responden yang melakoni profesi ini usai terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Di samping persoalan keterbatasan lapangan kerja, fleksibilitas jam kerja menjadi daya tarik dominan yang ditawarkan oleh ekosistem ini. Sebanyak 88,1 persen responden secara umum mengapresiasi fleksibilitas waktu sebagai keunggulan utama, di mana angka tersebut melonjak hingga 95 persen pada kelompok spesifik pengemudi ojol.
Dilansir dari Kompas.com – Mengenai pola pendapatan, riset merekam bahwa 81,6 persen responden menggantungkan pekerjaannya di sektor gig sebagai tumpuan pencaharian utama. Sementara itu, 32,4 persen responden menjalankan lebih dari satu jenis pekerjaan gig sekaligus, dan 18,4 persen sisanya melakoni pekerjaan ini di samping pekerjaan formal yang masih mereka jalani.
Survei ini turut menyoroti dinamika usia para pekerja. Sebanyak 23,3 persen mitra pengemudi ojol terdeteksi berusia 45 tahun ke atas—kelompok umur yang dinilai menghadapi hambatan dan tantangan yang relatif jauh lebih berat untuk terserap kembali ke pasar kerja formal.
Merespons temuan ini, Ekonom Segara Research Institute, YB Kadarusman, mengingatkan para pemangku kebijakan agar cermat dan mempertimbangkan secara matang karakteristik serta sensitivitas pekerja gig sebelum merumuskan regulasi terkait platform digital.

“Kita ingin memberikan perlindungan, tetapi kalau desain perlindungannya membuat jumlah orang yang bisa mendapatkan pekerjaan menjadi jauh lebih sedikit, maka dampaknya terhadap masyarakat juga harus dihitung,” kata Kadarusman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

You May Also Like

Nasional

Jakarta,Norton News- Dwi (40), seorang pengemudi ojek online, tampak pasrah saat mengungkapkan keluhannya soal potongan aplikasi yang kian mencekik. Dengan program baru berbayar per...

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...