Jakarta, NortonNews.com — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap sejumlah temuan dari hasil investigasi kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Bekasi Timur.
Kecelakaan yang terjadi pada 27 April 2026 tersebut menimbulkan banyak korban. Investigasi KNKT menemukan adanya sejumlah persoalan yang berkaitan dengan sistem persinyalan, komunikasi dalam kondisi darurat, penyampaian informasi antarpetugas, hingga respons pengereman masinis.
Berikut lima temuan KNKT yang menjadi bagian dari rangkaian faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan tersebut:
1. Persinyalan Tidak Memberikan Peringatan yang Diharapkan
KNKT menemukan adanya persoalan pada hubungan sistem persinyalan antara Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur.
Saat KA Argo Bromo Anggrek melintas dari Stasiun Bekasi, sinyal keluar J12 menunjukkan aspek hijau. Namun, setelah itu kereta menghadapi Sinyal Blok B104 yang menunjukkan aspek merah karena terdapat KRL yang masih berada di Stasiun Bekasi Timur.
Dalam kondisi tersebut, masinis tidak memperoleh sinyal kuning yang seharusnya dapat menjadi peringatan bahwa sinyal berikutnya menunjukkan warna merah.
KNKT menyebut kondisi tersebut tidak teridentifikasi dalam proses peninjauan desain maupun pengujian setelah perubahan tata letak Stasiun Bekasi pada 2021. Persoalan tersebut juga tidak terdeteksi hingga sistem digunakan dalam operasional.
2. Komunikasi Darurat Mengalami Kendala
Temuan berikutnya berkaitan dengan komunikasi saat terjadi keadaan darurat.
Ketika masinis KRL KA 5181B melaporkan insiden di perlintasan kepada petugas pengendali perjalanan kereta api, komunikasi tidak dilakukan menggunakan panggilan darurat.
Proses penyampaian informasi mengenai kondisi kereta dan jalur yang terdampak juga membutuhkan waktu cukup lama. KNKT mencatat informasi baru dapat dipahami dengan baik oleh petugas setelah berlangsung sekitar 3 menit 20 detik.
Kualitas suara dalam komunikasi radio turut menjadi persoalan. Hasil investigasi menemukan suara terdengar bergema, bergetar, serta memiliki volume yang relatif rendah. Kondisi tersebut membuat informasi yang disampaikan masinis tidak langsung dipahami oleh petugas pengendali.
3. Informasi KRL yang Masih Tertahan Tidak Tersampaikan
KNKT juga menemukan adanya informasi penting mengenai keberadaan KRL yang tertahan di Stasiun Bekasi Timur yang tidak sampai kepada petugas pengendali terkait.
Saat itu, masinis KRL berupaya menyampaikan kondisi kereta yang masih tertahan. Namun, panggilan dilakukan melalui komunikasi individual dan bukan melalui saluran emergency.
Pada waktu yang sama, petugas pengendali sedang menangani laporan mengenai kejadian lain sehingga informasi mengenai posisi KRL tersebut tidak tersampaikan secara optimal.
Akibatnya, petugas pengendali tidak memperoleh gambaran lengkap mengenai situasi yang sedang terjadi di lapangan. Kondisi ini kemudian memengaruhi informasi yang tersedia untuk menentukan pengaturan perjalanan kereta berikutnya.
4. Koordinasi Antarpetugas Pengendali Belum Optimal
Selain persoalan komunikasi antara masinis dan petugas, KNKT menemukan adanya kendala dalam penyampaian informasi antarpetugas pengendali perjalanan kereta api.
Wilayah perjalanan kereta tersebut melibatkan pengendalian dari bagian yang berbeda. Namun, belum terdapat mekanisme yang cukup jelas untuk memastikan informasi penting mengenai kondisi darurat dapat diteruskan secara cepat kepada petugas lain yang membutuhkan informasi tersebut.
Kondisi itu membuat informasi mengenai gangguan perjalanan dan posisi kereta tidak diterima secara lengkap oleh seluruh pihak yang berkaitan dengan pengendalian perjalanan.
5. Masinis Tidak Langsung Menggunakan Rem Darurat
KNKT juga menyoroti respons pengereman KA Argo Bromo Anggrek ketika masinis menghadapi sinyal merah.
Masinis tidak langsung mengaktifkan pengereman darurat. Ia terlebih dahulu melakukan pengereman secara bertahap karena mempertimbangkan kondisi rangkaian yang masih berada di jalur lengkung.
Dalam laporan investigasinya, KNKT menemukan masinis belum pernah memperoleh pelatihan khusus mengenai skenario yang membutuhkan pengereman darurat pada kondisi tersebut.
“Menurut pemahaman Masinis KA 4B, penerapan emergency brake pada kecepatan tinggi serta posisi rangkaian KA yang masih berada di jalan rel lengkung berpotensi menimbulkan risiko berupa jackknife derailment atau tergulingnya rangkaian yang sedang dioperasikan,” tulis KNKT.
KNKT juga menemukan belum adanya prosedur yang secara khusus menjadi acuan untuk melakukan pengereman darurat ketika kereta melaju dengan kecepatan tinggi di jalur lengkung.
“Akan tetapi, tidak terdapat prosedur yang menjadi acuan untuk taktis pengereman darurat saat kecepatan tinggi di jalan rel lengkung sehingga taktis pengereman darurat dilakukan berdasarkan penilaian subjektif masinis,” tulis KNKT.
Investigasi KNKT tersebut menggambarkan bahwa kecelakaan tidak hanya berkaitan dengan satu faktor, tetapi merupakan rangkaian kondisi yang melibatkan aspek teknis, komunikasi, koordinasi, serta prosedur operasional perkeretaapian.















































You must be logged in to post a comment Login