Jakarta,NortonNews – Konflik antarsuku kembali pecah di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Jumat (15/5/2026). Bentrokan tersebut melibatkan kelompok dari suku Lanni dan Hubula yang hingga kini masih berada dalam pemantauan ketat aparat keamanan guna mencegah eskalasi konflik yang lebih besar.
Berdasarkan sejumlah informasi yang berkembang di lapangan, konflik ini disebut merupakan lanjutan dari perselisihan lama yang telah berlangsung sejak awal Mei 2026. Ketegangan antara kedua kelompok sempat meningkat dan menyebabkan situasi di wilayah tersebut memanas. Selain menimbulkan korban jiwa, proses pendataan korban serta evakuasi masih terus dilakukan oleh aparat gabungan bersama masyarakat setempat.
Bentrok antarsuku itu terjadi di Distrik Woma, Kabupaten Jayawijaya, pada Kamis (14/5/2026). Dalam insiden tersebut, massa dari kedua kubu dilaporkan saling menyerang menggunakan senjata tajam dan panah tradisional khas daerah setempat.
Kapolda Papua, Irjen Patrige R Renwarin, menjelaskan bahwa konflik dipicu persoalan denda adat yang berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas pada tahun 2024 lalu. Insiden kecelakaan tersebut diketahui menewaskan seorang anggota DPRD Lanny Jaya dan meninggalkan persoalan adat yang belum terselesaikan hingga kini.
Menurut Patrige, konflik yang kembali terjadi saat ini berawal dari pertikaian lama yang belum menemukan titik damai. Persoalan pembayaran denda adat pasca kecelakaan itu kembali memicu ketegangan hingga berujung bentrokan antarkelompok.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya telah dilakukan berbagai upaya mediasi untuk mendamaikan kedua belah pihak. Namun, proses penyelesaian adat mengalami kebuntuan sehingga situasi kembali memanas dan sulit dikendalikan.
Kondisi semakin memprihatinkan setelah sebuah jembatan gantung di Kali UE dilaporkan roboh saat dilintasi massa. Peristiwa tersebut menyebabkan puluhan warga diduga hanyut terbawa arus sungai dan hingga kini masih dalam proses pencarian oleh aparat gabungan bersama warga sekitar.
“Hingga saat ini proses pencarian korban masih terus dilakukan oleh aparat gabungan bersama masyarakat,” ujar Patrige dalam keterangannya pada Jumat (15/5/2026).
Untuk mencegah konflik semakin meluas, Polda Papua bersama pemerintah daerah telah menggelar rapat mitigasi guna membahas langkah penanganan dan upaya perdamaian. Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Jayawijaya, Ronny Elopere, bersama sejumlah pihak terkait lainnya.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa pendekatan dialog, penyelesaian secara adat, serta pelibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat menjadi prioritas utama dalam meredam konflik horizontal yang terjadi di wilayah tersebut.
Sementara itu, Plh Karo Ops Polda Papua Kombes Dede Alamsyah menyampaikan bahwa aparat keamanan terus memperkuat pengamanan di sejumlah titik rawan, khususnya di kawasan Woma dan Kota Wamena, guna mengantisipasi kemungkinan bentrokan susulan.
Ia menambahkan bahwa pihak kepolisian juga terus melakukan koordinasi intensif dengan tokoh adat, tokoh agama, serta pemerintah daerah agar kondisi keamanan tetap kondusif dan masyarakat tidak kembali terlibat konflik.
Di sisi lain, Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere mengaku khawatir bentrokan kembali terjadi setelah proses pencarian korban selesai dilakukan. Kekhawatiran itu muncul karena massa dari kedua kelompok diketahui masih berkumpul di beberapa lokasi.
Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukarnito turut mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh isu maupun informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu maupun informasi yang belum tentu benar. Percayakan penanganan situasi kepada aparat dan pemerintah daerah agar proses penyelesaian dapat berjalan damai,” ujarnya.

























































You must be logged in to post a comment Login