NortonNews.com – Andi Amran Sulaiman menyebut lonjakan harga minyak goreng di Indonesia diduga dipicu ulah mafia pangan yang memainkan sistem distribusi kebutuhan pokok.
Ia menilai praktik tersebut menyebabkan harga minyak goreng sulit stabil, padahal Indonesia dikenal sebagai salah satu eksportir terbesar komoditas itu di dunia.
Saat ditemui di kediamannya di Jakarta Selatan pada Selasa (19/5/2026), Andi Amran Sulaiman menyoroti kondisi pasar pangan nasional yang dinilainya tidak wajar.
Ia menjelaskan, berdasarkan teori pasar, harga minyak goreng semestinya turun karena produksi melimpah sementara permintaan sedang melemah. Namun, fakta di lapangan menunjukkan harga justru terus meningkat.
Menurut Amran, kondisi tersebut diduga dipicu permainan mafia pangan yang mengganggu rantai distribusi komoditas. Dampaknya, pemerintah kerap menjadi sasaran kritik publik meski persoalan utamanya berasal dari praktik curang di sektor pangan.
Dilansir dari Lambeturah.co.id – Ia pun meminta Satgas Pangan bertindak lebih tegas dalam memberantas mafia pangan agar sistem distribusi dan tata kelola pangan nasional dapat berjalan lebih baik. Amran menilai keberadaan mafia membuat mekanisme pasar tidak berjalan normal sebagaimana mestinya.
Selain itu, Amran juga mengingatkan para ekonom agar melihat persoalan pangan secara lebih menyeluruh, termasuk mempertimbangkan pengaruh mafia terhadap distribusi dan harga kebutuhan pokok.
Ia menambahkan, sepanjang 2024 hingga 2025, Satgas Pangan Polri telah menangani 92 kasus mafia pangan. Kasus tersebut terdiri dari 16 kasus minyak goreng, 46 kasus beras, 27 kasus pupuk, dan 3 kasus yang melibatkan pegawai Kementerian Pertanian. Dari total kasus itu, sebanyak 76 orang telah ditetapkan sebagai tersangka.























































You must be logged in to post a comment Login