Health

Tren Lari Merebak di Jakarta, FOMO Dorong Anak Muda Ikut Meramaikan Garis Start

JAKARTA, NortonNews.com – Olahraga lari semakin populer di kalangan anak muda Jakarta. Aktivitas yang sebelumnya identik dengan rutinitas menjaga kebugaran kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup perkotaan. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya anak muda yang mengikuti kegiatan lari bersama, bergabung dengan komunitas, hingga mendaftarkan diri dalam berbagai ajang perlombaan.

Menariknya, tidak sedikit anak muda yang awalnya tertarik mencoba olahraga lari karena mengikuti tren di lingkungan pertemanan maupun media sosial. Fenomena tersebut berkaitan dengan istilah fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari aktivitas atau pengalaman yang sedang ramai dilakukan orang lain.

Di lansir dari Kompas.com – Jumat (30/10/2026), tren lari di Ibu Kota memperlihatkan bagaimana FOMO dapat mendorong anak muda untuk ikut mencoba aktivitas yang sedang populer. Ketika semakin banyak teman mengunggah kegiatan lari, membagikan catatan jarak tempuh, hingga memperlihatkan pengalaman mengikuti perlombaan, sebagian orang akhirnya terdorong untuk ikut merasakan pengalaman serupa.

Namun, ketertarikan yang awalnya muncul karena ikut-ikutan tidak selalu berhenti sebagai tren sesaat. Sebagian orang justru menemukan kenyamanan setelah mencoba berlari. Aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan secara rutin untuk menjaga kesehatan sekaligus mengisi waktu luang.

FOMO Menjadi Pintu Masuk Anak Muda Mengenal Olahraga Lari

Media sosial memiliki peran dalam mempercepat penyebaran tren olahraga lari. Berbagai unggahan mengenai kegiatan lari pagi, latihan bersama komunitas, hingga dokumentasi perlombaan membuat aktivitas tersebut semakin mudah ditemukan dalam kehidupan digital anak muda.

Konten yang dibagikan biasanya menampilkan pengalaman mengikuti lari, jarak yang berhasil ditempuh, waktu penyelesaian, serta suasana kebersamaan bersama peserta lainnya. Hal tersebut dapat memunculkan rasa penasaran bagi orang yang sebelumnya belum pernah mencoba olahraga lari.

Ketika melihat teman atau orang terdekat mulai rutin berlari, muncul dorongan untuk melakukan hal yang sama. Ada yang ingin mencoba pengalaman baru, ada pula yang tidak ingin merasa tertinggal dari lingkungan pergaulannya.

Fenomena FOMO dalam tren lari tidak selalu membawa dampak negatif. Apabila diarahkan dengan tepat, keinginan mengikuti kegiatan yang sedang populer dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan hidup sehat.

Seseorang yang awalnya hanya ingin mengikuti tren bisa saja mulai menikmati proses latihan, merasakan manfaat aktivitas fisik, dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas. Dengan demikian, motivasi yang awalnya berasal dari lingkungan sosial dapat berkembang menjadi kesadaran pribadi mengenai pentingnya menjaga kesehatan.

Meski begitu, anak muda tetap perlu memahami alasan mereka berolahraga. Mengikuti tren sebaiknya tidak membuat seseorang mengabaikan kemampuan tubuh atau memaksakan diri hanya demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan maupun media sosial.

Komunitas Lari Menjadi Ruang Berkumpul dan Membangun Pertemanan

Perkembangan tren lari di Jakarta juga didukung oleh semakin banyaknya komunitas olahraga. Kelompok-kelompok tersebut menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berlatih bersama, saling memberikan semangat, dan bertemu dengan orang baru yang memiliki ketertarikan serupa.

Bagi sebagian anak muda, bergabung dengan komunitas dapat membantu menjaga konsistensi olahraga. Berlari sendirian terkadang membuat seseorang mudah kehilangan motivasi. Sebaliknya, ketika dilakukan bersama kelompok, kegiatan tersebut terasa lebih menyenangkan karena terdapat teman yang dapat saling mendukung.

Komunitas lari juga mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda. Mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat umum dapat berkumpul dalam satu kegiatan tanpa harus memiliki kemampuan berlari yang sama.

Kebersamaan tersebut menjadikan olahraga lari tidak hanya berorientasi pada kecepatan atau jarak tempuh. Interaksi sosial yang terbentuk selama latihan juga menjadi salah satu alasan kegiatan ini semakin diminati.

Fenomena komunitas lari di Jakarta bahkan berkembang menjadi bagian dari aktivitas sosial masyarakat perkotaan. Setelah menyelesaikan latihan, sebagian peserta biasanya melanjutkan kegiatan dengan berbincang, beristirahat, atau berkumpul bersama anggota komunitas lainnya.

Dengan pola tersebut, olahraga menjadi kegiatan yang tidak terasa membosankan. Anak muda dapat menjaga kebugaran sekaligus memperluas jaringan pertemanan melalui aktivitas yang relatif mudah dilakukan.

Car Free Day Menjadi Pilihan Tempat Berlatih

Salah satu kawasan yang sering dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga adalah jalur Sudirman-M.H. Thamrin saat pelaksanaan Car Free Day (CFD). Area tersebut memiliki ruang yang cukup luas sehingga dapat digunakan untuk berjalan kaki, bersepeda, maupun berlari.

Kawasan pusat Jakarta tersebut juga menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin berlatih sebelum mengikuti ajang perlombaan. Suasana jalan yang dipenuhi aktivitas olahraga memberikan kesempatan bagi pelari pemula untuk membiasakan diri dengan kegiatan lari di ruang terbuka.

Dalam laporan iNews.id pada 30 Agustus 2026, seorang warga Cempaka Putih bernama Hafiz mengaku awalnya mencoba berlari karena melihat teman-temannya rutin melakukan aktivitas tersebut. Setelah mencoba sendiri, ia merasa nyaman dan akhirnya tertarik melanjutkannya.

Hafiz juga memanfaatkan kawasan CFD Sudirman-M.H. Thamrin sebagai tempat berlatih. Area yang panjang dinilai mendukung persiapan apabila nantinya ingin mengikuti ajang perlombaan lari.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa tren yang awalnya muncul dari lingkungan pertemanan dapat berkembang menjadi minat pribadi. Seseorang tidak selalu harus memiliki pengalaman olahraga sebelumnya untuk mulai mencoba kegiatan lari.

Meski demikian, penggunaan fasilitas umum tetap harus memperhatikan aturan dan keselamatan. Pelari perlu menggunakan jalur yang telah disediakan serta tidak memasuki jalur khusus Transjakarta karena dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.

Ajang Perlombaan Membuat Tren Lari Semakin Berkembang

Selain komunitas dan kegiatan CFD, meningkatnya penyelenggaraan acara lari turut mendorong popularitas olahraga tersebut. Berbagai ajang mulai dari kategori 5 kilometer, 10 kilometer, hingga maraton memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mencoba tantangan sesuai kemampuan masing-masing.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian masyarakat adalah Jakarta Running Festival 2026. Ajang tersebut berlangsung pada 24-25 Oktober 2026 dengan beberapa kategori perlombaan, termasuk 5K, 10K, half marathon, dan marathon.

Penyelenggaraan acara tersebut juga melibatkan komunitas serta berbagai pelaku usaha melalui kegiatan pendukung seperti Race Expo. Berdasarkan informasi Jakarta Smart City, kegiatan Race Expo menghadirkan sekitar 130 merek dan 49 pelaku UMKM lokal. Selain itu, terdapat keterlibatan sekitar 250 komunitas dalam rangkaian acara tersebut.

Kehadiran berbagai kegiatan pendukung memperlihatkan bahwa perlombaan lari tidak hanya menjadi aktivitas olahraga. Acara seperti ini juga dapat menjadi ruang pertemuan komunitas, memperkenalkan produk lokal, serta menarik masyarakat untuk menikmati kegiatan di kawasan perkotaan.

Bagi peserta pemula, mengikuti perlombaan dapat menjadi pengalaman tersendiri. Mereka tidak harus selalu mengejar kemenangan atau mencatat waktu terbaik. Menyelesaikan jarak yang dipilih sesuai kemampuan tubuh juga dapat menjadi pencapaian pribadi.

Media Sosial dan Gaya Hidup Sehat Saling Berkaitan

Perkembangan teknologi digital turut memengaruhi cara anak muda menikmati olahraga lari. Aplikasi pencatat aktivitas dapat digunakan untuk mengetahui jarak, durasi, dan perkembangan latihan. Hasil kegiatan tersebut kemudian dapat dibagikan kepada teman melalui media sosial.

Salah satu aplikasi yang sering digunakan oleh pelari adalah Strava. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat mencatat aktivitas olahraga dan melihat perkembangan latihan dari waktu ke waktu.

Bagi sebagian orang, membagikan hasil lari menjadi bentuk dokumentasi perjalanan olahraga. Mereka dapat melihat perkembangan kemampuan setelah menjalani latihan secara konsisten.

Namun, penggunaan media sosial juga perlu disikapi secara bijak. Membandingkan pencapaian dengan orang lain secara berlebihan dapat membuat olahraga berubah menjadi tekanan. Seseorang bisa merasa harus berlari lebih jauh atau lebih cepat hanya karena melihat pencapaian pengguna lain.

Padahal, setiap orang memiliki kondisi fisik, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, perkembangan olahraga sebaiknya diukur berdasarkan kemampuan diri sendiri, bukan semata-mata berdasarkan pencapaian orang lain.

Konsistensi dan Keselamatan Tetap Harus Diutamakan

Meningkatnya minat anak muda terhadap olahraga lari merupakan perkembangan positif apabila diikuti dengan pemahaman mengenai keselamatan dan kemampuan fisik. Olahraga tidak seharusnya dilakukan hanya untuk mengikuti tren tanpa memperhatikan kondisi tubuh.

Bagi pemula, latihan dapat dimulai dengan jarak pendek dan kecepatan yang nyaman. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan aktivitas fisik, terutama bagi orang yang sebelumnya jarang berolahraga.

Pemanasan sebelum berlari dan pendinginan setelah latihan juga penting untuk membantu mempersiapkan serta memulihkan kondisi tubuh. Selain itu, istirahat yang cukup dan pemenuhan kebutuhan cairan perlu diperhatikan agar aktivitas olahraga tidak justru menimbulkan masalah kesehatan.

Pelari juga perlu mengenali batas kemampuan masing-masing. Memaksakan diri mengejar target jarak atau waktu tertentu dapat meningkatkan risiko cedera maupun kelelahan. Jika mengalami nyeri yang tidak biasa, pusing, atau keluhan serius lainnya, aktivitas sebaiknya dihentikan dan kondisi tubuh diperiksa sesuai kebutuhan.

Tren lari di Jakarta pada akhirnya memperlihatkan perubahan cara anak muda memandang olahraga. Aktivitas yang awalnya dilakukan karena FOMO dapat berkembang menjadi kebiasaan positif ketika dijalani dengan kesadaran dan tujuan yang tepat.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi sarana membangun hubungan sosial di tengah kehidupan perkotaan yang sibuk. Komunitas, kegiatan CFD, dan berbagai ajang perlombaan memberikan ruang bagi anak muda untuk tetap aktif sekaligus memperluas pertemanan.

Dengan demikian, demam lari di Ibu Kota tidak hanya berkaitan dengan tren sesaat. Jika dijalankan secara konsisten, sesuai kemampuan, dan mengutamakan keselamatan, olahraga lari dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang bermanfaat dalam jangka panjang.

 

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

You May Also Like

Nasional

Jakarta,Norton News- Dwi (40), seorang pengemudi ojek online, tampak pasrah saat mengungkapkan keluhannya soal potongan aplikasi yang kian mencekik. Dengan program baru berbayar per...

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...

Copyright © 2022 - 2024 Norton News. All Rights Reserved.

Exit mobile version