WASHINGTON, NortonNews – Delapan personel Marinir Amerika Serikat (AS) dilaporkan terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di kawasan Selat Hormuz pada 14 September 2026.
Insiden tersebut terjadi ketika para Marinir sedang menjalankan tugas sebagai bagian dari tim pendarat batalion. Berdasarkan keterangan tiga pejabat AS yang dikutip NBC News, seluruh korban tidak mengalami luka serius dan sebagian besar dapat kembali menjalankan tugas tidak lama setelah serangan.
Meski demikian, sejumlah personel dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah insiden tersebut. Mereka disebut mengalami gejala yang menyerupai gegar otak, termasuk sakit kepala dan kemungkinan cedera otak traumatis akibat paparan ledakan serta asap.
Dilansir dari detik.com – ketegangan antara AS dan Iran memang masih berlangsung dan telah berdampak terhadap situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut sebelumnya juga memicu sejumlah serangan balasan serta gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan strategis Selat Hormuz.
Dari delapan Marinir yang terluka, tujuh di antaranya merupakan personel tamtama, sedangkan satu lainnya berpangkat perwira. Para pejabat AS menyebut seluruh korban telah kembali bertugas setelah mendapatkan penanganan atas kondisi yang mereka alami.
Kapal yang terkena rudal tersebut diketahui bukan merupakan kapal milik Angkatan Laut AS. Pejabat Amerika hanya menyebutnya sebagai kapal maritim dan belum mengungkapkan jenis maupun identitas kapal tersebut.
Peristiwa ini turut menjadi perhatian karena jumlah korban militer AS dalam konflik dengan Iran mengalami perubahan seiring proses pembaruan dan klasifikasi data korban. Berdasarkan sistem Defense Casualty Analysis System (DCAS) milik Pentagon, tercatat ratusan personel militer AS mengalami luka dalam konflik tersebut.
Delapan Marinir yang menjadi korban dalam serangan 14 September bahkan baru dimasukkan ke dalam database Pentagon sekitar 10 hari setelah kejadian. Pembaruan data tersebut menambah perhatian terhadap proses pencatatan korban dalam konflik yang masih berlangsung.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang memiliki peran penting bagi perdagangan energi dunia. Kondisi keamanan di kawasan tersebut terus menjadi perhatian internasional di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
You must be logged in to post a comment Login