Technology

NASA Ungkap Emisi Karhutla Papua Tembus 35 Juta Ton Karbon, El Niño Perparah Kekeringan

PAPUA, NortonNews.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Pulau Papua sepanjang September hingga Oktober 2026 menimbulkan kekhawatiran setelah emisi karbon yang dihasilkan di wilayah Papua Indonesia tercatat melampaui 35 juta ton. Data yang disoroti Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tersebut menunjukkan bahwa kebakaran di kawasan ini termasuk yang paling besar dalam catatan historis, terutama ketika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang juga mengalami fenomena El Niño.

Dilansir dari CNN Indonesia – NASA menyoroti meluasnya kebakaran di Pulau Papua yang mencakup wilayah Indonesia di bagian barat dan Papua Nugini di bagian timur. Kekeringan akibat fenomena El Niño memperburuk kondisi lingkungan dan membuat vegetasi lebih mudah terbakar. Situasi tersebut menyebabkan asap menyelimuti sejumlah kawasan selama berminggu-minggu serta berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.

NASA Earth Observatory memublikasikan citra satelit yang memperlihatkan kepulan asap tebal dari bagian selatan Pulau New Guinea pada Kamis, 22 Oktober 2026. Gambar tersebut direkam menggunakan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) yang terpasang pada satelit NOAA-20 pada 11 Oktober 2026. Citra itu menggambarkan keadaan saat pengamatan dilakukan, bukan kondisi kebakaran secara langsung pada hari publikasi.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena kebakaran di Papua bukan hanya berkaitan dengan kerusakan hutan, tetapi juga berhubungan dengan pelepasan karbon ke atmosfer, penurunan kualitas udara, serta ancaman terhadap ekosistem. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana cuaca kering dan aktivitas manusia dapat saling memperbesar risiko kebakaran dalam skala luas.

Emisi Karbon Papua Masuk Tiga Tertinggi dalam Catatan

Berdasarkan data Global Fire Emissions Database (GFED) yang dikutip NASA, emisi karbon akibat kebakaran di wilayah Papua Indonesia telah melampaui 35 megaton atau sekitar 35 juta ton karbon. Angka tersebut menempatkan 2026 sebagai salah satu tahun dengan emisi kebakaran terbesar di kawasan tersebut.

Jumlah emisi itu menjadi yang tertinggi ketiga setelah 2015 dan 1997. Kedua tahun tersebut juga dikenal mengalami kebakaran parah yang berlangsung bersamaan dengan fenomena El Niño. Dengan demikian, kondisi pada 2026 kembali menunjukkan besarnya pengaruh kekeringan terhadap risiko kebakaran vegetasi di wilayah tropis.

GFED merupakan sistem pemodelan yang memanfaatkan informasi satelit, karakteristik vegetasi, serta berbagai data pendukung untuk memperkirakan luas kebakaran dan emisi yang dihasilkan. Data tersebut membantu peneliti memahami perkembangan kebakaran dalam jangka panjang, termasuk membandingkan tingkat emisi dari satu tahun ke tahun lainnya.

Emisi karbon yang tinggi menjadi persoalan lingkungan karena kebakaran vegetasi melepaskan karbon yang tersimpan dalam tumbuhan dan material organik ke atmosfer. Besarnya emisi dipengaruhi oleh luas area yang terbakar, jenis vegetasi, kondisi lahan, serta intensitas kebakaran.

Di sisi timur Pulau New Guinea, situasi serupa terjadi di Papua Nugini. Berdasarkan data GFED yang dikutip dalam laporan NASA, emisi kebakaran di wilayah tersebut mendekati 32 juta ton karbon hingga pertengahan Oktober 2026. Jumlah ini menjadi yang tertinggi dalam catatan untuk periode yang sama dalam setahun dan memperlihatkan bahwa kebakaran berdampak luas di kedua sisi pulau.

Ilmuwan kebakaran dari Wageningen University & Research, Guido van der Werf, menilai besarnya emisi di Papua Nugini menunjukkan bahwa dampak kebakaran tahun ini telah melampaui tingkat yang tercatat pada sejumlah tahun sebelumnya. Perkembangan tersebut membuka kemungkinan bahwa 2026 menjadi salah satu tahun terburuk dalam catatan emisi kebakaran di wilayah itu.

El Niño Membuat Kondisi Lingkungan Semakin Kering

Salah satu faktor yang memperbesar risiko kebakaran di Papua adalah fenomena El Niño. Fenomena iklim ini dapat mengubah pola curah hujan sehingga sejumlah kawasan mengalami periode kering yang lebih panjang daripada biasanya.

Ketika hujan berkurang dalam waktu lama, rumput, semak, dedaunan, dan material organik lainnya kehilangan kelembapan. Vegetasi yang mengering menjadi lebih mudah terbakar, sehingga api dapat menyebar lebih cepat ketika muncul sumber penyulut.

Dampak kekeringan terlihat jelas di kawasan Trans-Fly yang terletak di bagian selatan Papua Nugini. Wilayah yang didominasi sabana dan padang rumput tersebut dilaporkan mengalami lebih dari 90 hari berturut-turut tanpa hujan. Sejak Agustus 2026, curah hujan di sejumlah lokasi bahkan hanya mencapai sekitar 5 hingga 10 persen dari tingkat normal.

Kondisi itu membuat lingkungan semakin rentan ketika api mulai menyebar. Area yang biasanya masih memiliki kelembapan cukup untuk membatasi pergerakan api dapat berubah menjadi kawasan yang mudah terbakar setelah mengalami kekeringan berkepanjangan.

Meski demikian, kekeringan tidak serta-merta menjadi satu-satunya penyebab kebakaran. Kondisi cuaca yang kering berperan memperbesar kemungkinan api berkembang, sementara sumber penyulutnya juga berkaitan dengan kegiatan manusia. Perpaduan kedua faktor tersebut dapat membuat kebakaran yang semula berada di area terbatas berkembang menjadi peristiwa yang lebih luas.

Para peneliti memperkirakan kebakaran di sejumlah bagian selatan Pulau New Guinea masih berpotensi berlanjut sampai hujan lebat musim penghujan tiba. Perubahan cuaca tersebut diperkirakan mulai terjadi pada awal November, meskipun perkembangan di lapangan tetap bergantung pada kondisi setempat.

Aktivitas Manusia Ikut Memicu Kebakaran

NASA dan sejumlah peneliti menyoroti peran aktivitas manusia dalam terjadinya kebakaran di Papua. Penggunaan api untuk membuka lahan pertanian, membersihkan padang rumput, dan mendukung kegiatan tertentu dapat menjadi sumber penyulut ketika lingkungan sedang mengalami kekeringan.

Dalam kondisi normal, pembakaran untuk mengelola lahan mungkin dilakukan pada area yang terbatas. Namun, ketika vegetasi mengering dan angin serta cuaca mendukung penyebaran api, pembakaran dapat meluas ke kawasan sekitarnya. Api yang tidak terkendali berpotensi menjangkau vegetasi lain dan merusak wilayah yang lebih luas.

Aktivitas perburuan juga disebut sebagai salah satu kegiatan manusia yang berkaitan dengan penggunaan api di kawasan tersebut. Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memperhatikan keadaan cuaca. Pengawasan terhadap penggunaan api dan pengelolaan lahan juga diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran.

Peneliti dari University of California, Irvine, Yang Chen, menyoroti meningkatnya aktivitas kebakaran di Papua Indonesia dan Kalimantan selama 2026 dibandingkan dengan Sumatera serta sejumlah wilayah lain di Indonesia bagian barat. Menurutnya, Papua semakin menonjol sebagai kawasan yang menghadapi tekanan deforestasi.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya perubahan perhatian dalam persoalan kehilangan hutan di Indonesia. Papua memiliki bentang alam yang luas dengan berbagai ekosistem, tetapi tekanan terhadap hutan dapat meningkat seiring pembukaan lahan dan perluasan kegiatan ekonomi.

Data Global Forest Watch yang dikutip dalam laporan terkait menunjukkan bahwa Papua Indonesia kehilangan sekitar 27.000 hektare hutan primer sepanjang 2025. Luas tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi angka tertinggi sejak 2017.

Perubahan bentang alam di Papua berkaitan dengan sejumlah kegiatan, termasuk pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, industri kayu pulp, pertanian, pembangunan kawasan perkotaan, dan pertambangan. Berbagai kegiatan tersebut memiliki karakteristik dan dampak berbeda, tetapi perlu dikelola agar tidak memperbesar tekanan terhadap kawasan hutan.

Ketika pembukaan lahan berlangsung di tengah musim kering, penggunaan api dapat meningkatkan ancaman terhadap hutan yang masih tersisa. Oleh sebab itu, pencegahan kebakaran perlu berjalan seiring dengan pengawasan penggunaan lahan dan perlindungan kawasan berhutan.

Asap Kebakaran Mengganggu Kualitas Udara dan Aktivitas Warga

Selain menghasilkan emisi karbon, kebakaran yang meluas juga menimbulkan persoalan kualitas udara. Asap dari vegetasi yang terbakar dapat menyebar ke kawasan permukiman dan bertahan selama kondisi cuaca belum mendukung penyebarannya.

Robert Field, peneliti di NASA Goddard Institute for Space Studies dan Columbia University, menjelaskan bahwa sebagian asap dapat terangkat ke atmosfer yang lebih tinggi ketika terbawa oleh aktivitas badai. Namun, sebagian besar asap masih berada dekat permukaan tanah dan berpotensi menimbulkan gangguan kualitas udara.

Asap yang berada di dekat permukaan dapat memengaruhi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah kebakaran maupun kawasan yang dilewati sebarannya. Dampaknya bergantung pada konsentrasi asap, lamanya paparan, dan kondisi lingkungan setempat.

Laporan mengenai kebakaran di Pulau New Guinea menyebutkan bahwa kabut asap yang berlangsung selama berminggu-minggu telah mengganggu sejumlah aktivitas. Gangguan yang dilaporkan mencakup penerbangan, penutupan sekolah di sejumlah wilayah, serta imbauan penggunaan masker bagi kelompok yang lebih rentan, termasuk anak-anak dan lansia.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti ketika api membakar vegetasi. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu kegiatan sehari-hari dan menimbulkan tantangan bagi masyarakat maupun layanan publik.

Karena itu, pemantauan titik api perlu disertai perhatian terhadap pergerakan asap dan kondisi udara di wilayah terdampak. Informasi yang akurat dapat membantu masyarakat memahami risiko serta mengikuti arahan dari pihak berwenang.

Perlindungan Hutan Papua Perlu Menjadi Perhatian

Lonjakan emisi karbon akibat karhutla di Papua menjadi pengingat bahwa perlindungan hutan membutuhkan langkah yang berkelanjutan. Fenomena El Niño memang dapat menciptakan kondisi yang lebih kering, tetapi risiko kebakaran juga dipengaruhi oleh cara manusia mengelola lahan dan menggunakan api.

Pemantauan melalui satelit seperti yang dilakukan NASA membantu peneliti mengidentifikasi sebaran asap dan memperkirakan emisi yang dilepaskan. Informasi tersebut dapat menjadi bahan untuk memahami skala kejadian dan membandingkan kondisi kebakaran dengan tahun-tahun sebelumnya.

Namun, data satelit perlu diikuti tindakan nyata di lapangan. Pengawasan terhadap pembukaan lahan, pencegahan pembakaran yang tidak terkendali, kesiapan penanganan kebakaran, dan perlindungan kawasan hutan merupakan bagian penting dalam mengurangi risiko.

Pemerintah, masyarakat, serta pihak yang melakukan kegiatan ekonomi di sekitar kawasan hutan juga memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Pengelolaan lahan yang memperhatikan risiko kebakaran menjadi semakin penting ketika curah hujan menurun dan vegetasi mulai mengering.

Dengan emisi karbon di wilayah Papua Indonesia yang telah melampaui 35 juta ton, kebakaran pada 2026 menjadi peristiwa yang perlu mendapat perhatian serius. Dampaknya tidak hanya terlihat dari luasnya kawasan yang terbakar, tetapi juga dari emisi karbon, gangguan kualitas udara, dan tekanan terhadap hutan.

NASA menyoroti bahwa kekeringan akibat El Niño dan aktivitas manusia sama-sama berperan dalam memperburuk situasi di Pulau New Guinea. Selama kondisi kering masih berlangsung, risiko kebakaran tetap perlu diwaspadai sampai hujan kembali membantu meningkatkan kelembapan lingkungan.

Perkembangan ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan sejak dini, pengawasan terhadap penggunaan api, dan perlindungan hutan secara konsisten agar dampak kebakaran serupa dapat ditekan pada masa mendatang.

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

You May Also Like

Nasional

Jakarta,Norton News- Dwi (40), seorang pengemudi ojek online, tampak pasrah saat mengungkapkan keluhannya soal potongan aplikasi yang kian mencekik. Dengan program baru berbayar per...

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...

Copyright © 2022 - 2024 Norton News. All Rights Reserved.

Exit mobile version