Jakarta, Norton News – Wabah virus mematikan kembali muncul di Afrika, virus Marburg, yang memaka korban jiwa di Rwanda. Mengutip unggahan melalui akun X resmi (@RwandaHealth), tercatat 26 kasus terkonfirmasi virus Marburg oleh Kementerian Kesehatan Rwanda, 18 orang dalam isolasi dan perawatan, serta delapan meninggal dunia di negaranya. Sebagian besar kasus yang dilaporkan terjadi di ibu kota, Kigali. Dalam data yang sama, Kemenkes Rwanda menegaskan bahwa penelusuran kontak erat dan pemeriksaan masih terus dilakukan.
Menteri Kesehatan Rwanda, Sabin Nsanzimana menerangkan bahwa kasus Marburg didominasi oleh petugas kesehatan di instalasi rawat intensif (ICU).
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit virus Marburg termasuk kedalam virus yang sangat ganas. Virus ini dapat menyebabkan demam berdarah yang berpotensi kepada kematian dengan rasio hingga 88 persen. Penyakit yang masih belum ditemukan vaksinnya ini masih dalam famili serupa dengan virus penyebab Ebola.
Dilansir dari CNBC Indonesia, WHO mengatakan, orang yang terkontaminasi dengan virus Marburg dapat diawali dengan gejala mendadak, seperti demam tinggi, sakit kepala parah, dan malaise atau lelah, tidak enak badan parah dan di beberapa kasus, kematian karena kehilangan darah yang ekstrem.
“Banyak pasien mengalami gejala hemoragik parah dalam waktu tujuh hari,” tulis WHO melalui keterangan resmi.
“Virus ini ditularkan dari kelelawar buah ke manusia dan menyebar di antara manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, permukaan, dan material,” lanjutnya.
Untuk menekan penyebaran virus, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) langsung membantu pasokan medis darurat. Pengiriman perawatan klinis dan pasokan pencegahan serta pengendalian infeksi sedang disiapkan dan akan dikirim ke Kigali dalam beberapa hari mendatang dari Pusat Respons Darurat WHO di Nairobi, Kenya.
Menteri Kesehatan setempat mengatakan para pejabat melacak sekitar 300 orang yang telah melakukan kontak dengan orang-orang yang terkena virus Marburg. Ia mendesak orang-orang untuk menghindari kontak fisik, untuk mencegah penyebaran semakin luas.
Pemerintah menghimbau agar masyarakat tetap waspada dengan mencuci tangan dengan air bersih,sabun atau pembersih tangan, dan melaporkan semua kasus suspek.
Kedutaan Besar AS di Rwanda menyarankan para karyawannya untuk bekerja dari jarak jauh selama pekan depan. Ini menjadi kali pertama kemunculan virus Marburg di Rwanda. Sebelumnya, Tanzania juga sempat melaporkan kasus Marburg pada 2023 lalu. Sementara itu, tiga orang di Uganda dilaporkan meninggal dunia akibat Marburg pada 2017 silam.
You must be logged in to post a comment Login