Pasola bukan sekadar pertunjukan ketangkasan atau simulasi peperangan tradisional. Bagi masyarakat Sumba, terutama penganut kepercayaan Marapu, tradisi ini menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial serta bentuk penghormatan kepada leluhur.
Makna dan Pengertian Pasola
Istilah Pasola berasal dari bahasa Sumba. Kata “pa” memiliki arti permainan, sedangkan “sola” atau “hola” merujuk pada tombak atau lembing. Dengan demikian, Pasola dapat diartikan sebagai permainan menggunakan tombak yang dilakukan oleh para penunggang kuda.
Walaupun terlihat seperti pertarungan antara dua kelompok berkuda yang saling melempar tombak kayu, Pasola sebenarnya mengandung nilai kebersamaan, keberanian, sportivitas, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.
Tradisi ini biasanya digelar menjelang musim tanam, sekitar Februari hingga Maret. Masyarakat melaksanakan Pasola sebagai bentuk ritual untuk memohon keberkahan, kesuburan tanah, dan hasil panen yang baik kepada para leluhur.
Sejarah Pasola dan Legenda Rabu Kaba
Berdasarkan cerita turun-temurun masyarakat Sumba, awal mula Pasola berkaitan dengan kisah seorang perempuan bernama Rabu Kaba. Konflik antara suku Waiwuang dan Kodi pernah terjadi akibat perebutan Rabu Kaba.
Untuk mengakhiri perselisihan tersebut, para tetua adat kemudian menciptakan sebuah ritual perdamaian yang diawali dengan Ritual Nyale dan dilanjutkan melalui pelaksanaan Pasola. Seiring waktu, tradisi ini menjadi simbol persatuan serta cara masyarakat menyelesaikan permasalahan melalui adat.
Tahapan Pelaksanaan Pasola
Pelaksanaan Pasola memiliki beberapa rangkaian adat yang harus dilakukan, yaitu:
Musyawarah Rato (Tetua Adat)
Para rato menentukan waktu pelaksanaan Pasola berdasarkan tanda-tanda alam. Masyarakat juga mulai mempersiapkan kuda Sumba, tombak kayu, serta perlengkapan adat lainnya.
Ritual Nyale
Masyarakat melakukan pencarian nyale atau cacing laut di wilayah pesisir. Kemunculan nyale dipercaya menjadi tanda mengenai kondisi dan keberhasilan hasil panen.
Pajurra
Sebelum acara utama, masyarakat mengadakan tradisi bergulat di pasir sebagai bagian dari rangkaian perayaan adat.
Pelaksanaan Pasola
Dua kelompok penunggang kuda akan berhadapan di arena terbuka sambil melakukan aksi lempar tombak kayu sebagai puncak acara.
Ritual Penutup
Setelah Pasola selesai, rato melakukan prosesi mengelilingi arena dengan berkuda sebagai tanda berakhirnya acara, kemudian dilanjutkan dengan doa dan ungkapan syukur kepada leluhur.
Aturan dan Pantangan dalam Pasola
Sebagai tradisi yang dianggap sakral, Pasola memiliki sejumlah aturan yang harus ditaati masyarakat, seperti:
Tidak diperbolehkan menggunakan pakaian berwarna merah.
Tidak diperbolehkan memakai giring-giring maupun membunyikan gong.
Tidak diperbolehkan menyanyikan lagu daerah ketika sedang mengolah sawah.
Tidak boleh melewati wilayah yang dianggap keramat atau pamali.
Tidak diperbolehkan menumbuk padi pada malam hari.
Tidak diperbolehkan menyalakan api, membakar ladang, maupun membakar ayam.
Berbagai larangan tersebut dipercaya dapat menjaga kesucian ritual dan memastikan seluruh rangkaian Pasola berjalan dengan baik.
Sampai sekarang, Pasola tetap menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang menunjukkan hubungan erat antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur masyarakat Sumba di tengah perkembangan zaman.
You must be logged in to post a comment Login