SURABAYA, NortonNews.com – Kualitas udara di Kota Surabaya menjadi perhatian setelah hasil pemantauan menunjukkan adanya peningkatan pencemaran pada pagi hari. Kondisi tersebut terutama terlihat dari konsentrasi partikel halus PM2.5 yang sempat berada dalam kategori tidak sehat pada jam-jam tertentu. Situasi ini menjadi pengingat bahwa pencemaran udara di kawasan perkotaan perlu ditangani secara serius karena dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Penurunan kualitas udara tersebut diketahui melalui pemantauan di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes, Surabaya. Berdasarkan informasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, partikel PM2.5 menjadi salah satu parameter yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan selama sepekan terakhir. Kondisi tidak sehat terutama terpantau pada rentang waktu pukul 06.00 hingga 09.00 WIB.
Partikel Halus PM2.5 Menjadi Perhatian
Dilansir dari Kompas.com – kondisi kualitas udara Surabaya yang sempat masuk kategori tidak sehat pada pagi hari menjadi sorotan setelah pakar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjelaskan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pencemaran udara. Salah satu parameter penting dalam penilaian kualitas udara adalah PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil dengan diameter sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukuran partikel tersebut membuatnya berpotensi masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Karena itu, peningkatan konsentrasi PM2.5 perlu diperhatikan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan pada pagi hari.
Pakar Teknik Lingkungan ITS, Arie Dipareza Syafei, menjelaskan bahwa kualitas udara tidak hanya ditentukan oleh kondisi langit yang terlihat cerah atau berkabut. Penilaian kualitas udara perlu didasarkan pada hasil pengukuran konsentrasi berbagai polutan di atmosfer.
Parameter yang digunakan antara lain PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon monoksida (CO). Hasil pemantauan terhadap sejumlah zat pencemar tersebut digunakan untuk menentukan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Informasi ISPU berfungsi membantu masyarakat memahami tingkat pencemaran di suatu wilayah sekaligus memperkirakan potensi risiko kesehatan yang dapat muncul akibat paparan polutan.
Emisi Kendaraan hingga Aktivitas Industri
Menurut penjelasan Arie, penurunan kualitas udara di Surabaya tidak dapat dikaitkan dengan satu penyebab saja. Sejumlah aktivitas manusia berpotensi menghasilkan emisi yang kemudian mencemari udara, termasuk penggunaan kendaraan bermotor, kegiatan industri, pembakaran terbuka, serta debu yang berasal dari area terbuka.
Kendaraan bermotor menjadi salah satu sumber emisi yang perlu diperhatikan di kota besar. Tingginya aktivitas transportasi dapat meningkatkan jumlah polutan yang dilepaskan ke atmosfer. Kondisi tersebut berpotensi semakin memengaruhi kualitas udara ketika banyak kendaraan bergerak secara bersamaan pada jam sibuk.
Selain transportasi, kegiatan industri juga dapat berkontribusi terhadap pencemaran apabila menghasilkan emisi yang tidak dikelola dengan baik. Pembakaran sampah atau material lain secara terbuka juga dapat melepaskan partikel dan zat pencemar ke udara.
Sementara itu, debu dari lahan terbuka, kawasan pembangunan, dan permukaan tanah yang mudah terangkat dapat menambah jumlah partikel yang melayang di atmosfer. Berbagai sumber tersebut menunjukkan bahwa pengendalian pencemaran perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dengan memperhatikan satu jenis aktivitas.
Cuaca Panas Dapat Memengaruhi Pergerakan Polutan
Arie menegaskan bahwa cuaca panas bukan merupakan sumber langsung terbentuknya PM2.5. Namun, kondisi meteorologis dapat memengaruhi bagaimana polutan terbentuk, bergerak, bercampur, dan bertahan di atmosfer.
Intensitas sinar matahari yang tinggi, misalnya, dapat mendorong pembentukan ozon melalui reaksi kimia di atmosfer. Selain itu, pemanasan permukaan bumi turut memengaruhi pergerakan dan pencampuran udara.
Pada waktu tertentu, kondisi atmosfer dapat membuat polutan lebih mudah terkumpul di dekat permukaan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika konsentrasi emisi meningkat, sementara kondisi pencampuran udara belum cukup efektif untuk menyebarkannya.
Situasi tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa pencemaran udara terkadang lebih terasa pada waktu tertentu, meskipun kondisi cuaca secara umum terlihat cerah. Oleh sebab itu, masyarakat tidak sebaiknya menilai kualitas udara hanya berdasarkan penampilan langit atau suhu udara.
Mengapa Kondisi Pagi Hari Perlu Diwaspadai?
Pagi hari merupakan waktu ketika aktivitas masyarakat mulai meningkat. Kendaraan bermotor kembali memenuhi jalan, sementara banyak warga berangkat bekerja, bersekolah, atau menjalankan kegiatan lainnya.
Menurut penjelasan pakar ITS, peningkatan emisi kendaraan pada pagi hari dapat menjadi persoalan ketika lapisan pencampuran udara masih relatif dangkal. Dalam kondisi tersebut, polutan berpotensi lebih mudah terakumulasi di lapisan atmosfer dekat permukaan.
Dengan demikian, tingginya aktivitas kendaraan yang disertai kondisi atmosfer tertentu dapat berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara pada jam-jam awal aktivitas masyarakat.
Meski demikian, penilaian terhadap kualitas udara tetap harus merujuk pada data pengukuran yang tersedia. Kondisi pada satu stasiun pemantauan tidak serta-merta menggambarkan kualitas udara di seluruh wilayah Surabaya secara seragam. Tingkat pencemaran dapat berbeda berdasarkan lokasi, waktu, sumber emisi, dan keadaan atmosfer.
Karena itu, pemantauan secara berkala menjadi langkah penting untuk mengetahui perkembangan kondisi udara sekaligus memberikan informasi yang dapat digunakan masyarakat dalam merencanakan aktivitas sehari-hari.
Risiko Pencemaran Udara bagi Kesehatan
Kualitas udara yang buruk dapat menimbulkan dampak kesehatan, terutama apabila masyarakat terpapar polutan dalam konsentrasi tinggi atau dalam waktu yang panjang. Dalam jangka pendek, paparan pencemaran udara dapat memicu iritasi, batuk, sesak napas, serta memperburuk kondisi asma pada orang yang telah memiliki gangguan pernapasan.
Sementara itu, paparan polusi yang berlangsung berulang kali dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius, termasuk penyakit jantung, stroke, dan penyakit paru-paru.
Risiko tersebut perlu menjadi perhatian karena tidak semua dampak pencemaran dapat langsung dirasakan. Sebagian orang mungkin tidak mengalami keluhan berarti ketika berada di lingkungan dengan kualitas udara yang menurun, tetapi hal tersebut bukan berarti paparan polutan sepenuhnya aman.
Kelompok yang lebih rentan meliputi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit jantung atau gangguan paru-paru. Kelompok tersebut perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Kombinasi antara udara yang tercemar dan cuaca panas juga dapat menambah beban tubuh. Suhu tinggi dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama bagi orang yang melakukan aktivitas fisik di luar ruangan. Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi udara sekaligus menjaga kecukupan cairan tubuh ketika beraktivitas.
Pakar Tekankan Pentingnya Pengendalian Emisi
Arie menilai upaya memperbaiki kualitas udara membutuhkan kerja sama pemerintah dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat pemantauan serta penyampaian informasi mengenai kualitas udara agar masyarakat dapat mengetahui kondisi lingkungan secara lebih mudah.
Pengendalian juga perlu diarahkan pada sumber pencemar, antara lain melalui pemeriksaan emisi dari sumber yang berpotensi menghasilkan polutan tinggi serta penanganan praktik pembakaran terbuka. Langkah tersebut penting agar upaya penanganan tidak hanya dilakukan setelah kualitas udara memburuk, tetapi juga berfokus pada pencegahan.
Di sisi masyarakat, kebiasaan membakar sampah sebaiknya dihindari. Penggunaan kendaraan juga perlu dilakukan secara bijak, termasuk mempertimbangkan pilihan transportasi yang dapat membantu mengurangi emisi apabila memungkinkan.
Masyarakat disarankan memantau informasi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, khususnya apabila termasuk kelompok rentan atau memiliki riwayat gangguan pernapasan. Ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat, aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak dapat dikurangi sebagai langkah kehati-hatian.
Pemantauan kualitas udara di Surabaya melalui SPKUA Tandes menjadi salah satu sumber informasi untuk mengenali perubahan konsentrasi polutan. Data tersebut dapat membantu pemerintah menentukan langkah pengendalian sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi warga dalam menjaga kesehatan.
Kesimpulan
Kondisi kualitas udara Surabaya yang sempat masuk kategori tidak sehat pada pagi hari menunjukkan pentingnya perhatian terhadap pencemaran di wilayah perkotaan. Peningkatan konsentrasi PM2.5 dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari emisi kendaraan, aktivitas industri, pembakaran terbuka, debu, hingga kondisi meteorologis yang memengaruhi pergerakan polutan.
Penjelasan pakar ITS menegaskan bahwa cuaca panas bukan satu-satunya penyebab persoalan tersebut. Pengendalian sumber emisi, pemantauan kualitas udara secara berkala, dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga udara tetap layak dihirup.
Melalui kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, upaya mengurangi pencemaran udara diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Dengan begitu, kualitas lingkungan perkotaan dapat dijaga sekaligus mengurangi risiko kesehatan bagi warga Surabaya.
You must be logged in to post a comment Login