NortonNews.com – Sugeng Riyanto, ayah dari pelajar SMA di Yogyakarta berinisial IDS (16), menceritakan kondisi terakhir anaknya setelah menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sekelompok pemuda.
Ia mengatakan bahwa IDS sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan luka yang sangat parah saat tiba di rumah sakit. Bahkan, menurutnya, tim dokter yang akan melakukan operasi sempat ragu untuk bertindak karena cedera di bagian kepala korban terlalu serius dan disertai pembengkakan yang cukup berat.
“Lukanya memang sangat parah, sampai dokter pun kesulitan dan akhirnya berat untuk melakukan operasi karena kondisinya benar-benar kritis,” kata Sugeng saat menceritakan kondisi anaknya, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, anaknya tidak pernah sadar sejak mengalami pengeroyokan oleh sekelompok pemuda hingga akhirnya meninggal dunia. Pembengkakan di bagian kepala membuat IDS tetap dalam kondisi tidak sadarkan diri sejak awal hingga akhir hayatnya.
“Bengkak di kepala itu membuat dia tidak sadar sama sekali sampai meninggal, bahkan sebentar pun tidak pernah sadar,” ujarnya.
Dilansir dari Liputan6.com – Usai kejadian tersebut, IDS sempat dibawa ke RS Saras Adyatma, Bantul oleh rekannya untuk mendapat perawatan intensif dan dirawat selama dua hari. Biaya perawatan yang cukup besar, mencapai sekitar Rp10 juta per hari, membuat keluarga kemudian memindahkan korban ke RS PKU Kota Yogyakarta.
Sugeng juga menyampaikan bahwa putranya dinyatakan meninggal pada Minggu (19/4/2026) malam pukul 22.00 WIB dan telah dimakamkan keesokan harinya.
Sebagai orang tua, ia mengaku sangat terpukul dan tidak dapat menerima cara meninggalnya anaknya yang dinilai sangat tragis. Ia menegaskan, meskipun kematian adalah takdir Tuhan, namun kondisi yang dialami anaknya sulit untuk diterima.
Ia pun berharap para pelaku segera ditangkap oleh pihak kepolisian dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya.
Kejadian bermula pada Selasa malam ketika korban dijemput oleh dua orang pemuda menggunakan sepeda motor sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, ayah korban, Sugeng, sudah tertidur sehingga tidak mengetahui anaknya keluar rumah.
Berdasarkan keterangan teman korban yang sempat mengikuti, IDS sebelumnya dibawa ke area belakang SMAN 1 Bambanglipuro oleh sejumlah kakak kelas dan kelompoknya.
Setelah itu, ia kembali dipindahkan oleh dua orang lain menuju Lapangan Gadung Mlati.
Menurut saksi tersebut, setibanya di lokasi, IDS sudah ditunggu sekitar 10 orang. Ia hanya sempat ditanya mengenai keterlibatannya dalam geng sebelum kemudian langsung dikeroyok secara brutal.
Sugeng menyebut, anaknya mengalami kekerasan berat menggunakan selang dan pipa paralon. Selain itu, korban juga diduga disundut rokok hingga mengalami luka serius di tubuhnya.
Tidak hanya itu, penyiksaan disebut terus berlanjut ketika korban sudah tidak berdaya. IDS bahkan sempat dilindas sepeda motor berulang kali.
Salah satu pelaku juga diduga hampir melukai bagian telinga korban, namun berhasil dicegah oleh temannya yang mengikuti kejadian tersebut.
“Waktu sudah pingsan, mereka masih mau memotong telinganya, tapi guntingnya berhasil direbut,” kata Sugeng.
Setelah kejadian itu, IDS segera dibawa ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadar. Namun, kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu malam.
You must be logged in to post a comment Login