koi siapkan prosedur safeguarding atlet lindungi dari kekerasan dan pelecehan
Jakarta, NortonNews– Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, menegaskan tidak ada toleransi terhadap tindakan pelecehan seksual maupun kekerasan fisik yang menimpa atlet. Ia juga menginstruksikan Satuan Tugas Safeguarding Atlet untuk merumuskan standar prosedur perlindungan bagi atlet dan pelatih.
Sebagai mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), Okto mengaku memahami langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus pelecehan dan kekerasan dalam dunia olahraga, sesuai ketentuan yang ditetapkan International Olympic Committee (IOC).
Menurutnya, atlet dan pelatih merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga nasional. Karena itu, perlu disusun standar prosedur yang jelas untuk meminimalisir potensi pelanggaran di lingkungan olahraga. Ia menegaskan bahwa NOC Indonesia tidak akan mentoleransi segala bentuk pelecehan seksual maupun kekerasan terhadap atlet, serta memastikan lingkungan olahraga yang aman dan nyaman.
Okto juga menyoroti pentingnya perlindungan bagi pelatih. Menurutnya, aturan terkait pelecehan dan kekerasan harus disusun secara jelas agar pelatih tidak merasa khawatir dalam menjalankan tugasnya, yang pada akhirnya dapat memengaruhi performa atlet.
Ia menambahkan, langkah pencegahan serupa pernah diterapkannya saat memimpin PB ISSI. Kala itu, ia memaksimalkan peran pelatih, manajer, dan bidang pembinaan prestasi untuk memastikan program pemusatan latihan berjalan dengan baik. Okto juga rutin memantau jalannya program pelatnas serta sesekali turun langsung ke lapangan guna memastikan kondisi pelatihan berlangsung sesuai harapan.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Okto mengingatkan agar kasus-kasus yang belakangan mencuat
tidak menjadi penghambat dalam upaya meningkatkan kualitas pembinaan atlet di berbagai cabang olahraga.
Dilansir dari detikcom- Ia juga menyinggung tantangan dalam membina atlet generasi muda saat ini yang dinilai lebih sensitif terhadap pola aturan dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, proses pembinaan harus tetap mengikuti aturan yang jelas dan disepakati bersama.
Okto menilai disiplin dalam sistem pelatihan seperti yang diterapkan di negara lain, misalnya China dan Korea, perlu menjadi pembelajaran agar proses pembinaan atlet tetap berjalan maksimal tanpa keraguan.
Secara keseluruhan, ia meminta setiap cabang olahraga menerapkan sistem pemantauan yang tegas terhadap proses latihan. Pengawasan tersebut juga perlu melibatkan orang tua, pelatih, manajer, serta pimpinan organisasi olahraga agar semua pihak memahami mekanisme pembinaan yang dijalankan, sehingga proses pelatihan dapat berlangsung secara optimal dan transparan. 🏅
You must be logged in to post a comment Login