JAKARTA, NortonNews.com – Penggunaan headphone yang semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari generasi muda mulai menjadi perhatian para peneliti. Kebiasaan mendengarkan musik, podcast, maupun konten audio selama berjam-jam dinilai berpotensi mengurangi kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut juga dikhawatirkan membuat seseorang semakin sulit menikmati keheningan dan memahami lingkungan di sekitarnya.
Di lansir dari CNN Indonesia – Selasa (20/10/2026), sejumlah pakar menyoroti kebiasaan Generasi Z atau Gen Z yang kerap menggunakan headphone ketika melakukan berbagai aktivitas. Perangkat tersebut memang dapat memberikan hiburan dan membantu seseorang merasa nyaman saat menjalani rutinitas. Namun, penggunaan yang terlalu sering berpotensi membuat pemakainya melewatkan kesempatan membangun hubungan sosial secara langsung.
Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan pilihan hiburan, tetapi juga menyentuh kebiasaan manusia dalam menghadapi rasa bosan, mengelola pikiran, dan menjalin hubungan dengan lingkungan sekitar. Para pakar mengingatkan bahwa interaksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari memiliki nilai penting bagi kesejahteraan seseorang.
Headphone Menjadi Bagian dari Rutinitas Anak Muda
Kebiasaan menggunakan headphone dalam waktu lama tergambar dari pengalaman Atira Gali, perempuan berusia 24 tahun yang tinggal di New York, Amerika Serikat. Ia terbiasa mendengarkan musik atau podcast sejak memulai perjalanan menuju tempat kerja hingga kembali ke rumah.
Gali bahkan mengaku merasa bosan ketika harus mengerjakan pekerjaan sederhana, seperti mencuci piring, tanpa mendengarkan sesuatu melalui headphone. Baginya, musik dan podcast membuat aktivitas rutin terasa lebih menyenangkan dan membantu mengurangi kejenuhan.
Kebiasaan tersebut berlanjut selama perjalanan pergi dan pulang kerja, ketika bekerja di kantor, hingga saat melakukan pekerjaan rumah pada malam hari. Mendengarkan audio seolah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas hariannya.
Pengalaman Gali menggambarkan pola penggunaan perangkat audio yang juga ditemukan pada sebagian anak muda lainnya. Headphone tidak lagi hanya digunakan ketika ingin menikmati musik, tetapi menjadi teman selama melakukan berbagai kegiatan.
Berdasarkan jajak pendapat Edison Research yang dirilis pada Mei 2026, kelompok usia 13 hingga 34 tahun menghabiskan rata-rata sekitar 4,5 jam sehari untuk mendengarkan konten audio. Konten tersebut mencakup musik, podcast, dan berbagai bentuk hiburan berbasis suara.
Sementara itu, data yang disampaikan pihak Spotify menunjukkan bahwa Gen Z menyumbang sekitar 56 persen dari pemutaran musik global di platform tersebut selama periode 1 Januari hingga 25 November 2025.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya peran generasi muda dalam konsumsi musik digital. Meski demikian, tingginya penggunaan headphone tidak otomatis menunjukkan bahwa setiap penggunanya mengalami masalah sosial. Perhatian para pakar lebih ditujukan pada kebiasaan yang berlebihan hingga mengurangi kesempatan berinteraksi dengan orang lain.
Headphone Dikhawatirkan Menjadi Penghalang Interaksi Sosial
Profesor informatika dari University of California, Irvine, Gloria Mark, menjelaskan bahwa headphone dapat digunakan sebagai semacam pembatas dari lingkungan sosial. Dalam sejumlah situasi, seseorang mungkin mengenakan perangkat tersebut hanya karena terbiasa mendengarkan musik, tanpa menyadari bahwa tindakannya juga dapat mengurangi kesempatan untuk berkomunikasi.
Ketika seseorang berjalan di ruang publik dengan headphone terpasang, kesempatan untuk menyapa orang lain atau memulai percakapan ringan bisa menjadi lebih sedikit. Kebiasaan itu dapat membuat seseorang lebih fokus pada konten yang didengarkan dibandingkan dengan situasi di sekitarnya.
Kondisi serupa turut menjadi perhatian Richard Davidson, pendiri sekaligus direktur Center for Healthy Minds di University of Wisconsin–Madison. Ia memperkirakan sekitar 90 persen mahasiswa yang berjalan di lingkungan kampusnya terlihat menggunakan headphone.
Menurut Davidson, situasi tersebut berbeda dibandingkan sekitar satu dekade sebelumnya. Padahal, lingkungan kampus menyediakan kesempatan bagi mahasiswa untuk bertemu orang baru, mengenal latar belakang yang berbeda, serta membangun hubungan di luar lingkaran pertemanan mereka sendiri.
Jika mahasiswa terus-menerus menggunakan headphone ketika berjalan, kesempatan untuk melakukan percakapan spontan dapat berkurang. Padahal, interaksi yang terjadi secara alami sering kali menjadi awal terbentuknya pertemanan dan hubungan sosial baru.
Kebiasaan serupa juga dapat ditemukan di tempat umum seperti kedai kopi. Ketika sedang menunggu pesanan atau mengantre, seseorang cenderung langsung menggunakan ponsel atau mendengarkan audio daripada memperhatikan lingkungan sekitar.
Padahal, menyapa orang lain, tersenyum, atau melakukan percakapan singkat dapat menjadi pengalaman sosial sederhana yang bermanfaat. Kesempatan tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi dapat membantu seseorang merasa terhubung dengan lingkungan sosialnya.
Kesepian Bisa Bertambah Ketika Hubungan Sosial Berkurang
Penggunaan headphone secara terus-menerus juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan meningkatnya rasa kesepian. Para pakar menilai bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu harus dibangun melalui percakapan panjang atau hubungan pertemanan yang dekat.
Interaksi singkat dengan orang yang ditemui sehari-hari juga dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan emosional. Percakapan ringan dengan rekan kerja, sapaan kepada tetangga, atau obrolan singkat dengan orang lain ketika menunggu sesuatu dapat menciptakan perasaan terhubung dengan lingkungan.
Davidson menilai bahwa kesempatan membangun hubungan sederhana tersebut tersedia dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apabila seseorang terus menutup diri dari lingkungan sekitar, kesempatan itu bisa terlewatkan.
Kondisi tersebut bukan berarti penggunaan headphone secara langsung menyebabkan seseorang mengalami kesepian. Rasa kesepian dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kualitas hubungan sosial, keadaan hidup, dan pengalaman pribadi. Akan tetapi, kebiasaan yang mengurangi interaksi langsung dapat menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan.
Karena itu, para pakar mendorong masyarakat untuk lebih menyadari bagaimana perangkat audio digunakan dalam rutinitas. Headphone tetap dapat menjadi sarana hiburan yang bermanfaat, tetapi sebaiknya tidak selalu menjadi penghalang ketika terdapat kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Kebiasaan Menghindari Keheningan Menjadi Perhatian
Selain dampaknya terhadap hubungan sosial, penggunaan headphone dalam waktu lama juga menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan seseorang untuk menikmati keheningan dan menghadapi rasa bosan.
Gloria Mark menilai bahwa sebagian orang semakin terbiasa mengisi setiap waktu luang dengan hiburan digital. Ketika tidak ada kegiatan yang menarik, musik, podcast, atau ponsel dapat langsung digunakan untuk mengalihkan perhatian.
Padahal, waktu tanpa rangsangan dari luar tidak selalu berarti waktu yang terbuang. Keheningan dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memperhatikan pikirannya sendiri, mengevaluasi pengalaman, dan menyadari hal-hal yang sebelumnya terlewatkan.
Kebiasaan terus-menerus mencari hiburan juga dapat membuat seseorang merasa kurang nyaman ketika harus melakukan aktivitas tanpa bantuan audio. Dalam jangka panjang, kondisi ini patut menjadi bahan refleksi mengenai keseimbangan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Davidson menjelaskan pentingnya kemampuan untuk menyadari apa yang sedang dilakukan tanpa terus-menerus terbawa oleh aliran pikiran atau gangguan dari luar. Kemampuan tersebut berkaitan dengan perhatian penuh atau mindfulness, yaitu kesadaran terhadap pengalaman yang sedang berlangsung.
Musik dan aktivitas menggunakan ponsel memang dapat membantu seseorang mengalihkan perhatian dari pikiran yang mengganggu untuk sementara waktu. Namun, menurut Davidson, cara tersebut tidak selalu menyelesaikan persoalan yang mendasari pikiran atau emosi tersebut.
Ketika musik berhenti atau aktivitas pengalih perhatian berakhir, pikiran yang sebelumnya dihindari dapat kembali muncul. Karena itu, seseorang juga perlu belajar menghadapi waktu hening dan mengenali pikirannya sendiri tanpa selalu bergantung pada hiburan digital.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2010 menemukan bahwa orang dewasa menghabiskan sekitar 47 persen waktu terjaga mereka dengan pikiran yang tidak berfokus pada aktivitas yang sedang dilakukan. Davidson menilai kemampuan untuk mempertahankan perhatian menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam kehidupan modern.
Eksperimen Berjalan Tanpa Headphone
Kekhawatiran mengenai kebiasaan mendengarkan audio juga dirasakan oleh Gali. Meskipun menikmati musik ketika bekerja atau melakukan pekerjaan rumah, ia mulai mempertanyakan apakah kebiasaan tersebut membuatnya semakin sulit menjalani aktivitas tanpa hiburan suara.
Gali kemudian mencoba melakukan eksperimen sederhana dengan tidak mendengarkan musik selama perjalanan menuju tempat kerja. Ia ingin mengetahui apakah berjalan tanpa headphone dapat membuatnya lebih sadar terhadap lingkungan dan lebih hadir dalam aktivitas sehari-hari.
Hasil yang dirasakannya cukup menarik. Setelah dua hari menjalani eksperimen tersebut, Gali menyadari adanya empat papan petunjuk toko baru di lingkungan yang setiap hari dilewatinya.
Sebelumnya, ia tidak menyadari keberadaan papan-papan tersebut meskipun menggunakan rute perjalanan yang sama secara rutin. Ia menduga penggunaan headphone membuat perhatiannya lebih terarah pada perjalanan dan audio yang didengarkan, sehingga beberapa detail di sekitarnya terlewatkan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan headphone pada situasi tertentu dapat menjadi cara sederhana untuk meningkatkan perhatian terhadap lingkungan. Meski hanya merupakan pengalaman pribadi, percobaan tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana perubahan kebiasaan dapat membantu seseorang lebih menyadari aktivitas sehari-hari.
Menggunakan Teknologi secara Lebih Seimbang
Peringatan para pakar bukan berarti masyarakat harus sepenuhnya berhenti menggunakan headphone. Perangkat tersebut tetap memiliki manfaat untuk menikmati hiburan, mendengarkan materi pembelajaran, maupun membantu menjaga kenyamanan dalam situasi tertentu.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mengatur penggunaannya agar tidak terus-menerus menghalangi interaksi sosial dan kesadaran terhadap lingkungan. Sesekali berjalan tanpa mendengarkan musik, menunggu tanpa langsung membuka ponsel, atau menyempatkan diri berbicara dengan orang sekitar dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan yang lebih seimbang.
Bagi mahasiswa dan pekerja muda, kesempatan untuk membangun hubungan sosial dapat muncul dalam aktivitas yang tampak biasa, seperti berjalan menuju kampus, makan bersama teman, atau menunggu kendaraan umum. Dengan memberikan perhatian pada lingkungan, seseorang dapat lebih terbuka terhadap percakapan dan pengalaman baru.
Pada akhirnya, headphone bukanlah penyebab tunggal kesepian. Namun, kebiasaan menggunakannya secara berlebihan dapat mengurangi kesempatan untuk berinteraksi dan menikmati keheningan. Menemukan keseimbangan antara hiburan digital dan hubungan langsung dengan manusia menjadi hal penting agar teknologi tetap mendukung kehidupan, bukan justru membatasi pengalaman sosial.
You must be logged in to post a comment Login