Nasional

Kabut Asap Tebal Hambat Operasi Dry Ice di Palembang, Pesawat Belum Bisa Terbang

PALEMBANG, NortonNews.com – Upaya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palembang menghadapi kendala. Rencana penyemaian dry ice atau es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilaksanakan sesuai rencana karena kondisi kabut asap yang kembali menebal dan mengganggu jarak pandang penerbangan.

Dilansir dari CNN Indonesia, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meninjau kesiapan pelaksanaan operasi penyemaian dry ice di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang, Palembang, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Peninjauan tersebut dilakukan ketika kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di kota itu setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan.

Herman Deru mengatakan kondisi kabut asap pada pagi tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Padahal, selama beberapa hari sebelumnya, kondisi asap sempat menunjukkan perbaikan. Kembalinya kabut asap dengan intensitas tinggi membuat pemerintah perlu mengevaluasi situasi dan menyiapkan langkah lanjutan untuk mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.

Di lokasi peninjauan, pemerintah telah menyiapkan sebanyak 4,7 ton dry ice yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Material tersebut direncanakan digunakan dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi kondisi atmosfer yang menyebabkan asap bertahan di dekat permukaan.

Namun, persiapan tersebut belum dapat dilanjutkan ke tahap penerbangan. Kabut asap yang terlalu tebal membuat jarak pandang di sekitar pangkalan udara tidak memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan. Pesawat pun belum dapat lepas landas untuk melaksanakan penyemaian material tersebut.

Herman menjelaskan bahwa pelaksanaan penerbangan harus mengikuti ketentuan keselamatan yang telah ditetapkan. Meskipun pemerintah ingin segera menangani kabut asap, kondisi jarak pandang tetap menjadi pertimbangan utama sebelum operasi udara dijalankan.

Situasi ini memperlihatkan bahwa penanganan kabut asap tidak hanya bergantung pada kesiapan peralatan dan ketersediaan bahan penyemaian. Faktor cuaca, kondisi atmosfer, serta keamanan penerbangan juga menentukan apakah operasi modifikasi cuaca dapat dilaksanakan.

Kelembapan Tinggi Memperburuk Kondisi Kabut

Kabut yang menyelimuti Palembang pada Kamis pagi tidak hanya disebabkan oleh partikel asap dari kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh uap air akibat tingginya kelembapan udara.

Perpaduan antara asap karhutla dan uap air membuat udara terlihat semakin pekat. Kondisi tersebut dapat memperburuk jarak pandang, terutama pada pagi hari ketika proses pengembunan turut memengaruhi keadaan atmosfer.

Kabut asap yang tebal menjadi persoalan penting bagi aktivitas masyarakat maupun transportasi udara. Ketika jarak pandang menurun, aktivitas penerbangan dapat mengalami hambatan karena pilot membutuhkan kondisi visual yang memenuhi standar keselamatan untuk melakukan penerbangan dan pendaratan.

Kondisi atmosfer yang berubah-ubah juga membuat upaya penanganan kabut asap membutuhkan pemantauan secara berkelanjutan. Ketika asap sempat berkurang, bukan berarti masalah telah sepenuhnya selesai. Apabila sumber asap masih ada dan kondisi cuaca mendukung terbentuknya kabut, jarak pandang dapat kembali menurun.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebelum melanjutkan operasi penyemaian. Selain kesiapan pesawat dan material, kondisi atmosfer serta informasi dari lembaga meteorologi menjadi bagian penting dalam menentukan waktu pelaksanaan.

Gubernur Pimpin Koordinasi Penanganan Karhutla

Setelah meninjau kesiapan operasi di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Herman Deru melanjutkan agenda dengan memimpin rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumatera Selatan.

Rapat tersebut berlangsung di Ruang VIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Pertemuan itu melibatkan sejumlah pejabat dan unsur terkait untuk membahas perkembangan karhutla serta langkah yang perlu dilakukan dalam menghadapi kabut asap yang kembali mengganggu wilayah Palembang.

Sejumlah pejabat yang hadir di antaranya Komandan Korem 044/Garuda Dempo Brigadir Jenderal TNI Khabib Mahfud, Kapolda Sumatera Selatan Inspektur Jenderal Polisi Rony Samtana, serta Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan. Pejabat terkait lainnya juga mengikuti pembahasan tersebut.

Koordinasi lintas instansi diperlukan karena penanganan karhutla memiliki cakupan yang luas. Persoalan ini tidak hanya berhubungan dengan upaya mengurangi asap yang menyelimuti perkotaan, tetapi juga berkaitan dengan pemadaman kebakaran di wilayah sumber api.

Melalui pertemuan tersebut, pemerintah daerah bersama unsur terkait membahas langkah penanganan lanjutan. Koordinasi diharapkan dapat membantu menyelaraskan tindakan di lapangan, termasuk pemantauan kondisi atmosfer, pelaksanaan operasi udara, serta penanganan kebakaran di daerah yang masih memiliki banyak titik panas.

Penanganan secara terpadu menjadi penting agar upaya mengurangi dampak kabut asap dapat berjalan seiring dengan tindakan untuk mengendalikan kebakaran yang menjadi sumber pencemaran udara.

Ribuan Titik Panas Masih Terdeteksi di Sumatera Selatan

Persoalan karhutla di Sumatera Selatan masih menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla atau Sipongi dari Kementerian Kehutanan pada 22 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB, tercatat sebanyak 1.832 titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera Selatan.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 1.007 titik. Sebagian besar titik panas di wilayah tersebut berada di kawasan lahan gambut.

Data tersebut menunjukkan bahwa sumber kebakaran masih perlu mendapat perhatian serius. Banyaknya titik panas menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk memantau potensi kebakaran, meskipun keberadaan titik panas tidak selalu berarti seluruhnya merupakan kebakaran aktif yang telah terkonfirmasi.

Lahan gambut menjadi salah satu kawasan yang memerlukan penanganan khusus ketika terjadi kebakaran. Api pada lahan jenis ini dapat menjalar di bawah permukaan dan lebih sulit dipadamkan apabila kondisi lingkungan mendukung penyebaran api. Karena itu, upaya pemantauan dan pemadaman perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Asap dari wilayah yang mengalami karhutla dapat terbawa angin menuju daerah lain, termasuk Palembang. Selama kebakaran belum terkendali, masyarakat masih berpotensi terdampak oleh penurunan kualitas udara dan berkurangnya jarak pandang.

Situasi ini membuat penanganan di wilayah sumber kebakaran menjadi bagian penting dari upaya mengatasi kabut asap di perkotaan. Penggunaan teknologi modifikasi cuaca dapat membantu menangani dampak atmosfer dalam kondisi tertentu, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk memadamkan api.

Dry Ice Menjadi Salah Satu Upaya Mengurangi Dampak Asap

Penyemaian dry ice merupakan salah satu metode yang digunakan dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengubah kondisi atmosfer. Material tersebut berupa karbon dioksida dalam bentuk padat yang digunakan dalam proses penyemaian sesuai prosedur teknis yang telah ditentukan.

Dalam penanganan kabut asap di Sumatera Selatan, operasi ini diarahkan untuk membantu mengatasi kondisi atmosfer yang membuat asap terperangkap di dekat permukaan. Ketika kondisi tersebut dapat berubah, asap diharapkan tidak terus menumpuk pada lapisan udara dekat permukaan.

Meskipun demikian, hasil operasi dipengaruhi oleh keadaan atmosfer pada saat pelaksanaan. Karena itu, penyemaian perlu mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan. Dalam situasi ketika jarak pandang terlalu terbatas, operasi udara tidak dapat dipaksakan.

Ketersediaan 4,7 ton dry ice di Lanud Sri Mulyono Herlambang menunjukkan bahwa persiapan material telah dilakukan. Namun, kesiapan bahan saja belum cukup untuk memastikan operasi dapat berlangsung. Pesawat tetap harus menunggu kondisi yang memungkinkan penerbangan dilakukan sesuai standar keselamatan.

Pemerintah juga perlu menjalankan langkah lain untuk menangani karhutla, terutama melalui pengendalian kebakaran di wilayah yang masih memiliki titik panas. Dengan demikian, penanganan kabut asap tidak hanya berfokus pada kondisi udara di Palembang, tetapi juga memperhatikan penyebab utama munculnya asap.

Penanganan Berkelanjutan Dibutuhkan untuk Melindungi Masyarakat

Kabut asap yang kembali menebal menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla membutuhkan upaya yang konsisten. Perubahan kondisi udara dalam beberapa hari tidak selalu menunjukkan bahwa persoalan telah berakhir. Selama kebakaran masih berlangsung, asap dapat kembali terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah sekitarnya.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu terus memantau perkembangan titik panas, kondisi cuaca, serta kualitas udara. Informasi tersebut penting untuk menentukan langkah yang tepat dan mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan oleh kabut asap.

Masyarakat juga perlu memperhatikan informasi resmi mengenai kondisi udara dan imbauan dari pemerintah. Ketika kabut asap memburuk, warga sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan jika memungkinkan dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di lingkungan berasap. Kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan perlu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi udara.

Di sisi lain, pencegahan kebakaran dan penanganan titik api harus tetap menjadi prioritas. Operasi modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu langkah pendukung, tetapi pengendalian sumber kebakaran diperlukan agar asap tidak terus dihasilkan dan menyebar ke kawasan permukiman.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mengupayakan penanganan melalui koordinasi lintas instansi serta persiapan operasi penyemaian dry ice. Namun, pelaksanaannya harus menyesuaikan keadaan cuaca dan ketentuan keselamatan penerbangan.

Dengan masih terdeteksinya ribuan titik panas, terutama di Kabupaten Ogan Komering Ilir, penanganan karhutla di Sumatera Selatan masih membutuhkan perhatian serius. Pemerintah diharapkan dapat melanjutkan upaya pengendalian kebakaran sekaligus mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat dan aktivitas penerbangan di Palembang.

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

You May Also Like

Nasional

Jakarta,Norton News- Dwi (40), seorang pengemudi ojek online, tampak pasrah saat mengungkapkan keluhannya soal potongan aplikasi yang kian mencekik. Dengan program baru berbayar per...

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...

Copyright © 2022 - 2024 Norton News. All Rights Reserved.

Exit mobile version