Banda Aceh, NORTON NEWS — Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Aceh akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan serta wilayah tengah dan selatan Pulau Sumatera. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut asap tersebut terbawa pergerakan angin hingga mencapai Aceh.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Cucu Kusmayancu, menjelaskan bahwa kabut asap yang terpantau di Aceh secara umum merupakan asap kiriman dari daerah lain. Sementara itu, titik panas yang terdeteksi di wilayah Aceh masih relatif terbatas.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kabut asap dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu aktivitas masyarakat. BMKG mengimbau warga agar mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap semakin pekat serta terus mengikuti informasi cuaca dan kualitas udara terbaru.
BMKG Pantau Titik Panas di Wilayah Aceh
Berdasarkan pemantauan BMKG, terdapat tiga titik panas berkategori sedang di kawasan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Citra satelit belum menunjukkan adanya titik panas berkategori tinggi di wilayah Aceh dalam pemantauan yang dilaporkan.
Meski demikian, BMKG tidak menutup kemungkinan adanya kebakaran berskala kecil yang belum terdeteksi sebagai titik panas melalui pemantauan satelit. Oleh sebab itu, masyarakat dan pemerintah daerah tetap diminta waspada terhadap potensi kebakaran lahan di lingkungan masing-masing.
Asap dari kebakaran di wilayah lain dapat terbawa angin dan menyebar ke daerah yang cukup jauh dari sumber kebakaran. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak selalu terbatas pada wilayah tempat api pertama kali muncul.
Jarak Pandang di Sejumlah Bandara Aceh Menurun
Kabut asap juga memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah Aceh. Berdasarkan data yang disampaikan BMKG pada Jumat, 16 Oktober 2026, jarak pandang di beberapa bandara tercatat berada di bawah kondisi normal.
Berikut data jarak pandang yang dilaporkan:
- Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh: 3.500 meter.
- Bandara Malikussaleh, Aceh Utara: 2.000 meter.
- Bandara Maimun Saleh, Sabang: 3.000 meter.
- Bandara Cut Nyak Dhien, Nagan Raya: 5.000 meter.
- Bandara Blangkejeren, Gayo Lues: 1.000 meter.
BMKG menjelaskan bahwa jarak pandang dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan pergerakan asap. Pada kondisi normal, jarak pandang di wilayah tersebut umumnya dapat mencapai lebih dari 10 kilometer.
Meski jarak pandang di sejumlah lokasi mengalami penurunan, pengelola Bandara Sultan Iskandar Muda menyatakan operasional bandara masih berjalan lancar dan belum terdampak kabut asap kiriman dalam laporan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Kabut Asap Meluas ke Sejumlah Wilayah Indonesia
Kabut asap akibat karhutla tidak hanya terpantau di Aceh. BMKG juga mendeteksi sebaran asap di berbagai wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Maluku, dan Papua.
Pada 16 Oktober 2026, BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia. Sumatera Selatan menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 189 titik.
Kualitas udara di sejumlah daerah juga menjadi perhatian. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 11.00 WIB, konsentrasi PM2,5 di Pangkalan Bun tercatat mencapai 374,8 mikrogram per meter kubik, sedangkan di Palangka Raya mencapai 342,8 mikrogram per meter kubik. Kedua lokasi tersebut masuk kategori kualitas udara berbahaya berdasarkan data yang dilaporkan.
Sebaran asap bahkan terpantau bergerak melintasi batas negara menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura. Pergerakan ini dipengaruhi oleh sumber kebakaran, kondisi cuaca, serta arah dan kecepatan angin.
BMKG Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Dilansir dari CNN Indonesia – Untuk mengurangi risiko paparan kabut asap, BMKG mengimbau masyarakat Aceh agar membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker yang sesuai.
Masyarakat juga diminta tidak membakar lahan atau sampah secara terbuka karena dapat menambah sumber asap dan meningkatkan risiko kebakaran. Pemerintah daerah diharapkan berkoordinasi dengan BPBD, TNI, dan Polri untuk mengantisipasi potensi kebakaran serta menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat.
Kabut asap merupakan persoalan lintas wilayah yang memerlukan penanganan bersama. Selain upaya pemadaman di lokasi sumber kebakaran, pencegahan pembakaran lahan dan pemantauan kualitas udara menjadi langkah penting untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat.
BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca bersifat dinamis. Masyarakat diimbau tetap tenang dan memantau pembaruan resmi dari BMKG serta instansi terkait untuk memperoleh informasi terbaru mengenai sebaran asap dan kondisi udara di wilayah masing-masing.
You must be logged in to post a comment Login