NORTON NEWS – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Asia Tenggara semakin meluas hingga berdampak pada sejumlah negara tetangga Indonesia. Kondisi kualitas udara yang memburuk mendorong pemerintah Timor-Leste menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar secara tatap muka selama tiga hari.
Kebijakan tersebut berlaku mulai 15 hingga 17 Oktober 2026. Pemerintah Timor-Leste mengambil langkah ini sebagai upaya melindungi kesehatan siswa, guru, dan seluruh komunitas pendidikan dari paparan partikel polutan yang terbawa asap kebakaran di wilayah regional.
Dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Kamis (15/10/2026), penyebaran kabut asap lintas negara menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah Indonesia, tetapi juga memengaruhi kualitas udara di sejumlah negara Asia Tenggara.
Sekolah di Timor-Leste Beralih ke Pembelajaran dari Rumah
Pemerintah Timor-Leste melalui kementerian terkait memutuskan untuk menangguhkan pembelajaran tatap muka di seluruh wilayah negara tersebut selama tiga hari. Selama masa penghentian sementara, sekolah diminta memastikan siswa tetap memperoleh tugas agar kegiatan belajar dapat dilanjutkan dari rumah.
Kebijakan itu diambil setelah pemantauan meteorologi menunjukkan penurunan kualitas udara akibat partikel pencemar yang terbawa dari kebakaran di kawasan atau negara tetangga. Pemerintah menilai langkah pencegahan diperlukan untuk mengurangi risiko kesehatan, khususnya bagi anak-anak dan remaja.
Sebelumnya, Direktorat Nasional Meteorologi dan Geofisika Timor-Leste menyampaikan bahwa kabut asap telah menyelimuti sejumlah wilayah negara tersebut. Pergerakan angin pada musim kemarau turut membawa partikel asap melintasi kawasan regional.
Kualitas Udara Singapura Memburuk
Dampak kabut asap juga dirasakan di Singapura. Pada Rabu (14/10/2026), konsentrasi partikel halus PM2.5 di wilayah barat Singapura mencapai 284 mikrogram per meter kubik dalam pengukuran satu jam, menurut laporan Reuters. Angka tersebut masuk kategori “sangat tinggi” dalam sistem pemantauan kualitas udara setempat.
PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki masalah pernapasan.
Selain Singapura dan Timor-Leste, kabut asap juga dilaporkan memengaruhi sejumlah wilayah Malaysia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan dampak lingkungan yang melampaui batas negara.
Kebakaran Hutan dan Lahan Masih Menjadi Tantangan
Dilansir dari Kompas.com – Indonesia masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera dan Kalimantan. Cuaca kering yang diperburuk oleh fenomena El Niño meningkatkan risiko kebakaran dan menyulitkan proses pemadaman, khususnya pada lahan gambut yang dapat terus membara di bawah permukaan.
Pemerintah Indonesia telah meningkatkan pengerahan personel untuk menangani kebakaran. Namun, upaya pemadaman masih menghadapi berbagai kendala, termasuk titik api yang sulit dijangkau dan kondisi lahan yang memungkinkan api kembali muncul.
Meluasnya kabut asap menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla membutuhkan langkah berkelanjutan, mulai dari pemadaman dan pencegahan kebakaran hingga pemantauan kualitas udara serta perlindungan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, penutupan sekolah di Timor-Leste menjadi salah satu dampak nyata dari pencemaran udara lintas negara. Kerja sama regional dan pengendalian kebakaran dinilai penting untuk mengurangi risiko kabut asap berulang di Asia Tenggara.
You must be logged in to post a comment Login