JAKARTA, NortonNews — Jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus angka 32 juta. Pertumbuhan ini menjadi sinyal meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi, khususnya dari kalangan generasi muda. Namun, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan bahwa peningkatan jumlah investor harus diiringi dengan literasi keuangan dan kewaspadaan terhadap penipuan digital.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Ring the Bell for Financial Literacy 2026 yang berlangsung di Main Hall BEI, Jakarta, pada Rabu (14/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai investasi sekaligus mendorong perilaku berinvestasi yang lebih aman dan bertanggung jawab.
Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum BEI, Umi Kulsum, menekankan bahwa pertumbuhan investor tidak cukup hanya dilihat dari jumlahnya. Masyarakat juga perlu memahami manfaat, risiko, serta cara melindungi diri ketika melakukan transaksi investasi melalui platform digital.
BEI mendorong terbentuknya tiga karakter utama investor, yaitu cerdas, waspada, dan tangguh. Investor yang cerdas diharapkan memahami produk investasi beserta risikonya. Investor yang waspada perlu memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil keputusan, sedangkan investor yang tangguh harus mampu menjaga kedisiplinan dan tidak bertindak impulsif ketika pasar mengalami fluktuasi.
Generasi Muda Mendominasi Investor Pasar Modal
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, jumlah investor pasar modal telah melampaui 32 juta Single Investor Identification (SID) hingga 8 Oktober 2026.
Sementara itu, data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir September 2026 menunjukkan bahwa 53,41 persen investor individu berusia 30 tahun ke bawah. Angka ini menggambarkan besarnya keterlibatan generasi muda dalam aktivitas investasi di Indonesia.
Kemudahan teknologi digital menjadi salah satu faktor yang membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal dan berpartisipasi di pasar modal. Meski demikian, kemudahan tersebut juga perlu diimbangi dengan kemampuan mengenali informasi palsu, tawaran investasi ilegal, serta berbagai modus penipuan yang memanfaatkan kepercayaan calon investor.
BEI Tekankan Pentingnya Keamanan Data dan Literasi
Dilansir dari Suara.com – Dalam menghadapi risiko tersebut, calon investor maupun investor aktif perlu memastikan legalitas pihak yang menawarkan produk investasi. Informasi yang menjanjikan keuntungan tinggi tanpa risiko patut diperiksa secara kritis sebelum seseorang menyerahkan uang atau data pribadinya.
Investor juga perlu menjaga kerahasiaan informasi akun, tidak sembarangan membagikan kode verifikasi, serta menggunakan saluran resmi untuk memperoleh informasi dan melakukan transaksi.
Selain menghindari penipuan, investor diharapkan tidak mengambil keputusan hanya karena mengikuti tren atau terpengaruh kepanikan saat pasar bergerak. Pemahaman terhadap risiko dan perencanaan keuangan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing menjadi bagian penting dari proses investasi.
Melalui penguatan literasi keuangan dan edukasi berkelanjutan, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong terciptanya investor yang lebih memahami risiko, mampu memverifikasi informasi, dan mengambil keputusan secara rasional. Dengan demikian, pertumbuhan jumlah investor diharapkan turut disertai peningkatan kualitas partisipasi masyarakat di pasar modal.
You must be logged in to post a comment Login