Ilustrasi makan makanan manis saat depresi. Foto: Shutterstock
Jakarta, Norton News – Dilansir dari Kumparan.com, konsumsi makanan manis sering dikaitkan dengan risiko meningkatnya berbagai penyakit berbahaya, seperti obesitas, diabetes, dan—menurut penelitian terbaru—gangguan kesehatan mental.
Sebuah riset yang diterbitkan di Journal of Translational Medicine pada Oktober 2024 menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi makanan manis secara berlebihan memiliki risiko lebih tinggi terkena depresi dibandingkan dengan yang mengonsumsi sedikit makanan manis.
Penelitian ini melibatkan 182.000 responden yang terbagi dalam tiga kelompok: mereka yang peduli kesehatan (mengutamakan buah dan sayur), kelompok omnivora (menyukai daging, ikan, dan makanan manis), dan kelompok yang sangat menyukai makanan manis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok peduli kesehatan memiliki risiko 14% lebih rendah mengalami gagal jantung dan 31% lebih rendah terkena penyakit ginjal kronis dibandingkan kelompok lainnya. Sementara itu, kelompok yang sangat menyukai makanan manis memiliki risiko depresi 27% lebih tinggi, stroke 22% lebih besar, dan diabetes 15% lebih tinggi.
Namun, penelitian ini tidak dapat memastikan apakah konsumsi gula langsung menyebabkan depresi. “Kami hanya menemukan hubungan antara konsumsi gula dan depresi, bukan penyebabnya,” ungkap Nophar Geifman, PhD, dari University of Surrey.
Penelitian lain turut mendukung temuan ini. Sebuah studi di BMC Psychiatry pada Februari 2024 menunjukkan bahwa asupan gula yang tinggi berdampak langsung pada mekanisme otak, memengaruhi tingkat depresi. Gail Saltz, MD, dari Weill-Cornell Medical School, menambahkan bahwa gula dapat meningkatkan peradangan, mengganggu keseimbangan bakteri usus, dan memicu produksi hormon stres kortisol, yang semuanya berkontribusi pada risiko depresi.
Pedoman Kementerian Kesehatan Indonesia merekomendasikan asupan gula harian maksimum sebesar 50 gram atau sekitar empat sendok makan. Namun, kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering mengonsumsi makanan dan minuman manis, seperti teh manis, martabak, atau es krim, kerap membuat batas ini sulit dipatuhi.
Studi juga menunjukkan bahwa setiap tambahan delapan sendok makan gula meningkatkan risiko depresi, meskipun konsumsi gula sekali waktu tidak langsung menyebabkan depresi.
Untuk mencegah risiko penyakit, penting untuk menjaga asupan gula tetap dalam batas wajar dan memperhatikan pola makan secara keseluruhan.
You must be logged in to post a comment Login